Politik Transaksional dan Politisi Identitas

Politik Transaksional dan Politisi Identitas
©Alinea

Politik Transaksional dan Politisi Identitas

Prinsip tertinggi manusia untuk mewujudkan dirinya sebagai ciptaan yang mulia adalah menguasai panggung. Panggung, dalam hal ini berarti tempat yang mudah menjangkau keseluruhan ciptaan dan juga sebagai tempat setiap orang mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya.

Konkritisasi menjangkau dapat dialami oleh mereka yang menamakan diri sebagai manusia-manusia revolusioner, entah apa yang mau direvolusi tetapi bahwa yang pasti adalah ‘perlunya keuntungan’. Menimbang hal tersebut, maka perubahanlah yang mungkin menentukan kompas manusia Indonesia, seperti apa perubahan itu mestinya sangat diperlukan.

Setelah ditemukan, bahwa perubahan itu adalah riil namun sejauh berhubungan dengan sesuatu yang ada, maksudnya bahwa tidak ada perubahan sebagai perubahan selain sesuatu yang berubah, maka siapakah yang akan diuntungkan?

Pengkerdilan jargon politik dalam transaksional merujuk pada sembako model seperti ini atau model seperti itu adalah made in partai atau pribadi tertentu. Dan secara langsung mengartikan kompleksitas keberadaan kepemimpinan di bumi Indonesia masih berada dalam krisis identitas.

Transaksi sebagai Wujud Identitas

Menjelang pesta demokrasi dalam beberapa dimensi ruang dan waktu saat ini, terdapat suatu ironi pada tubuh integritas pemimpin. Identitas setiap pribadi senantiasa menjadi produk untuk menuai kelayakan konsumen demi tercapaianya kriteria-kriteria kepemimpinan.

Penjangkauan ini merujuk pada kegagalan hakikat demokrasi yang merupakan nadi manusia Indonesia, yang makin menggila dengan tawaran transaksi yang beraneka ragam.

Secara etimologis, kata identitas berasal dari kata identity berarti ciri-ciri, tanda-tanda, atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Pembedaan pada pengertian tersebut yang dalam konsumsi pemimpin merujuk pada pengertian yang ambigu; memiliki produk atau memaknai konsumen. Problem ini mengartikan bahwa sesungguhnya identitas itu hanya dikenankan pada mereka yang telah mati.

Lantas siapakah pemilik sah Repubik ini? Pada prinsip-prinsip ada, ada adalah dasar segala realitas, dasar dalam mengenal, dasar dalam berpikir dan bahasa, namun hal itu kurang disadari. Kurangnya kesadaran ini, adanya ada itu hanya diakui secara implisit dalam aktivitas berpikir dan aktivitas mengenal. Kongkritnya realitas adalah milik mereka yang berkuasa atas status atau jabatan tertentu.

Baca juga:

Kegagalan persepsi tentang ada, mengakibatkan penelantaran hak-hak asasi manusia Indonesia, keterlibatan manusia Indonesia menghadirkan sosok pemimpin masih berada dalam taraf untug-rugi. Keniscayaan transaksi sebagai wujud identitas politisi adalah riil yang tidak bisa terbantahkan. Identitas disamakan dengan kepemilikan individu. Punya uang berarti memiliki massa dan kuasa. Untuk itu, sangat disayangkan bila pemberian sembako sebagai model integritas pemimpin.

Ada sebagai Realitas

Pada aktus mengenal, ada juga merupakan yang paling dasariah. Yang dikenal pertama-tama oleh budi adalah esse, ada sesuatu. Sesudah mengenal bahwa sesuatu ada barulah manusia mengatakan ada sesuatu; sebagai ini dan sebagai itu. Karena hal tersebut maka, ada sembako ada pula pabriknya. Pabriknya tidak lain adalah para pemimpin.

Keberlangsungan kepemimpinan tidak menghilangkan identitasnya bila sikap transaksional dijadikan model pemberdayaan semata. Keontektikan manusia merujuk pada caranya berada; memaknai kehadirannya, sehingga sembako mestinya dimaknai dengan pemaknaan yang lebih jauh dan dalam demi kebaikan bersama.

Pemberdayaan melalui sembako hanya sebatas pada jenjang waktu kepemimpinan, sebagaimana mendapat posisi yang berbeda. Dipihak lain menguntungkan dan lain pihak merugikan. Maka, para pemimpin adalah orang-orang yang telah mati nilai kemanusiaannya, bila menyandingkan martabat manusia Indonesia dengan aspek numerik. Segala objek yang diberikan dalam pengalaman merupkan subjek perubahan. Perubahan adalah kenyataan universal di dunia material.

Akan tetapi kita tidak mempunyai pengalaman tentang perubahan murni. Kita tidak mempunyai pengalaman mengenai perubahan sebagai perubahan atau perubahan itu sendiri tanpa suatu subjek. Pengelaman kita tentang perubahan adalah selalu suatu pengalaman yang konkret tentang sesuatu yang berubah dan ada sesuatu yang tinggal, yang tinggal ini perlu dimaknai secara tegas dalam keberlangsunag hidup hingga tidak berani menerima realitas tanpa segala konsekuensinya.

Memaknai Realitas

Konsep ada tidak serta-merta dipahami secara gampang, pemahaman akan ada perlu diartikan sesuai kehadiran segala yang berada, ialah menilik pada sebab yang paling tertinggi tidak lain ialah Tuhan. Karena sebab yang teringgi ini, maka Tuhan dikatakan sebagai penggerak utama atau motor primus.

Di luar dari motor primus yang terdapat ialah keutamaan instrumental. Perlunya pemaknaan terhadap keutamaan instrumental ini sebagai suatu yang terberikan sehingga tidak ada penerimaan yang sia-sia melainkan harus terus diusahakan.

Ada sebagai realitas mau mendorong manusia Indonesia untuk berani menjadi manusia-manusia yang otentik dalam memaknai identitasnya. Soal keuntungan merupakan salah satu dari prinsip ada. Perubahan yang diciptakan pemimpin adalah juga titik soal keberlangsungan manusia Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, pemenuhan dari transaksi politik merupakan kegagalan berpikir yang selalu menyepelekan soal tentang ada.

Baca juga:

Ada pada transaksional harus dipahami secara keberlanjutan, maksudnya keberlanjutan setiap individu, generasi dan lebih luas lagi ialah pada keberadaan setiap manusia Indonesia. Untuk itu, memaknai keberadaan sebagai pribadi yang berbudi luhur mestinya lebih unggul dari pada memaknai suatu pemberian tanpa keberlimpahan.

Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)