Populisme Keagamaan

Populisme Keagamaan
©Berlin Policy Journal

Populisme keagamaan memiliki persamaan dengan populisme jenis lain dalam hal pandangan dunia yang melulu deklinis daripada progresif.

Tahun 2019 menyaksikan salah satu agenda demokrasi yang bersifat berkala, yaitu elektoral. Namun, tidak cuma itu, tahun ini juga menjadi saksi bisu akan pertarungan politik yang betul-betul panas dan membelah masyarakat menjadi dua kubu yang sangat amat berseberangan.

Jika dirunut ke belakang, insiden ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ada rentetan momen yang berlangsung bahkan sebelum hal ini terjadi. Kasus penintaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur Jakarta, Ahok, konon dianggap salah satu hal yang menjadi naiknya rentetan peristiwa yang terus berlangsung hingga Pemilu 2019 ini. Dalam rangka mendapatkan suara, kedua kubu sama-sama memainkan isu-isu populis.

Jokowi dianggap sebagai sosok yang merakyat, gemar blusukan, dan wajah pribumi. Sedangkan Prabowo dipercaya sebagai sosok penyelamat bangsa dari krisis yang terjadi akibat kekuasaan negara yang lalim. Juga isu-isu politik identitas. Jokowi dianggap sebagai orang saleh, sedangkan Prabowo dianggap layaknya semacam avatara ilahi yang turun ke bumi untuk menyelamatkan bangsa.

Kata-kata pribumi, ndeso, dan sebagainya turut memperkuat isu-isu politik identitas yang dimainkan. Lebih lanjut, kedua belah pihak memainkan isu-isu keagamaan, yang satu memilih wakilnya dari kalangan ulama, yang satu berkolaborasi dengan ormas-ormas muslim lainnya. Yang satu merangkul kalangan nahdliyin, yang satu merangkul kalangan “ketetapan ulama 212”. Sederhanaya, keduanya sama-sama memainkan isu-isu populisme, politik identitas, dan juga, lebih jelas, populisme keagamaan dan identitas keagamaan.

Dampak di masyarakat luas, memilih salah satu paslon layaknya menentukan nasib keimanan orang. Tidak pilih paslon ini, artinya masuk neraka. Pilih paslon itu, jaminan dapat surga. Demo turun ke jalan untuk menuntut ganti presiden dianggap sebagai perjuangan suci yang boleh dikata setara dengan jihad. Corong-corong masjid menjadi ajang kampanye. Pendukung paslon tertentu enggan untuk disalati saat meninggal, dan seterusnya.

Masalah muncul saat pemilu selesai. Kubu opisisi tiba-tiba banting setir, merapat ke petahana. Yang satu kepala pemerintah, yang satu jadi menteri. Partai yang dulunya oposisi, sekarang dapat jatah kue milih petahana. Petahana yang dulu musuh oposisi, duduk bersebelahan dengan oposisi. Semua jadi manis-manis saja, seolah yang sudah terjadi meluap begitu saja. Dengan alasan “persatuan” semuanya menjadi terlupakan.

Lantas, bagaimana dengan isu-isu populisme keagamaan dan identitas keagamaan yang dimainkan? Bagaimana kabar para pendukung salah satu paslon yang sudah mau turun ke jalan “jihad” menurunkan kekuasaan yang lalim? Apa ganti rugi atas semua perjuangan, keringat, serta waktu mereka? Apakah sia-sia?

Entahlah. Saya tidak berani menjawab dengan pasti. Namun satu hal yang saya bisa katakan dengan lantang, Anda semua dibodohi dengan politik identitas dan populisme keagamaan yang dimainkan.

Hal semacam ini bukan sekali dua kali. Agama terlalu empuk dipakai untuk menjaring massa. Orang muda saja kalap, kehilangan nalar, jika sudah masalah keyakinan. Toh buat apa nalar jika itu untuk mempertahankan iman?

Dalam sejarah dunia, berkali-kali agama dipakai untuk menjaring massa rakyat yang luas untuk kepentingan politik. Di masa lalu, agama dipakai untuk menjaring massa rakyat untuk keperluan melawan imperialisme Barat kala itu. Muncullah tafsiran-tafsiran agama yang “progresif” serta “kekirian”. Bahkan menggunakan istilah-istilah marxisme dalam interpretasi agama.

Baca juga:

Di masa yang lebih lampau lagi, agama jugalah yang menjadi spirit penaklukan oleh orang-orang Barat. Dengan dalil “sebarkanlah ajaranku pada bangsa tetanggamu”, semua bangsa yang belum mengakui Kristen, dibaptis atas nama Yesus. Semua penindasan, perampokan, dan pengabaian hak asasi manusia kala itu, dianggap maklum. Karena toh Tuhan telah memilih orang Barat sebagai penguasa orang non-Barat. Agama jugalah yang berkali-kali dipakai sebagai pembenaran penindasan penguasa- penguasa desposit.

Jika dilihat era sekarang, sejatinya populisme dan politik identitas bukan cuma di Indonesia. Kemenangan Trump dan juga Brexit di Inggris juga diindikasikan sebagai kebangkitan kembali populisme yang selama ini sempat tertidur. Baik sayap kiri maupun sayap kanan, di banyak tempat, terkhususnya Eropa, turut terlibat dalam penyebarluasan isu-isu populisme dan politik identitas. Indonesia, boleh dikata, hanya mendapat angin segarnya saja. Meski demikian, toh pun panasnya minta ampun.

Terakhir, berawal dari serangkaian kekhawatiran atas apa yang baru-baru saja terjadi, dan mungkin masih akan terjadi lagi kelak, artikel ini dipersembahkan dengan harapan pembaca bisa mengambil pelajaran berharga dari dalam ini, dan menjadi batu karang bagi prinsip untuk menghadapi apa yang terjadi kelak di masa mendatang.

Pengertian Populisme

Jika kita menggunakan definisi dari KBBI, populisme adalah paham yang mengutamakan rakyat kecil. Kata ini memiliki akar kata yang sama dengan populer, yaitu populum yang berarti sesuatu yang dikenal secara umum.

Dalam perkembanganya, populisme mengalami peyorasi, di mana populisme diidentikkan sebagai paham yang kemudian erat kaitannya dengan nasionalisme dan politik identitas.

Steven Pinker mendefinisikan populisme sebagai gagasan kontra-pencerahan, yang menyerukan kedaulatan langsung “rakyat” suatu negara (biasanya suatu kelompok, etnis, kadang-kadang suatu kelas) yang sedang diadu dalam suatu permainan zero-sum game. Dan karenanya, dalam rangka untuk menghentikan hal itu, maka dibutuhkan seorang pemimpin yang kuat; adalah avatara dari masyarakat itu.

Steven Pinker bahkan menjelaskan lebih lanjut bahwa populisme adalah dorongan kembali pada sifat- sifat alami manusia berupa tribalisme, otoritarianisme, demonisasi, yang bergumul dengan gagasan-gagasan pencerahan yang adalah ide alami yang muncul dari nalar manusia, dan karenanya lebih berfokus pada kelompok daripada individu, menyalahkan minoritas, dan superioritas ras, suku, bangsa, di muka bumi.

Bahkan, dalam rangka menjaga ikatan primordial ras, suku, bangsa, dan agama, rela mengurangi, merampas, bahkan menghilangkan hak-hak individu. Dan sebaliknya, memberikan penghormatan berlebih pada pemimpin tertentu, dan membenci semua institusi pencerahan seperti demokrasi, pemerintahan konstitusional, dan pembatasan kekuasaan negara.

Populisme menyebar, baik di sayap kiri maupun di sayap kanan, dengan coraknya masing-masing. Di kubu kiri, umumnya termanifestasikan dalam kalangan-kalangan Social Justice Warrior, cultural marxism, post-modern, dan jenis ideologi kiri yang lain. Ambil misal Karl Marx, yang menganggap dunia modern sebagai sub-kultur dari kelas-kelas yang sering bersaing dalam format zero-sum game di mana keuntungan satu kelas adalah kerugian bagi kelas lain. Atau kalangan Enviromemtalism yang menganggap bahwa keuntungan spesies sapiens adalah kerugian bagi spesies lain.

Alternatif-alternatf yang ditawarkan pun umumnya irasional, ahumanistik, dan biasanya berdarah-darah. Semisal, kalangan SJW yang memandang keuntungan spesies sapiens adalah kerugian bagi jenis spesies yang lain, karenanya solusi atas kerusakan alam adalah dengan membasmi umat manusia. Atau kalangan marxist-kultural yang memandang kelas borjuis dan proletar sebagai kelas yang diadu, maka solusinya adalah membasmi habis-habisan kelas borjuis.

Baca juga:

Sebaliknya dalam sayap kanan, populisme umumnya termanifestasikan dalam format-format nasionalisme, keunggulan ras, superioritas bangsa, dan kesucian kelompok. Bahwa permasalahan hidup diakibatkan oleh ras minoritas atau ras asing, bahwa keindahan hanya bisa ditemukan dalam pengabdian atas bangsa dan negara, dan apa gunanya hak individu jika itu dalam rangka mempertahankan keutuhan bangsa dan negara, dan membela keyakinan pada sang ilahi? Atas nama Tuhan, saya membatasi hak individu. Atas nama negara, saya menghilangkan hak individu.

Baik kubu kiri maupun kanan, meski terdapat perbedaan dalam memandang populisme, mereka memiliki persamaan-persamaan tertentu, yaitu sama-sama mengerdilkan hak individu, menganggap bahwa masalah tidak bisa diselesaikan dengan solusi-solusi yang rasional, dan perbedaan harus diselesaikan dengan kekerasan, bukan dengan berdialog, berdebat, dan saling kritik. Sederhananya, gagasan populisme memiliki kubu dari sayap kiri-kanan dengan format berbeda namun esensi yang sama.

Populisme Keagamaan

Dalam kaitannya dengan keagamaan, populisme indentik dengan pemimpin spiritual tertentu yang kuat dan tersentral, dan bersifat suci serta sanggup menyelesaikan seluruh problem yang ada, dengan kembali kepada kejayaan yang lampau.

Salah satu contoh yang menarik adalah soal bagaimana meningkatnya popularitas Erdogan. Erdogan dianggap sebagai salah satu pemimpin yang kuat, didewa-dewakan oleh pengikutnya, dianggap sanggup mengembalikan kejayaan masa lampau Turki Usmani, dan bisa menyelesaikan semua problem yang ada di Turki modern dengan kembali ke zaman yang lebih kuno atau klasik.

Corak umum yang ada dalam populisme agama, hakikatnya sama dengan corak umum dalam populisme jenis lain. Hanya perbedaan utamanya, populisme dalam keagamaan bercorak religius dan spiritual. Seorang pemimpin spiritual datang untuk menawarkan obat di mana spiritualitas dan agama telah layu, dan mengembalikan masa-masa lampau yang tenang, bahagia, dan penuh dengan kedamaian spiritual.

Karenanya, meski memiliki bentuk sendiri, populisme dalam agama tidak beda dengan populisme jenis lain yang lebih profan. Nasionalisme, ambil contoh, dalam tahap-tahap yang ekstrem, memiliki corak yang sama dengan populisme dalam bidang keagamaan. Nasionalisme yang populis mengharapkan seorang pemimpin bangsa yang kuat, yang sanggup mengembalikan kejayaan masa lampau bangsa bersangkutan, dan menyelesaikan semua masalah bangsa yang ada, dengan kembali ke masa lampau yang jauh di belakang.

Populisme keagamaan juga memiliki persamaan dengan populisme jenis lain dalam hal pandangan dunia yang melulu deklinis daripada progresif. Bahwa dunia sekarang makin memburuk daripada membaik. Bahwa semua masalah makin lama makin banyak dan betumpuk, dan bahwa semua itu akibat dari kesalahan-kesalahan etnis minoritas, pendatang asing, konspirasi elite tertentu, atau sosok supranatural jahat semacam iblis atau ashura yang mendatangkan malapetaka.

Dan solusinya? Kembali pada kehidupan yang suci, membatasi ruang lingkup etnis minoritas, mengusir para pendatang asing, serta menjauhkan diri dari perbuatan yang disukai oleh iblis!

Tidak ada satu pun solusi rasional yang ditawarkan dalam hal itu. Sama dengan populisme seperti nasionalisme, pun menganggap masalah-masalah bangsa makin lama makin bertambah, dan semua adalah karena kesalahan asing, etnis minoritas, atau para pembangkang yang suka berkonspirasi. Ini umum, menyebar dalam semua kubu, baik yang bercorak agama maupun non-agama.

Daftar Pustaka

P, Steven. Enlightment Now : Membela Nalar, Sains, Humanisme, dan Kemajuan. 2018, CV Global Indo Kreatif, Manado.

    Syahid Sya'ban
    Latest posts by Syahid Sya'ban (see all)