Posisi Agama di Indonesia Perspektif Filsafat Kemanusiaan

Posisi Agama di Indonesia Perspektif Filsafat Kemanusiaan
Ilustrasi: Harian Nasional

Indonesia adalah negara yang berketuhanan, yaitu ketuhanan yang maha esa. Ini adalah salah satu hasil rumusan para founding father tentang penetapan dasar konsitusi bangsa kita. Para pahlawan telah menyadari bahwa negara besar yang hendak merdeka dan diperjuangkan untuk kemerdekaannya terdiri dari ragam kepercayaan, budaya, dan agama dari para pemeluknya yang terbentang luas mulai dari Sabang hingga Merauke.

Terdapat enam agama di Indonesia yang mainstream (resmi?), yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Negara harus menerima fakta ini dengan menjaga perbedaan serta menuntunnya pada kehamonisan bernegara dalam kebinekaan.

Pada esai ini, saya tidak sedang menguji ataupun membedah anatomi agama di Indonesia dengan hantaman kritikan/pemberokan para filsuf ateis terhadapnya. Tetapi apa? Sebuah upaya renungan,filosofis dalam menemukan jalan keberagamaan itu menuju berkemanusian-persatuan. Berupaya membendung arogansi minoritas-mayoritas, inteloransi, rasisme, serta segala hal yang memecah keharmonisan dan kesatuan negara ini.

Akhir-akhir ini, bangsa kita mengalami ketegangan sosial. Kepentingan politik (para parpol/aristokrat) telah mengunakan psikologi massa/agama sebagai cara yang jitu dalam mencapai tujuannya. Akhirnya, kehamonisan dan kebinekaan mengalami keretakan yang parah. Populisme agama diadu-domba dengan klaim takfiri, hingga upaya arogan menganti kesetaraan kedudukan agama menuju pengkhususan salah satu agama menjadi dasar hukum negara.

Fenomena Ahok, 212, HTI, populisme agama, gerakan #2019GantiPresiden vs #Jokowi2Periode, hingga Meiliana merupakan kegelisahan kita bersama. Karena ini bukan lagi hanya menyoal perbedaan politik, melainkan menyangkut persoalan antara politik-agama-kebinekaan yang di otak-atik lalu digiring pada konflik horizontal yang berkepanjangan.

Ini menyangkut upaya penipuan/pembodohan terhadap anak-anak bangsa. Kekerasan, ketidakmanusiaan, keretakan bangsa/nation harus kita cegah bersama-sama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan hasil yang sebaik-baiknya.

Bagaimanakah sebenarnya keagamaan harus didudukkan dan keberagamaan kita tempatkan dalam bernegara?

Pertanyaan ini adalah reaksi penolakan saya secara radikal terhadap upaya para politisi, atau golongan massa tertentu, yang mendudukkan keagamaan sebagai super power di negeri ini. Mereka telah menempatkan keberagamaan di bawah logika minoritas-mayoritas.

Redupnya kemanusiaan itu diawali dari kajahatan tersebut hingga keadilan-persatuan pun diperlawankan dengan narasi-narasi teologis dengan cara yang paling tidak bijak. Padahal sila pertama, kedua, dan ketiga dari Pancasila mengandung filosofi yang paling tajam sebagai fondasi kita dalam beragama-bernegara pada jalur kemanusiaan, keadilan, serta persatuan.

Ini membuktikan bahwa negara kita mendudukkan ragam agama pada tempat yang berkemanusiaan dan penuh dengan nuansa persatuan serta persaudaraan. Intinya, negara kita mendudukkan keberagaman dalam bingkai filsafat kemanusiaan.

Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 secara jelas menyatakan:

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk  Isa  al  Masih. Yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad saw. Orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan.

Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang ber-Tuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.

…saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!

Perkataan Bung Karno di atas yang merupakan landasan filosofi keberagamaan kita seharusnya ada dalam bernegara ini. Jika diabaikan, maka peradabaan keberagamaan masyarakat Indonesia akan terjebak pada arogansi-dehumanitas.

Saya mengistilahkan sebagai perababan yang barbar/jahiliah. Dan kita tidak hendak bernegara di atas konflik keberagamaan. Untuk itulah, dalam menegaskan relasi agama-negara-kemanusiaan, Bung Karno mengutip pernyataan Gandhi di dalam pidato 1 Juni-nya, my nationalism is humanity.

Agama ditempatkan bukan dalam hal arogansi teologis, tetapi pada posisi humanisme-teologis (saling menghormati/toleransi). Kesadaran ini harus menjadi retorika keberagamaan kita secara aktual tanpa henti. Bahwa persaudaraan umat berbanding lurus terhadap persaudaraan manusia.

Jangan diotak-atik, jangan pilah-pilah, haram dipisah-pisah. Apalagi hanya demi kepentingan para politisi yang haus akan kekuasaan, yang hanya bisa memonopoli perpecahan untuk meraup kekuasaan-pembodohan.

Nasaruddin Ali
Latest posts by Nasaruddin Ali (see all)