Potret Suara Perempuan pada Pemilu 2024

Potret Suara Perempuan pada Pemilu 2024
©Kompas

Harus diakui bahwa pemilu 2024 merupakan ajang kompetisi antarpartai politik melalui proses demokrasi. Umumnya, kompetisi politik dalam demokrasi bertujuan untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan rakyat sebagaimana hakikat politik itu sendiri. Dalam mencapai kekuasaan politik  itu, suara masyarakat menjadi kunci atau unsur penting yang tidak bisa dipisahkan. Dan pada pemilu 2024 nanti, suara perempuan salah satu kunci serta penyumbang suara terbanyak dalam menentukan nasib bangsa ini lima tahun ke depan.

Sebelum saya membahas lebih konkret tentang bagaimana suara dan keterlibatan perempuan pada pemilu nanti, saya mengajak kita agar tetap rasional dan teliti memahami fenomena politik saat ini. Kita jadikan momentum politik dan demokrasi ini sebagai medium dalam menguji gagasan dan visi misi para kontestan yang sudah haqqul yaqin menjadi pemegang kekuasaan rakyat. Kita jangan terjebak dengan narasi propaganda para elit, karena dalam politik sarat kepentingan dengan cara-cara yang brutal.

Suasana politik menjelang pemilu tengah memasuki fase semi panas antar elit politik. Kalkulasi dan gerakan politik elit terus mengalami dinamika yang cukup keras. Sampai-sampai sulit dirasionalisasikan oleh akal dan pikiran masyarakat. Terbukti koalisi yang tadinya satu pandangan, satu tujuan, dan satu misi untuk perubahan bangsa, pecah kongsi dan memilih jalan koalisi yang lain.

Begitulah politik sangat cair (dinamis) atau tidak statis. Hari ini berpendapat A, besok berdalih B atau sebaliknya. Kalau dihubungkan dengan nilai konsistensi mungkin memunculkan banyak pertanyaan dan perdebatan. Tetapi karena ini politik apapun bisa berubah dalam waktu yang tidak ditentukan.

Kasus seperti ini sering terjadi pada musim politik menjelang pemilu. Seperti kita ketahui belakangan ini masyarakat Indonesia dikejutkan oleh fenomena Koalisi Perubahan untuk Persatuan. Tiba-tiba Partai Demokrat menarik dukungan dari Capres Anies Baswedan. Yang kita tahu Partai Demokrat salah satu partai terdepan dan antusias mendukung Capres Anis sebelumnya. Kendati demikian Partai Demokrat merasa dikhianati oleh teman koalisi setelah Anies Baswedan berpasangan kepada Muhaimin Iskandar, Ketua Umum  PKB.

Hal yang sama pun dialami Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya. Partai PKB memutuskan dukungan dari Capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang sejak awal memberikan dukungan penuh satu tahun belakangan. Tak ada angin tak ada hujan, PKB  beralih dukungan dan menerima lamaran sebagai Cawapres Anies Baswedan yang diusung Partai Nasdem dan PKS.

Fenomena ini menunjukkan jika konsistensi dalam politik itu sulit ditemukan. Ya, kembali pada kontes politik yakni karena kepentingan. Kepentingan untuk kekuasaan. Meski dalam pandangan lain, proses politik yang dibangun tersebut demi kepentingan bangsa dan kemaslahatan rakyat, katanya!

Suara Perempuan

Seperti yang saya sampaikan di awal bahwa fokus tulisan ini adalah bagaimana suara serta keterlibatan perempuan pada pemilu 2024. Saya tidak menjelaskan lebih detail tentang peristiwa politik hari ini. Karena menurut hemat saya sekeras apapun dinamika politik yang terjadi, namun muaranya tetap pada suara masyarakat. Maka pemilih perempuan sebagai penyumbang suara terbanyak dalam pemilu nanti memiliki kewajiban moral untuk ikut serta dalam pembangunan politik yang sehat.

Baca juga:

Berdasarkan data pemilih tetap yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada 204 juta jiwa lebih penduduk Indonesia yang akan memberikan hak pilihnya pada pemilu 2024. Jika dihitung pemilih berdasarkan gender, pemilih perempuan berada pada posisi suara terbanyak yakni, 50,08 persen dan laki-laki sebanyak 49,92 persen di 38 Provinsi. Meski perbedaan suara antara perempuan dan laki-laki tidak terpaut signifikan, tetapi potensi suara perempuan sangat strategis untuk menentukan kemenangan para kontestan pemilu.

Jadi, melihat populasi suara perempuan tersebut yang cukup tinggi sudah sewajarnya jika para kontestan melirik bahkan memanfaatkan suara itu dengan baik. Strategi politik yang diarahkan kepada pemilih perempuan suatu gerakan yang tidak bisa dipungkiri lagi. Karena pemilih perempuan memiliki basis suara yang signifikan dalam mendongkrak perolehan suara Parpol maupun kontestan pemilu.

Selain itu, pemilih perempuan juga memiliki power kemenangan dengan mengajak dan mengampanyekan pilihannya. Itu artinya, pemilih perempuan pada pemilu 2024 sangat efektif menentukan kemenangan maupun kekalahan masing-masing peserta pemilu (kontestan) lewat suara mereka.

Partisipasi Perempuan

Hingar-bingar menjelang pemilu 2024, suara perempuan jelas memiliki angka yang cukup fantastik dan istimewa di mata para kontestan politik. Bagaimana tidak, suara perempuan menjadi penentu bagi mereka dalam merebut kekuasaan. Dengan demikian suara perempuan menuju pemilu menjadi komoditas berharga yang harus diraup secara kompetitif.

Namun, perlu disadari bahwa dari populasi suara terbanyak tersebut, perempuan juga memiliki tanggung jawab penuh terhadap proses perpolitikan dan demokrasi. Sebab, jumlah suara yang banyak tidak cukup untuk mendukung proses politik yang akan berlangsung. Tetapi urgensi partisipasi perempuan dalam pemilu juga sangat penting untuk menciptakan iklim politik yang sehat dan berkualitas.

Perempuan sebagai pemegang hak pilih berkewajiban untuk ikut serta dan terlibat dalam menyaring dan menilai para calon kontestan sebelum melakukan pencoblosan. Di mana melihat secara utuh siapa sosok kontestan yang layak akan dipilih, bukan sekedar ikut-ikutan atau karena intervensi politik pihak tertentu.

Harus diingat bahwa di tengah gejolak politik yang disuguhi persaingan kontestan kedepan, potensi terjadi cara-cara yang kotor sangatlah mudah demi mendapatkan suara. Apa lagi pemilu akan dilaksanakan serentak mulai dari pemilihan Presiden, DPD, DPR dan DPRD Kabupaten/Kota. Sehingga, berada pada kondisi yang penuh pilihan memang sangat sulit. Tetapi ketika pemilih perempuan sadar untuk berpartisipasi dalam proses politik, maka kondisi ini akan menjadi lebih mudah terlewati.

Partisipasi perempuan dalam politik memang memiliki nilai yang tinggi terhadap kemajuan demokrasi. Pemilih perempuan sebagai suara terbanyak pada pemilu 2024 sudah sepatutnya menjadi lokomotif demokrasi. Dengan memilih calon kontestan yang memiliki kapabilitas dan integritas adalah wujud dari partisipasi dalam melahirkan figur pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Baca juga:
Fiderman Gori
Latest posts by Fiderman Gori (see all)