PR untuk Ganjar Pranowo

PR untuk Ganjar Pranowo
©MataMata

PR untuk Ganjar Pranowo

Tak henti-henti pilpres kali ini memberikan plot twist kepada publik, berikut segala kenyataan menarik yang mewarnai perjalanan kontestasi. Para calon mulai berberes-beres menuju puncak penentuan.

Tentunya, dengan persiapan yang (hendak) dimatangkan. Ada yang sedang membangun image untuk menggaet popularitas pada kalangan tertentu, membuat koalisi dengan komposisi menarik untuk menangkis tuduhan miring, hingga menciptakan personal branding sebagai karakter dan garis politik.

Personal branding yang dimaksud memiliki urgensi dalam pemilihan. Sehingga orientasi kekuasaan dan orientasi politik para calon bisa dibaca oleh publik (sebagai subjek voting) untuk dijadikan pertimbangan sebelum melakukan pencoblosan. Atau dengan kalimat lain, para calon harus punya spesifikasi agar masyarakat bisa memberi penilaian.

Misal: di Pilpres kali ini, 2 di antara ketiga calon telah memiliki spesifikasi dan arah kebijakan politik yang jelas sekaligus memiliki orientasi yang konkret.

Prabowo, selain mempromosikan image gemoy di kalangan gen Z, juga memiliki garis kebijakan yang jelas: yakni meneruskan kebijakan Jokowi di era sebelumnya (menuntaskan yang belum tuntas, mewujudkan yang belum terwujud). Indikator lain adalah dengan bergabungnya Gibran Rakabuming (putra sulung Jokowi) menjadi wakilnya, terlepas dari kontroversi pencalonannya.

Di sisi lain, Anies Baswedan seolah membangun karakter antitesis. Beberapa kebijakan Jokowi yang ada (secara terang-terangan) ditolak. Sebut saja proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebagaimana sempat disinggung pada debat Capres beberapa waktu yang lalu. Maka tak ayal, Anies (dalam hal ini) menginginkan perubahan yang kontradiktif dari yang sebelumnya. Senada dengan nama koalisi yang mengusungnya, koalisi perubahan.

Sehingga, ada polarisasi yang (mungkin) berkonotasi positif terbangun dalam hal ini.  Masyarakat yang menginginkan perubahan (dominan melepaskan diri dari kebijakan Jokowi) kemungkinan memilih Anies. Sementara mereka yang masih merindukan sosok Jokowi dan pro terhadap segala kebijakan Jokowi akan mendukung Prabowo.

Baca juga:

Lalu, ke mana arah Ganjar? Seberapa penting personal branding? Dan apa konsekuensi jika tidak memiliki basis branding yang jelas?

Ganjar Mau Ikut Siapa?

Saya melihat kekeosan Ganjar bisa ditutupi secara rapi pada debat Pilpres kemarin. Tidak seperti Prabowo yang terlihat blunder ketika diserang oleh dua lawan mainnya. Saya mengakui kemampuan retorika Anies dalam menyampaikan visi misi, membangun pertahanan argumen, dan mamatahkan lawan di atas panggung.

Di sisi lain, saya juga mengakui kecerdikan Ganjar dalam menyembunyikan keblunderan dan kebingungannya. Sekaligus, saya juga ingin memberikan applause terhadap ketenangannya dalam memosisikan diri.

Padahal, saya menduga kuat Ganjar berada dalam dilematis yang akut. Diibaratkan rumah tangga yang mengalami broken home, Ganjar adalah anak yang bingung mau berpihak kepada siapa. Mau berpihak ke ibu, ada rasa tidak enak pada bapak, dan sebaliknya.

Kembali kita melihat realitas yang terjadi di tubuh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan beberapa waktu silam. Yang secara getol mempromosikan Ganjar untuk menjadi Capres adalah Jokowi. Bahkan Jokowi dengan sigap menuntun Ganjar di tengah isu Trah Soekarno yang menguat, di mana saat itu Puan Maharani (anak dari Ketum partai PDI, Megawati) yang digadang-gadang bakal direkomendasikan.

Hingga akhirnya, Ketua Umum PDI, Megawati Soekarno Putri merestui Ganjar untuk maju sebagai Capres. Namun takdir berkata lain, Jokowi meninggalkan PDI Perjuangan di tengah pencalonan Ganjar Pranowo.

Seperti yang dijelaskan di kompas.com, keputusan itu diambil adalah karena Jokowi sudah tidak punya kepentingan dengan partai tersebut. Meski kemungkinan lainnnya adalah terjadinya konflik internal yang tidak dimunculkan ke publik.

Broken home itulah yang kemudian membuat Ganjar bingung mau berpihak kepada siapa, masih remang-remang. Hal itu terbukti dengan beberapa momen pada momentum debat Capres kemarin.

Baca juga:

Ada ke-abu-abu-an yang terjadi pada Ganjar, seperti yang dilansir dari infografis Pinterpolitik.com, di antaranya: kurangnya kritik keras Ganjar pada pemerintahan Jokowi (kemungkinan lainnya adalah karena Mahfud MD dan PDIP masih berada di bawah kekuasaan Jokowi), keblunderan ketika memberikan kritik soal HAM kepada Prabowo yang justru dibalikkan kepada Mahfud MD yang kini menjabat sebagai Menko Polhukam, persoalan KEK yang justru menguntungkan narasi Prabowo.

Ganjar dalam hal ini masih abu-abu. Tentu ini berbanding terbalik dengan jawaban Ganjar ketika ditanya alasan memakai baju hitam putih.

Ke-abu-abu-an ini bakal menjadi boomerang bagi Ganjar dan koalisinya. Bukan hanya Ganjar yang akan dilema, publik juga mengalami kebingungan dalam memberilan interpretasi atas orientasi Ganjar dalam Pemilu. Pekerjaan rumah ini mau tidak mau harus secepatnya diselesaikan oleh pihak Ganjar, agar tidak menjadi senjata makan tuan. Ganjar harus punya branding yang bisa membuatnya memiliki karakteristik.

Apa bahayanya jika tidak segera dilakukan?

Seperti yang dijelaskan di atas, branding garis politik yang dibangun akan menentukan vote atau banyaknya suara, meski ini bukan satu-satunya cara. Jika masih abu-abu sampai sekarang, bisa jadi masyarakat akan melabuhkan kepada calon yang memiliki garis politik jelas, kubu A-min (sebagai antitesis terhadap pemerintahan Jokowi) atau Prabowo-Gibran (sebagai pelanjut). Publik tidak akan tergiur dengan yang masih remang-remang.

Aqil Husein Almanuri
Latest posts by Aqil Husein Almanuri (see all)