Praksis Lapangan, Alas bagi Teoritisasi Gerakan Mahasiswa

Praksis Lapangan, Alas bagi Teoritisasi Gerakan Mahasiswa
Ilustrasi buku "Kesaksian, Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY (Philosophia Press, 2015)

Ini tentang perjuangan, tentang gerakan mahasiswa yang tiada pernah dan tak boleh padam.

… Manusia haruslah berdaya, mencoba berjuang, kalah atau menang dalam ikhtiarnya. Sebab inilah yang dinamakan hidup! … Manusia mesti mematahkan semua yang merintangi kemerdekaannya. Ia harus merdeka! ~ Tan Malaka

Kesadaran adalah matahari; kesabaran adalah bumi; keberanian adalah cakrawala; perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. ~ WS Rendra

Kalimat di atas mewakili prinsip, semangat, dan komitmen para penulisnya mengenai hakikat perjuangan dan tujuan kemerdekaan. Kemerdekaan sebagai syarat pokok bagi kedaulatan, kemajuan, dan kesejahteraan rakyat mutlak harus diperjuangkan.

Perjuangan mensyaratkan adanya keyakinan yang kokoh, pengetahuan yang luas, strategi yang memadai, massa yang sadar dan terdidik, ideologi yang menggerakkan, keberanian, dan organisasi sebagai ruang berhimpun sekaligus alat pergerakan yang efektif.

Sejarah umat manusia adalah gerak perjuangan untuk hidup dan membangun peradaban. Keberadaban didasarkan atas penghormatan yang setinggi-tingginya terhadap kemanusiaan, keadilan, dan kebudayaan.

Adapun kebudayaan, tak lain adalah ekspresi dari akal budi, pengetahuan dan kreativitas manusia. Setiap upaya memasung ikhtiar dan kreativitas manusia, sama dengan membunuh semangat kebudayaan sekaligus menghancurkan benih-benih kemajuan.

Kondisi tanah air hari ini, kondisi gerakan rakyatnya, dan kondisi terkait hubungan antara negara dan kapital, masih mencerminkan kondisi ruang hidup dan kehidupan yang masih sangat jauh dari ideal kemerdekaan. Krisis keyakinan, krisis ideologi, dan krisis sosial-ekologi yang begitu kronis, mensyaratkan ijtihad dan ikhtiar perjuangan yang lebih keras.

Reformasi memang menjadi awal bagi kehidupan sosial-politik yang demokratis. Namun, pada sisi lain, reformasi sekaligus mengantarkan bangsa Indonesia kepada babak lanjut dari transformasi dialektis akumulasi kapital.

Tentu saja, kondisi yang demikian hanya mampu dibaca oleh mereka yang bernalar kritis dan memiliki kemampuan dalam menebak arah dari berbagai rencana pembangunan (baik nasional maupun di daerah) yang sudah, sedang, dan akan dijalankan.

Pada kondisi yang demikian, dibutuhkan generasi tercerahkan, yaitu generasi yang mau belajar dari sejarah dan bersedia memimpin, baik secara moral maupun intelektual, untuk mengawal proses perjalanan “menjadi Indonesia”. Mereka adalah generasi kreatif yang kaya akan imajinasi dan inisiatif. Mereka yang oleh Gramsci disebut sebagai intelektual organik, oleh Syari’ati disebut rausyan fikr, dan oleh Soekarno disebut kaum muda progresif-revolusioner.

Kaum muda yang dimaksud oleh Gramsci, Syari’ati, dan Soekarno tidak lain adalah mereka yang terdidik dan sadar akan kondisi bangsanya sekaligus berani mengambil peran-peran strategis. Belajar dari sejarah beberapa perubahan sosial yang pernah ada, mereka direpresentasikan oleh mahasiswa.

Bersama mereka, dari bangunan-bangunan perkuliahan itu lahirlah pemikiran-pemikiran kritis. Oleh mereka, pemikiran-pemikiran itu menjadi strategi dan siasat gerakan.

Demi keyakinan dan tujuan mereka, bahkan kekuasaan pun tumbang. Tentu saja bukan tumbangnya kekuasaan sebagai tujuan mereka.

Gelombang besar kekuatan rakyat yang mereka inisiasi, tidak lain adalah seperti apa yang dikatakan Rendra; bangkitnya kesadaran matahari, habisnya kesabaran bumi, memuncaknya cakrawala, sekaligus sebagai pelaksanaan kata-kata. Tujuan dan tuntutan mereka sama; kemerdekaan, kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan untuk rakyat.

***

Hari ini, selain dihadapkan kepada kondisi tanah air yang menuntut untuk ditata kembali, mahasiswa dihadapkan juga dengan beberapa tantangan yang membawa pengaruh besar terhadap eksistensi dan gerakannya. Pertama, tekanan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari negara, aparat perguruan tinggi, dan kekuatan-kekuatan lain di luar keduanya.

Kedua, kondisi mahasiswa dan gerakan mahasiswa yang mulai mengalami peralihan ideologi dan transformasi perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang ada.

Negara memang tidak serepresif sebelumnya dalam menyikapi gerakan mahasiswa. Melalui kanalisasi atau “saluran-saluran” baru yang diciptakan, negara, secara halus namun hegemonik, telah berhasil mengondisikan mahasiswa.

Melalui kebijakan yang selanjutnya dijalankan oleh para aparatnya di masing-masing perguruan tinggi, kesadaran, nalar kritis dan keberanian mahasiswa ditundukkan. Kekuatan di luar negara dan perguruan tinggi turut ambil peran dalam mentransformasi gerakan mahasiswa ke dalam bentuk dan pola yang semakin tak karuan.

Teknologi kapitalis telah berhasil membuat mahasiswa sibuk dengan urusan dunia tak nyata, sehingga melupakan persoalan-persoalan sosial yang ada di depan mata. Hegemoni budaya pop telah sangat efektif membentuk generasi-generasi individualistik yang abai, bahkan terhadap masa depan kemanusiaannya sendiri.

Aliran dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari korporasi-korporasi besar yang dikelola oleh lembaga-lembaga di perguruan tinggi, meski tak kasat mata, telah mendudukkan perguruan tinggi benar-benar sebagai rezim expert yang mengawal dan memihak kepentingan korporasi.

Pada beberapa kasus, bahkan kurikulum di perguruan tinggi terpaksa harus menyesuaikan diri dengan kepentingan kapital. Lembaga pendidikan di mana pengetahuan, kesadaran, dan kreativitas seharusnya dibangun dan diobjektifikasikan, justru menjalankan peran sebagai aparat hegemoni negara (oleh kendali kapital).

Kedudukan Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi bukan hanya ruang tunggu untuk memperoleh kartu ujian maupun surat keterangan gelar kesarjanaan, apalagi sebagai pabrik tempat di mana manusia dipersiapkan (didisiplinkan, dijinakkan) dan tenaga kerja diproduksi demi untuk memenuhi kebutuhan bagi kepentingan akumulasi kapital. Perguruan Tinggi adalah laboratorium pengetahuan sekaligus Kawah Candradimuka bagi intelektual-intelektual organik dan generasi pengurus tanah air.

Sebagai laboratorium pengetahuan, perguruan tinggi adalah ruang pengelolaan pengetahuan; pengetahuan digali secara kreatif dan terus-menerus, diolah, didesiminasikan sekaligus dioperasionalisasikan sebagai instrumen utama bagi perubahan sosial (keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat).

Sebagai Kawah Candradimuka, perguruan tinggi menyediakan ruang persemaian bagi pemikiran-pemikiran kritis, fasilitas untuk praktik-praktik belajar yang menyadarkan sekaligus membebaskan, dan jaminan bagi kreativitas dan progresivitas mahasiswa.

Kondisi buruk pendidikan dan perguruan tinggi di tanah air di satu sisi, di mana pendidikan bukan lagi untuk membebaskan dan memberdayakan, dan tumbuhnya benih kesadaran kritis di kalangan beberapa saja mahasiswa pada sisi lain. Hal itulah yang hendak dituturkan oleh buku ini.

Praksis Lapangan, Alas bagi Teoritisasi Gerakan Mahasiswa

Buku yang ditulis oleh saudara Maman Suratman ini memiliki nilai historis, ideologis, dan strategis. Bernilai historis karena buku ini menuturkan hampir secara utuh proses perjuangan beberapa anak muda progresif-revolusioner di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY).

Selain sebagai dokumen sejarah perjuangan mahasiswa, penulisan buku ini senantiasa memberi energi positif bagi ingatan kolektif-kritis untuk generasi berikutnya; apakah perjuangan sebelumnya cukup sebagai masa lalu atau akan terus diperjuangkan.

Berbobot ideologis karena buku ini ditulis sebagai ekspresi dari wujud komitmen terhadap posisi, fungsi, dan peran mahasiswa sebagai intelektual organik. Bernilai strategis karena bagi siapa pun, terutama generasi UTY, buku ini representatif sebagai panduan bagi ikhtiar berikutnya.

Gagasan Perlawanan

Buku ini ditulis cukup garang, menggunakan gaya bahasa sedikit emosional. Dengan membaca secara utuh dan memahami pesan yang hendak disampaikan melalui buku ini, kita akan mengerti alasan mengapa buku ini ditulis demikian.

Pesan yang ingin disampaikan melalui buku ini, mengajak kepada seluruh pembaca, terutama mahasiswa, untuk terus belajar dan berjuang sebagai wujud kongkret dari komitmen intelektual dan moral seorang pemikir tercerahkan. Perjuangan Maman dan kawan-kawan yang dituturkan di dalam buku ini merupakan praksis lapangan yang memberi alas bagi teoritisasi gerakan mahasiswa kontemporer.

Sebagai suatu ikhtiar, apa yang diperjuangkan oleh Aliansi Pejuang Demokratisasi Kampus (APDU) mewakili upaya untuk beberapa capaian. Pertama, membangun kembali (memulihkan) kesadaran kelas; mahasiswa sebagai inti kekuatan perubahan sosial.

Kedua, menciptakan “ruang belajar” alternatif yang otonom, kritis, dan aspiratif. Ketiga, memberi arah dan metode bagi praktik-praktik belajar yang teoritis, politis, dan praktis. Keempat, mempertegas identitas dan menjalankan komitmen gerakan mahasiswa sebagai intellectual cum activist.

Sebagai ujung dari tulisan pengantar ini, saya membayangkan saat di mana Wahib dan Gie menulis catatan harian mereka. Mereka menulis bukan secara tiba-tiba, mereka menggerakkan nalar mereka bukan tanpa alasan, dan mereka berani mengambil risiko bukan karena mengharap tepuk tangan.

Mereka menulis, menggerakkan nalar, dan mengambil risiko karena mereka memang memilih itu sebagai jalan mereka. Mereka memperjuangkan apa yang mereka yakini layak untuk diperjuangkan.

Tentu saja, Maman bukan Wahib atau Gie. Tetapi, paling tidak, melalui buku ini, Maman memberikan alasan bagi kehadiran Wahib dan Gie di masa sekarang hingga mendatang.

Tulisan pengantar ini hanya mampu mengantarkan sampai di sini. Selebihnya, silakan para pembaca untuk menyimak penuturan lengkap dari penulis buku ini. Selamat berpikir.

*Pengantar Wahyu Minarno untuk Kesaksian, Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY karya Maman Suratman (Philosophia Press, 2015)

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi