Presiden Jokowi: Pembangunan Infrastruktur Menyakitkan

Presiden Jokowi: Pembangunan Infrastruktur Menyakitkan
Presiden Jokowi dan Saidiman Ahmad saat bertemu di Istana Negara, Jakarta, Kamis (24/8/2017)

Nalar Politik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengaku pembangunan infrastruktur di negeri ini bukanlah pilihan mudah. Hal itu, sebagaimana disampaikan peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad usai bertemu Presiden di Istana Negara, justru menimbulkan rasa sakit.

“Bertamu ke istana. Bertemu dengan dia (Jokowi) yang berpolitik dengan bekerja. Dia bercerita tentang pembangunan infrastruktur serentak di seluruh penjuru negeri. Membangun infrastruktur bukan pilihan yang mudah. ‘Pembangunan infrastruktur menyakitkan,’ kata dia,” ungkap Saidiman melalui keterangan tertulisnya, Jumat (25/8/2017).

Saidiman mencatat, setidaknya ada tiga hal yang membuat Jokowi sakit terkait pembangunan infrastruktur. Pertama, dana yang digunakan untuk proyek pembangunan sangat besar.

“Mau tidak mau, pemerintah perlu melakukan efisiensi anggaran, salah satunya melalui pencabutan dan pengurangan subsidi energi. Ini berakibat langsung pada meningkatnya anggaran belanja warga. Jumlah orang miskin terancam melonjak,” terang alumnus Public Policy di Australian National University ini.

Kedua, lanjut Saidiman, proyek infrastruktur ternyata tidak mendatangkan manfaat langsung pada warga. Sebab, infrastruktur hanyalah fasilitas yang mempermudah aktivitas ekonomi warga saja.

“Jalan pada dirinya tidak mendatangkan kesejahteraan secara langsung. Ia ada fasilitas yang menunggu digunakan. Namun begitu, tanpa jalan, pelabuhan, bandar udara, dan rel kereta, rasanya mustahil kesejahteraan itu datang,” terangnya kembali.

Ruang Oposisi

Adapun yang terakhir, tambahnya, bersumber karena sifatnya yang tidak mendatangkan keuntungan ekonomi secara langsung atau manfaat ekonominya secara nasional akan terasa dalam jangka panjang di mana pertumbuhan ekonomi dalam masa pembangunan acapkali bisa mengalami pelambatan.

“Dan ini adalah pintu masuk bagi kelompok oposisi untuk melancarkan serangan. Kondisi ini bahkan rentan digunakan kelompok anti-demokrasi untuk melakukan mobilisasi massa melawan pemerintah, bahkan mungkin berupaya menjatuhkannya dengan jalan kudeta,” jelas Saidiman.

Namun begitu, di tengah pembangunan infrastruktur massif di semua wilayah, ia mencatat pertumbuhan ekonomi masih cukup stabil di angka 5,1 persen per tahun. Inflasinya bahkan bisa ditekan ke angka sekitar 3 persen. Inilah yang menjadi keuntungan tersendiri jika dibanding dengan pertumbuhan ekonomi di masa lalu yang mencapai 6 persen tapi inflasi 9 persen.

“Kalau dalam masa konstruksi infrastruktur saja pertumbuhan ekonomi kita masih jadi yang terbesar ketiga di negara-negara G-20, bayangkan kalau semua sudah jadi dan dimanfaatkan oleh warga,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait:
    Redaksi
    Latest posts by Redaksi (see all)