Presiden Sains

Presiden Sains
©Okezone

Untuk sementara, Budiman menempati posisi Presiden Sains, tahapan untuk menghasilkan pemimpin masa depan.

Nalar Warga – Nama Budiman Sudjatmiko tidak masuk dalam survei Kompas terkait calon presiden. Tentu tidak mengherankan sebab lembaga survei cenderung menggunakan standar famous, minimal berdasar kriteria “ramai diperbincangkan”.

Padahal di luar itu, nama-nama lain tetap eksis dalam diamnya, termasuk Budiman Sudjatmiko. Beberapa akun besar di twitland memang pernah mengulas eksistensi Budiman, terutama bila kita kaitkan dengan ide-ide briliannya soal Indonesia di masa depan.

Budiman memang sangat visioner. Sejarahnya membuktikan itu. Buku-buku “kelas berat” sudah ia lahap sejak di bangku sekolah menengah, masa di mana teman-teman sebayanya sibuk berkisah-kasih di sekolah (tapi Budiman pun punya sisi romantis).

Tumbangnya Orde Baru menjadi momentum luar biasa dari seorang Budiman. Vonis 13 tahun penjara yang ia dapat justru tidak membelenggunya untuk menebarkan ide-ide visioner. Ia harus “berperang” untuk menyiapkan suatu masa damai bagi generasi berikutnya.

Masa damai itu tertandai dengan majunya inovasi, suatu masa di mana anak-anak muda bisa belajar mengembangkan sains se-spektakuler mungkin, dengan dukungan pemimpin yang—dalam bahasa Budiman—grounded futurist atau visionary realist, penyongsong masa depan yang membumi.

Apakah mimpi Budiman itu berhasil?

Lahirnya UU Desa, menurut hemat saya, menjadi mimpi besar awal. Gerakan Inovator 4.0 yang ia gagas pun luar biasa karena memang ia tak retorik seperti Rocky Gerung (sengaja saya sebut nama ini agar wilayah filsafat terlihat “manis”).

Selepas itu namun tak terlepas, ia pun menggagas Bukit Algoritma. Project 11 tahun ini bertekad membangun Indonesia secara saintifik. Bukit tersebut menjadi tempat industri nanoteknologi, bioteknologi, kuantum teknologi, semikonduktor, dan penyimpanan energi.

Baca juga:

Memang cukup banyak yang meragukannya lantaran ekosistem digital Indonesia belum mumpuni, kapasitas riset yang rendah, plus ketimpangan infrastruktur digital. Namun apakah semuanya itu membatalkan “grand narrative” Budiman? Tentu saja tidak, karena Jokowi mendukungnya.

Kominfo “dipaksa” Jokowi untuk bergerak cepat. Kominfo akan membangun BTS 4G di 4.200 desa. Langkah awalnya, Kominfo menandatangani kontrak proyek penyediaan BTS di 2.700 desa yang mencakup Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Sulawesi.

Salah satu bukti keseriusan Jokowi ialah melalui pembangunan infrastruktur TIK untuk PON XX Papua yang sukses. Kominfo dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) sudah membangun BTS 4G di 213 lokasi (2015-2020). BAKTI masih akan membangun 4.380 BTS 4G di Papua.

Di Papua Barat sudah terbangun BTS 4G di 244 lokasi (2015-2020 dan akan ada 824 lagi di 2022. BAKTI sudah menggelar akses internet gratis di 373 titik layanan publik di 12 kota dan kabupaten di Papua Barat. Jumlah tersebut akan bertambah 211 titik hingga akhir 2021.

Bagi saya, semua itu merupakan bentuk dukungan Jokowi secara tidak langsung terhadap mimpi Budiman. Kini, Jokowi memperkuat BRIN, di bawah nakhoda Megawati. BRIN bertugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Mengapa Megawati?

Peta ketahanan politik yang kondusif perlu menjaga fondasi IPTEK. BRIN merupakan strategi geopolitik ketahanan nasional, demikian Budiman berpendapat. Jangan lupa, Megawati-lah yang mendorong agar alokasi dana riset naik ke 5 persen dari APBN.

Sekarang kembali ke Budiman. Dia pernah dipanggil Jokowi saat gencarnya reshuffle. Jokowi seperti sedang menyiapkan sebuah mutiara, mengasahnya hingga benar-benar berlian. Jadi, pantaskah Budiman menjadi the next president?

Halaman selanjutnya >>>
    Warganet