PSI, Partai Solidaritas Intoleran?

PSI, Partai Solidaritas Intoleran?
©Ist

Benarkah Partai Solidaritas Indonesia sebagai partai yang memang benar punya laku intoleran? Partai Solidaritas Intoleran, tidak sesolider nama partainya?

Barangkali saja orang akan mengingat tulisanku ini: “Akan ada permainan politik oleh orang-orang kriminal dan permainan kriminal oleh orang-orang politik.” ~ Pramoedya Ananta Toer

Puluhan tahun sebelum Indonesia punya tradisi politik yang terbilang tidak cukup baik juga dibanding era Orde Baru Soeharto, novelis Pram sudah memprediksi itu lebih dulu, bahkan jauh melampaui zamannya. Apa yang ia sebut dalam novel bernasnya Rumah Kaca kini makin terang punya bukti.

Ya, Indonesia kita hari ini tak hanya menampilkan permainan politik yang dikangkangi orang-orang kriminal belaka. Indonesia kita, sebagaimana fakta sering hadir di hadapan mata, pun memperlihatkan bagaimana permainan kriminal itu sekaligus dibiakkan oleh orang-orang politik juga.

Saking parahnya, nyaris tak bisa kita bedakan lagi mana perbuatan orang-orang politik yang harus dan wajib kita teladani dan mana perbuatan orang-orang kriminal yang juga harus dan wajib kita lawan. Kalau bukan politisi yang ikut-ikutan jadi kriminal, kriminallah yang ikut terjun ke dunia politik. Semua serba buram jika bukan hitam pekat, tidak jelas juntrungnya mau ke mana.

Tampaknya bukan sepertinya lagi, tetapi memang adanya sudah begitu. Lihatlah realitas Pilkada DKI Jakarta 2017 silam, misalnya. Agenda politik lima tahunan ibu kota ini toh hanya mampu mempertontonkan badut-badutan belaka.

Di sana, terang terlihat jelas bagaimana permainan politik dalam proses perhelatannya melulu datang dari orang-orang kriminal saja. Awalnya mungkin mengundang tawa, tetapi pada akhirnya berujung sedih penuh sesal tanpa makna.

Anda boleh saja tak seiya-sekata. Tetapi, Aksi Bela Islam yang punya segudang jilid itu, sebagai satu pendulang utamanya, nyatanya tak hanya berguna meredam elektabilitas pelayan rakyat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Aksi-aksi itu, diakui atau tidak, sekaligus jadi buah dari ambisi akut kelompok makar—selain tertuju untuk Ahok, mereka pun ingin menjatuhkan Jokowi, pemerintahan yang sah, lantaran ketidaksukaan semata.

Setelah setengah berhasil capai ambisinya, orang-orang bermodel serupa pun kembali lahir. Nahasnya, mereka tumbuh subur dalam lembaga perwakilan rakyat kita di Senayan sana. Mereka, tanpa perlu pembuktian lagi, hanya tahu mendulang hak, tetapi tak peduli pada bagaimana cara mengelola kewajiban dalam kerja-kerja nyata.

Baca juga:

Anda bisa lihat, kan, bagaimana bobroknya kaum elite yang melulu mengatasnamakan kita sebagai rakyat itu? Di dalamnya, di DPR RI itu, jika mau berkata jujur, hanya dipenuhi orang-orang yang kurang lebih sama dengan kelompok kriminal juga. Kalau toh bukan koruptor, pencuri uang rakyat, isinya sudah pasti yang antikritik.

Biadab? Tegas harus kita sebut demikian. Tak perlu sok-sokan santun segala.

Makin Rusak

Tak usai-usai melihat laku politisi yang berjubah kriminal atau kriminal berkedok politisi, muncul lagi satu fakta. Yang terakhir ini cukup mengagetkan, terutama saya, lantaran datang dari kelompok yang saya harapkan bawa perubahan yang bukan sekadar jargon, yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Sumpah, saya nyaris tak percaya saat PSI dikabarkan menggaungkan penolakan atas perilaku LGBT. Pasalnya, kader-kader PSI yang saya tahu tentu bukan hanya orang-orang muda yang punya semangat juang tinggi di bawah kepemimpinan Grace Natalie Louisa, melainkan pula orang-orang yang mau eksis demi jayanya negeri berbineka, yang menyatu berbalut cita mulia: Merawat Keberagaman, Mengukuhkan Solidaritas.

“Ah, itu pasti permainan politik orang-orang kriminal yang tak suka dengan PSI. Itu hanya permainan isu di abad-abad kegelapan.” Begitu anggapan awalnya saya, yang sangat naif, tidak terlalu menaruh sikap peduli.

Lha, mana mungkin partai berlambang bunga mawar putih ini bersikap anti-keberagaman seperti itu? Bukankah ia adalah inisiatif yang memandang Indonesia sebagai kepingan warna-warni yang harus direkatkan oleh solidaritas? Bukankah ia merupakan partai yang berslogan Terbuka, Progresif, Itu Kita!.

Tetapi, apa daya, anggapan awal saya itu ternyata hanya angan belaka. Melalui Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) PSI Kota Depok, Ferry Batara, PSI tampil tiada beda dengan laku partai-partai tua yang mendahuluinya.

Mereka, dalam benak saya saat ini, sama halnya sebagai mesin politik yang akan menjual apa saja, termasuk isu bernuansa SARA sekalipun. Ya apalagi kalau bukan demi terwujudnya hasrat dan kepentingan golongan mereka semata, kan?

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Maman Suratman (see all)