PSI: Saatnya untuk Republikanisme Milenial

PSI: Saatnya untuk Republikanisme Milenial
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie Louisa

Nalar Politik Republikanisme Milenial. Demikian seruan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui salah satu video blognya di Twitter. Berdurasi kurang lebih 60 detik, vlog PSI menyeru kepada semua, terutama bagi kaum milenial, untuk bersama-sama membangun bangsa ini dengan menjadi republikanisme milenial—anak muda yang berjiwa republikan.

Mengapa harus republikanisme milenial? Alasan utamanya bertumpu pada ketakutan akan potensi Indonesia menjadi negara gagal. Sebab, banyaknya ulah para pemfitnah dan penyebar benci di negeri ini, sedikit mungkin akan membuat Indonesia terancam menjadi salah satu negara gagal sebagaimana yang kini melanda negeri-negeri Timur Tengah, seperti Afghanistan, Suriah, dan lain sebagainya.

Di awal, vlog bertajuk “Indonesia Negara Gagal?” tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan di Afghanistan tahun 60’an. Tampak dari para perempuannya mengenakan busana-busana trendi (ada yang tanpa hijab) dan bebas belajar di sekolah-sekolah umum.

Sayangnya, sekolah-sekolah di Afghanistan hari ini justru menjadi sasaran bom paling mematikan. Acapkali menjadi target serangan para teroris militan.

Pun demikian dengan apa yang juga dialami oleh Suriah. Sebelum perang berkecamuk, tampak tatanan kota-kotanya begitu indah, hingga akhirnya harus hancur lembur oleh bom yang mengguncang kota-kota ini di hampir tiap jam.

Apa yang dialami oleh dua negara di wilayah Timur Tengah di atas adalah apa yang kita sebut sebagai The Failed State alias Negara Gagal—sebuah negara di mana pemerintah tidak hadir mengurus rakyatnya.

Pertanyaannya, bisakah Indonesia juga menjadi negara gagal? Tentu bisa!

Tapi beruntung kiranya kita punya banyak kaum republikan, yakni mereka yang jenius, bekerja keras, dan berjiwa besar. Ada Hasyim Asyari, Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, dan lain-lainnya.

Menariknya, mereka punya suku, pandangan politik dan agama yang berbeda-beda. Tetapi mereka tidak pernah bercerai dan bertikai. Sebab yang menyatukan mereka adalah semangat bekerja untuk rakyat (publik).

Itulah sebabnya mengapa mereka-mereka ini disebut sebagai republikan. Dan itu pula sebabnya mengapa PSI mendukung republikan seperti Joko Widodo (Jokowi)—sosok yang mengabdikan dirinya untuk bekerja bagi rakyat.

Meski demikian, republik Indonesia ini jelas masih membutuhkan banyak republikan, generasi-generasi penerus cita-cita bangsa. Dan Anda-Anda semua bisa jadi republikan berikutnya itu.

Saatnya untuk Republikanisme Milenial.

PSI: Saatnya untuk Republikanisme Milenial

___________________

Artikel Terkait: