Psiko-Genetik Harapan dalam Kapitalisme

Psiko-Genetik Harapan dalam Kapitalisme
©Suara

Psiko-Genetik Harapan dalam Kapitalisme

Kapitalisme dan atribut yang menyangkut harapan-harapan yang sering dikaitkan terhadap kebebasan pasar kapitalisme merupakan titik tolak bagi keberlangsungan sistem pasar bebas. Kehendak untuk menentukan aktivitas dirinya sendiri, khususnya dalam bidang perekonomian, merupakan suatu tuntutan para pemilik modal untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal dengan campur tangan paling minimal dari otoritas tertentu, misalnya Negara.

Harapan-harapan yang sering membayangi setiap orang yang ingin mendapatkan kesuksesan di bawah bendera kapitalisme—tidak jarang menimbulkan permasalahan di dalam persaingan pasar. Tidak jarang, kita melihat para kapitalis bahkan para pekerja saling berebut perhatian atau mencari suatu pembenaran bagi dirinya sendiri, sehingga tujuan personal dapat tercapai.

Individualisme sangat erat ketika kita melihat pergerakan manusia dan keadaan pasar yang makin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Pergerakan kolektif yang dahulu merupakan kekuatan besar untuk mengubah kondisi-kondisi buruk—saat ini—tidak lagi memberikan kekuatan yang begitu efektif untuk mengatasi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam bayangan kapitalisme.

Dengan melihat beberapa permasalahan yang—mungkin—sudah kita singgung di atas, kali ini kita akan bertolak melalui sudut pandang psiko-genetik yang akan menjelaskan bagaimana implikasi dari seluruh harapan-harapan manusia, dan demarkasi antara realitas dan konsep-konsep abstrak bekerja di tengah persaingan yang ketat. Kita tidak dapat menolak bahwa beberapa keadaan—pergerakan, perlawanan, pembebasan—menjadi suatu hal yang membutuhkan biaya-biaya materi atau non-materi (misalnya, perasaan, pikiran, konsep-konsep) agar dapat memberikan apa yang diharapkan oleh masyarakat.

Metode Psiko-Genetik

Pada dasarnya, setiap orang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa di dalam upayanya melakukan abstraksi. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa Feuerbach menetapkan kekuatan abstraksi tersebut sebagai kekuatan besar yang dimiliki manusia dan dengan demikian manusia memiliki kemampuan untuk memproyeksi sesuatu hal menuju objek di luar dirinya.

Kekuatan abstraksi tersebut memicu suatu metode psiko-genetik yang akan berperan penting di dalam kehidupan seseorang, khususnya memengaruhi cara pandang seseorang ke dalam realitasnya. Di dalam metode psiko-genetik, kita akan melakukan analisis dan evaluasi diri yang bertujuan untuk mengidentifikasikan beberapa term khusus—cinta, kebencian, khawatir, dll—yang pada dasarnya akan merepresentasikan apa yang kita kagumi sehingga di tahapan selanjutnya kita akan mengambil salah satu atau beberapa term tersebut.

Kemudian, kita akan melakukan suatu upaya memproyeksikan term tersebut ke dalam tingkat yang lebih tinggi—ke suatu hal yang terpisah dari diri manusia dan membentuk objek baru yang absolut. Term atau sifat yang sudah kita tentukan tersebut—diandaikan—bahwa sifat tersebut memiliki daya tarik bagi diri kita sendiri dan dengan demikian kita akan mendorong suatu ide yang cukup menarik bagi diri kita, sehingga kita mencoba menarik gagasan, term, atau sifat tersebut untuk diproyeksikan ke dalam sudut pandang yang lebih luas dan adikodrati—tidak hanya tentang Roh Absolut, namun dapat merujuk pada sistem yang raksasa atau ideologi tertentu yang pada dasarnya dianggap sebagai proyeksi dari nilai-nilai kebaikan dan harapan seseorang.

Dengan adanya proyeksi tersebut, pikiran kira akan membentuk suatu konsep yang sangat mendasar atau sangat pokok tentang term-term yang telah kita singgung di atas.

Baca juga:

Cita-Cita Kapitalisme adalah Proyeksi Pemilik Modal

Psiko-genetik yang sudah kita bahasa merupakan salah satu hal yang sering kita lakukan tanpa kita sadari. Akan tetapi, meski kita terbiasa melakukannya—proyeksi term-term—pada dasarnya dapat terbentuk dengan mengikuti pola pergerakan kolektif atau dengan represi dari suatu pihak yang memiliki kuasa atas alat-alat produksi, khususnya pada kapitalis.

Harapan yang ditanamkan oleh para kapitalis diproyeksikan dengan menjanjikan suatu pekerjaan yang dapat memberikan seseorang harapan di masa depan. Harapan-harapan yang dibentuk oleh para kapitalis—dalam kadar tertentu merupakan suatu kebaikan pada dirinya sendiri; ia baik bagi para pemilik modal—namun kita perlu menyadari bahwa harapan yang dibentuk oleh para kapitalis tersebut hanya untuk mengarahkan keinginan manusia yang bersifat plural tersebut ke dalam suatu jalan yang dianggapnya sebagai pilihan yang tepat; yang harus dijalani.

Melalui pekerjaan, seseorang dengan cita-cita yang berbeda-beda akan sekuat tenaga melakukan apa yang menurut mereka baik untuk mencapai impiannya. Kapitalisme yang pada dasarnya hampir tidak bisa dilepaskan dari penghisapan nilai lebih dan penindasan. Kelas proletar—ia merupakan tenaga bagi sistem perekonomian kapitalisme—dan beberapa tujuannya dengan sengaja dibentuk dengan apa yang menjadi stigma dari komersialisasi kapitalisme.

Misalnya, rumah yang bagus, mobil mewah, skincare yang mahal, sepatu branded, dll. Merupakan beberapa komoditi yang memberikan pengaruh yang besar pada aspek komersialisasi, harapan-harapan para pekerja dengan sengaja disusupi oleh beberapa komoditi yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Kelayakan hidup dan kesejahteraan yang pada dasarnya dapat dipenuhi dengan kebutuhan dasar adalah batas rata-rata yang dibutuhkan para pekerja. Barang-barang sekunder tersebut dianggap sebagai suatu pelengkap yang mau tidak mau, harus dipenuhi oleh para kaum proletar.

Akibatnya harapan yang menjadi cira-cita kaum proletar harus dipenuhi dengan segenap “selipan-selipan” komoditi yang menyebabkan keterhambatan kaum butuh untuk mencapai apa yang selayaknya mereka dapatkan. Akibatnya banyak para buruh atau kaum tertindas yang terhambat dan mereka tidak menjadi sadar atas apa yang sedang menimpa dirinya, bayangan ini sesuai dengan pembentukan harapan yang disengaja oleh para kapitalis.

Pergerakan kolektif para buruh dan kaum tertindas tidak akan terbentuk dengan baik selama proses penalaran kritis masyarakat tertindas masih diselimuti oleh hiper-optimisme dan harapan semu kapitalisme. Akibat yang dapat kita lihat saat ini adalah kaum buruh dan masyarakat tertindas menjadi lemah karena banyak tuntutan yang sebenarnya dengan sengaja dibuat oleh para kapitalis agar skeptisisme para buruh terhadap sistem kapitalisme dapat ditekan dan kepercayaan yang tidak berdasar tersebut dimanfaatkan melalui sense of belonging yang sering kali menjadi semboyan para kapitalis untuk menghisap nilai lebih dan menjalankan kegiatan sirkularnya dengan biaya-biaya yang rendah.

Buruh dan rakyat tertindas pada dasarnya tidak benar-benar memiliki harapannya secara mandiri karena ia masih dibentuk berdasarkan kepentingan-kepentingan para pemilik modal.

Baca juga:

Skeptisisme sebagai Jalan Keluar

Para buruh dan kaum tertindas harus memelihara dan membentuk skeptisisme yang kritis terhadap harapan-harapan yang dibentuk oleh para kapitalis dengan mengatasnamakan para buruh dan kaum tertindas—apakah mereka benar berpihak pada kesejahteraan para buruh dan kaum tertindas atau sekedar menjadi penyelamat bagi para kapitalis dan menumpuk kekayaan mereka?—hal ini menjadi kecurigaan yang harus diperhatikan oleh para buruh dan kaum tertindas.

Kecurigaan—di tengah era post-truth—adalah senjata yang paling fundamental untuk membentuk kesadaran para buruh dan melepaskan dirinya dari ikatan kapitalisme. Penghisapan yang terus terjadi dan kapitalisme yang tidak pernah tumbang merupakan tantangan paling besar bagi setiap orang. Kecurigaan yang dibutuhkan, bukanlah suatu kecurigaan tanpa dasar atau abstrak, namun kecurigaan yang harus diciptakan semestinya sesuai dengan isu-isu aktual dan dikaji melalui teori yang relevan sehingga praksis yang dilakukan tidak hanya berdasarkan tindakan-tindakan praktis yang hanya bersifat sementara atau dalam kurun waktu jangka pendek.

Kesejahteraan yang harus dibentuk bagi para buruh dan kaum tertindas pada dasarnya merujuk pada kesejahteraan jangka panjang dan sistem harus terbentuk sesuai dengan urgensi yang relevan bagi keberlangsungan hajat hidup banyak orang dan memperkecil kesenjangan sosial.

Referensi:
  • Suryajaya, Martin. 2016. Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer. Yogyakarta: Resist Book;
  • Suryajaya, Martin. 2016. Teks-Teks Kunci Filsafat Marx. Yogyakarta: Resist Book;
  • Marx, Karl. 2007. Das Kapital III: Proses Produksi Kapitalis secara Menyeluruh. Jakarta: Ultimus;
  • Suseno, Frans Magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama;
  • Bagus, Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama;
  • Feuerbach, Ludwig. 2008. The Essence of Christianity. Walnut: MSAC Philosophy Group.
Angga Pratama