Psikopat Klasik pada Operasi Syahid

Psikopat Klasik pada Operasi Syahid
Hans Beckert dalam film M (1931)

Pergeseran dari psikopat klasik ke sosiopat modern pada pelaku operasi syahid terlihat jelas akhir-akhir ini.

Ketika psikopat diurai sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap tidak sensitif, kasar, manipulatif, mencari sensasi dan antisosial, maka sosiopat menjadi viece versa-nya.

Psikopat klasik adalah gangguan kepribadian yang dapat ditandai dengan perilaku antisosial, impulsif. Tidak mengikuti atau mengabaikan norma di dalam masyarakat serta tidak memiliki perasan takut ataupun bersalah.

Pelaksanaan operasi syahid bisa saja bergeser trennya dari remote detonator bombing, atau dengan pengendalian jarak jauh tanpa adanya korban pelaku, ke vest bombing (bom rompi) atau suicide bombing (bom bunuh diri) ataupun pergeseran bentuk lainnya seperti meminjam subjek pelaku atau melakukan simbiosis mutualisme. 

Pelaku pengeboman untuk tujuan tertentu atau dalam istilah lainnya yang mempunyai relasi kuat dengan komunitas pelaku, seperti istilah amaliyah istisyhad atau amaliyah al intihar, merupakan bentuk-bentuk psikopat klasik dan sosiopat modern yang akan terus lahir dengan kekhasan masing-masing.

Kekhasan yang dimaksud semisal angkatan Amrozi cs ataupun Imam Samudera yang jelas menggambarkan bahwa mereka adalah operator psikopat klasik yang cerdas dan sistematis kejemaahan.

Keterampilan dakwah bil qolam-nya atau kemampuan agitasi mereka sangat bagus dan penuh keilmuan. Mereka tak segan-segan untuk berpidato bombastis. Setiap kata yang diucapkannya merupakan kesempatan untuk membuat wajah baru pergerakan dan sifatnya mendominasi dengan cerdas.

Seorang psikopat klasik pelaku pemboman cenderung memiliki hati yang dingin dan memikirkan matang-matang apa yang akan ia lakukan. Tidak seperti yang terlihat akhir-akhir ini yang terkesan sembarangan.

Seorang psikopat klasik operasi syahid, semisal Imam Samudera, melakukan rekrutmen berbasis pengartikulasian perasaan tertindas dan terancam melalui simbol-simbol kultural yang lekat dengan kejayaan masa lalu agamanya.

Baca juga:

Berbeda dengan operator syahid dari jenis sosiopat yang besar dan tumbuh dari komunitas media sosial di mana ia dibesarkan. Ketika merasa komunitas media sosialnya ditindas, dilecehkan, atau kepentingan dan nilai-nilai kolektifnya terancam, ia pun bereaksi. Sangat dangkal dan mudah terprovokasi.

Model-model operator jenis sosiopat ini lebih kepada ketertarikan mereka. Karena ada kesempatan petualangan yang seru dan memicu adrenalin di dunia nyata, seperti membawa senjata, ikut perang, berkelana, kawin banyak, dan sebagainya.

Jenis operator sosiopat ini merupakan sasaran empuk para pendoktrin yang umumnya menyasar para muda yang gelisah atau putus asa. Mereka kemudian melakukan operasi syahid untuk sekadar mengakhiri kehidupan dunia yang tak bermakna.

Keresahan pribadi dan kebutuhan individu untuk menemukan makna hidup lantas menjadi celah yang dimanfaatkan menjadi operator-operator syahid jenis sosiopat. Jenis ini suka memburu konten untuk kepuasan pribadinya. Karena pada dasarnya jiwanya rapuh dan merana.

Beda lagi dengan operator psikopat klasik. Memang hidupnya dari awal sudah didedikasikan untuk kepercayaan dan ideologinya. Model ini cenderung untuk membuktikan kualitas iman dengan proses yang sangat panjang dan berjenjang. Tidak terburu-buru nyebur ke kolam pertempuran fisik.

Pada dasarnya, amaliyah al-istisyhad (tindakan untuk mencari kesyahidan) dalam Islam—jika hal ini dihadapkan dengan kekuasaan yang mempertontonkan ketidakadilan dan kesewenangan—adalah sesuatu yang wajar. Sewajar pergerakan lainnya yang berbasis memperjuangkan kemerdekaan dan ketertindasan.

Psikopat klasik yang tersemat pada operator jenis ini mempunyai kekuatan-kekuatan khusus dalam menjalankan aksinya. Kekuatan manipulasi, gaya defleksi, ataupun trik dan tipuan, semuanya dipakai untuk membantu mereka dalam mempertahankan posisi nomor satu.

Operator yang menderita psikopat klasik tidak biasa menerima pujian. Tapi bila ada yang tidak beres, misal mendapat perundungan, mereka cepat bekerja untuk membereskan.

Psikopat klasik atau psikopat yang bisa membunuh tanpa rasa bersalah ini terlihat kebal terhadap segala jenis emosi dan rasa kemanusiaan. Semuanya terlihat kafir dan berdosa yang halal untuk dilenyapkan.

Tidak hanya operatornya, psikopat klasik juga menjangkiti para ahli fatwa yang melegalkan serangan operasi syahid ini. Sebagai contoh, bagaimana ngototnya Muhammad Nashir al-Din al-Albani, ulama hadis asal Albania, yang mengatakan bahwa bom bunuh diri adalah sebuah taktik perang modern.

Baca juga:

Begitu pun Yusuf al-Qardhawi, tak beda psikopatnya dengan al-Albani yang membolehkannya khusus untuk rakyat Palestina dalam menghadapi tentara zionis Israel di wilayah konflik Palestina.

Yusuf al-Qardhawi menyatakan hal demikian. Karena tidak melihat cara lain lagi untuk menghadapi keganasan tentara Israel. Sebuah pikiran yang sangat sempit dan terlihat keputusasaan fatwa.

Mereka berdua cukup psikopat dalam melakukan istinbath atau penarikan kesimpulan untuk sebuah hukum. Tindakan mereka untuk menghilangkan kemudaratan telah mendatangkan kemudaratan yang lebih besar.

Seorang operator psikopat klasik akan sangat mudah berbaur dan menempatkan diri mereka dalam lingkungan sosial. Mereka umumnya memiliki kecerdasan di atas rata-rata dalam memikat lawan bicara. Mereka mampu meniru berbagai emosi untuk keperluan perekrutan dan agitasinya.

Sedang operator sosiopat yang besar di media massa cenderung memiliki emosi yang labil dan sangat impulsif. Tidak sabaran dengan narsistik gaya pejuang. Cenderung spontanitas dalam komentar-komentarnya. Minim persiapan yang mendetail dalam hal apa pun.

Berbeda dengan psikopat klasik yang lebih mampu memanipulasi keadaan. Pada akhirnya, operator psikopat klasik memiliki keunggulan yang lebih baik daripada sosiopat dalam merencanakan kejahatan.

Mereka pun juga tidak kenal rasa takut dan tidak memiliki empati. Kesamaan antara operator psikopat klasik dan operator sosiopat modern adalah selalu menggunakan keadaan darurat sebesar mungkin dalam urusan agama.

Dalam artian, segala sesuatu yang mengganggu agamanya, berapa pun besarnya, maka ia anggap darurat dan wajib dibela hingga mati.

Baca juga:

Padahal kenyataannya, yang terjadi hanyalah singgungan kecil belaka yang bisa diselesaikan dengan cara damai. Semisal posisi agamanya belum sampai pada tingkat yang mengancam eksistensinya di muka bumi.

Kalaupun ada gangguan dan ancaman, itu masih di tingkat kewajaran serta dangkal alias baru pada tingkatan hajiyah. Salah satu indikasinya adalah terjadinya kesulitan dalam menjalankan aktivitas agama dan sebagainya yang tidak sampai melenyapkannya dari muka bumi.

Oleh karena itu, tindakan al intihar ataupun al istisyhad dengan menyerahkan nyawa atas nama agama yang menewaskan si pelaku serta orang lain yang tidak terlibat sama sekali adalah tindakan yang tidak dibenarkan.

Tidak tercatat dalam sejarah Muhammad saw tentang adanya tindakan al-intihar (bunuh diri) sebagai taktik perang. Pun, di kalangan sahabat ketika melawan kemungkaran dan ketidakadilan.

Kematian berbuah syahid memang sering terjadi. Namun itu adalah kematian secara kesatria ataupun duel-duel yang jantan di medan laga.

Baik operator amaliyah istisyhad ataupun para ahli fatwa kurang memahami skala prioritas antara dharuriyah (darurat/primer),hajiyah (sekunder), tahsiniyah (tersier), dan rukhsah (keringanan).

Jika gangguan atau ancaman ataupun serangan terhadap agama berada pada tingkat hajiyah apalagi tahsiniyah, maka tidak dibolehkan mengorbankan nyawa dengan cara apa pun, apalagi bunuh diri.

Nyawa manusia merupakan kebutuhan dharuriyah. Karena bagaimana pun kondisinya, kebutuhan dharuriyah harus didahulukan penjagaannya daripada kebutuhan-kebutuhan lain di bawahnya.

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)