Pudarnya Social Trust Kita

Pudarnya Social Trust Kita
Ilustrasi: thomaspetty.com

Nalar NetizenSocial trust, modal penting bagi sebuah masyarakat beradab, pudar ketika kamu bertemu opini yang bertentangan secara tajam di media sosial, lalu kamu bukannya mengajukan kontra-argumen dalam sebuah diskusi yang sehat, tetapi mengambil jalan pintas dengan melakukan screenshot, mention teman-teman sepemikiran untuk mengeroyok mem-bully, atau ujug-ujug mention seluruh aparat negara, mulai dari Bareskrim sampai Presiden RI.

Kalau kita mau jujur, di luar aksi-aksi terorisme yang mengoyak kemanusiaan kita belakangan ini, kita sebagai netizen sudah lebih dulu terbiasa mempraktikkan cara-cara teror dalam menyikapi perbedaan opini di media sosial.

Dan yang paling mengerikan, respons kita terhadap terorisme semakin menghilangkan social trust kita dengan saling memata-matai antar-sesama, menaruh curiga berlebihan kepada mereka yang kebetulan berpenampilan sama dengan teroris, dan, secara tidak sadar, memberikan cek kosong kepada negara untuk menuliskan regulasi apa pun untuk makin mengawasi kehidupan sehari-sehari kita sebagai warga.

Lihat juga: Teror Mengganas, Ketegasan Jokowi Menggila, Netizen pun Kian Geram

Jelas, terorisme harus diberantas. Tapi, tanpa indikator-indikator yang terukur secara spesifik dalam strategi pemberantasannya, UU terorisme yang dalam proses revisi ini akan menambah daftar regulasi karet yang bisa digunakan untuk memenjarakan atau bahkan membunuh siapa saja.

Berapa banyak di antara kita, netizen, yang saat ini lantang mendesak disegerakannya pengesahan UU Terorisme tapi tahu dengan baik pasal-pasal yang diperdebatkan? Tidak banyak, saya kira.

Ketika kita berbicara tentang kewenangan negara untuk memonopoli kekerasan atas nama hukum, tentu tidak cukup bagi kita melihatnya dari mata seekor cebong atau kampret. Karena kita bukan keduanya, karena kita adalah manusia.

*Nanang Sunandar

Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet