Puisi Era Milenial (?)

Puisi Era Milenial (?)
Foto: iStock

Puisi era milenial? Apa maksudnya?

Menanggapi sahabat saya yang mempertanyakan tentang kenapa kok seseorang penulis puisi memilih belajar hal-hal yang terasa sangat kuno.

Pertama, saya menyayangkan statusnya yang diunggah di publik. Kalau penulis puisinya baca, kan, bisa tersinggung? Tapi status publik itu juga berguna sebagai umpan, kalau-kalau banyak yang menanggapi dan kemudian pengetahuan pemilik status bertambah.

Sahabat tersebut menyebutkan kira-kira begini: “Ini, kan, era milenial, hello! Pemilihan diksi zaman kolonial adalah kemunduran, meski fenomenal.”

Duh, gusti! Saya kok tidak pernah tahu puisi era milenial itu seperti apa. Apa iya sahabat saya tersebut tidak akan pusing kalau lihat puisi biner? Kan canggih tuh, pakai kode mesin?

Saya pernah baca sebuah puisi biner. Kalau diterjemahkan pun isinya adalah kisah romantis abad ke-16.

Terus, apa beliau juga tidak akan mumet baca puisinya Kak Shiny yang bentuknya angka dikotak-kotakin? Kok lama-lama rasanya gemas, ya, kalau ingat ‘era milenial-era milenial’ itu.

Bagi saya sendiri, ke-‘era milenial’-an itu saya dapati dengan rasa takjub ketika membaca puisi-puisi Kim Al Ghozali, sajak-sajak Talamariam, atau lirik-lirik lagu Homicide. Rasa puitik juga lahir saat membaca koran-koran sosialis semacam Arah Juang, Militan Indonesia, atau pengumuman bazar tanpa uang yang diunggah salah satu akun sosialis dari Jawa Timur.

Sebenarnya, apa sih maksud beliau dengan ‘puisi era milenial’ yang sedang ia ributkan itu?

Saran saya sih, banyak baca sejarah, Bray. Sastra juga punya sejarah. Mungkin penulis yang sedang Anda pertanyakan kemajuan atau kemundurannya itu menemukan bahwa banyak yang tidak berarti dalam puisi-puisi yang sok milenial, dan memilih mundur ke zaman baheula karena di sana banyak hal unik yang masih hidup sampai sekarang.

So, di mana sih letak ke-‘era milenial’-an itu sebenarnya?

    Patricia Pawestri

    Karyawan | Penikmat Sastra | Penulis Buku "Metafora Goodnick Griffin"