Punahnya Permainan Tradisional

Punahnya Permainan Tradisional
©Kumparan

Punahnya Permainan Tradisional

Saat sedang antre menuju kasir di salah satu indomart kota Jogja, mataku menangkap dua anak kecil. Dugaanku sementara keduanya usia sekolah dasar. Dan memang benar, ketika saya menanyakannya, keduanya serempak menjawab “SD”. Yang satu kelas satu duduk di kelas satu dan yang satunya lagi duduk di kelas lima sekolah dasar.

Mereka berdua tepat berada di depan saya. Sambil tersenyum, saya bertanya, “Mau beli apa, dek?” Yang kelas lima mungkin merasa lebih bertanggung jawab lantas menjawab dengan aksen inggrisnya tak jelas tetapi saya mampu menangkap maksudnya, “Mau top up game free fire.”  Saya menjadi penasaran. “Lha kalian gak belajar?” Keduanya menjawab dengan senyuman.

Ketika tiba giliran keduanya, saya melihat mereka menyorongkan uang Rp20.000 sambil menyampaikan maksud dan tujuannya ke kasir. Setelah diproses, keduanya pun hilang dari pandanganku. Berjalan keluar dengan kegembiraan yang tak terkira.

Pengelaman bertemu dengan kedua anak itu membawaku pada masa laluku. Kenangan akan masa-masa duduk di bangku sekolah dasar di sebuah desa nun jauh di Flores. Masa kanak-kanak yang jauh dari sentuhan teknologi digital dengan tawaran beragam permainan berbasis aplikasi android. Jangankan jaringan internet. Handphone saja tak punya. Yah..dunia memang semakin maju. Teknologi membawa perubahan yang begitu pesat pada setiap lini kehidupan manusia.

Sebagai anak desa, saya dan teman-teman hanya mengenal berbagai permainan tradisional seperti congklak, tali merdeka, hadang, karet, kelereng, dan masih banyak lagi jenis permainan tradisional lainnya. Tentunya setiap daerah punya sebutan sendiri terhadap jenis permainan. Permainan-permainan itu seringkali dimainkan saat pulang dari sekolah. Dan setiap permainan itu memiliki masa berlakunya masing-masing.

Di daerahku dikenal dengan istilah ‘musim’. Mirip seperti musim hujan atau musim kemarau. Lamanya sebuah musim tak tentu. Biasanya yang menentukan adalah orang yang memiliki banyak kelereng atau karet.

Permainan-permainan tradisional tersebut tentunya memiliki nilai pendidikan karakter bagi anak-anak seperti saya. Meskipun pada saat itu saya sendiri tak mampu membaca nilai pendidikan karakter apa yang ditanamkan. Namun, setelah beranjak dewasa, saya kemudian menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak nilai pendidikan yang ditanamkan melalui permainan tradisional.

Sebagai contoh, dalam permainan kelereng. Setiap orang yang terlibat dalam permainan tersebut harus benar-benar teliti sehingga kutikannya dapat membentur kelereng lawan. Biasanya ditargetkan jumlah kutikan menjadi 50 kutikan. Barangsiapa yang mencapai jumlah tersebut maka dialah yang memenangkan pertandingan.

Baca juga:

Lain lagi dengan permainan bola kasti. Permainan yang sekelompok orang ini melatih kekompakan kolaborasi sebagai satu tim. Tentu masih banyak lagi permainan tradisional yang memiliki nilai-nilai pembentukan karakter anak bangsa yang tidak bisa dipaparkan satu persatu.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kehadiran permainan-permainan tradisional itu pun menjadi punah. Anak-anak tidak lagi menggandrungi permainan-permainan tersebut karena lebih dimanjakan dengan permainan berbasis teknologi yang lebih elit.

Kita memang tak bisa menyalahkan anak-anak zaman sekarang. Karena toh kita hidup di dunia yang berbeda. Dunia mereka adalah dunia yang dipenuhi dengan kemutakhiran teknologi. Namun yang terpenting adalah bahwa sejauh mana permainan-permainan berbasis teknologi tak serta merta melenyapkan karakter anak bangsa.

Jetho Lawet
Latest posts by Jetho Lawet (see all)