Quo Vadis GMNI Abad ke-21

“Bung Karno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi menjelaskan bahwa “Renaissance-Pedagogie” adalah mendidik supaya bangun kembali. Itulah yang harus dikerjakan oleh kaum muda. Itulah yang harus mereka sistemkan. Bukan separatisme atau perang saudara. Bahagialah kaum muda yang dikaruniai kesempatan oleh Tuhan untuk mengerjakan Renaissance-Pedagogie”

Pernyataan tersebut seiring dengan tema diesnatalis yang diangkat oleh DPP GMNI, seharusnya menjadi inspirasi dari semua kader GMNI yang tersebar di Indonesia. Pasalnya, kalimat yang tertuang di atas menjadi spirit organisasi untuk mewujudkan semangat persatuan Indonesia di tengah kebinekaannya yang dituangkan secara spesifik dalam Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, Sosio-Politik, Sosio-Ekonomi, Sosio-Gender, Sosio-Kesehatan, hingga Sosio-Teknologi dalam rangka berpartisipasi dalam kemajuan bangsa Indonesia.

Meskipun beberapa wacana dari beberapa kader GMNI yang memberikan pandangan yang konstruktif dan destruktif, saling memberikan support hingga sampai dengan saling sikut sana-sini. Misalnya sederhananya, dalam konteks destruktif yakni mengkritik sesama kader dengan menggunakan pendekatan sentimen politik, meskipun itu realitas.

Contohnya yakni diduga kader malas membaca, berpikir, berdiskusi, menulis, bahkan malas dalam turun ke jalan dalam rangka mengadvokasi kepentingan rakyat.

Sedangkan dalam wacana konstruktif yakni melakukan penyadaran secara kolektif, memberikan saran ke beberapa kader GMNI untuk bergerak maju, bersama sama belajar untuk membaca, menulis, hingga melakukan kegiatan riset secara ilmiah dalam rangka melaksanakan advokasi bagi masyarakat dengan menggunakan marhaenisme menjadi instrumen asas perjuangannya.

Ada sebuah istilah bahwa “Kritik tanpa Memberikan Contoh Baik yang Konsisten” ibarat seperti kader “Tong Kosong Nyaring Bunyinya” (utopis).

Sehingga ketika pasca ber-GMNI dalam konteks kelembagaan formal, maka bekal dari organisasi tersebut dapat terimplementasikan dalam dimensi pekerjaan maupun pengabdian. Pasalnya, perjuangan untuk rakyat tidak berhenti dalam wacana berorganisasi, melainkan continuitas.

Hal tersebut banyak dijumpai beberapa kader GMNI pasca berorganisasi secara kelembagaan menempati beberapa jabatan strategis maupun lahan pengabdian, hingga belum mendapatkan kesempatan berproses dalam ruang praksis di lembaga negara.

Baca juga:

Menurut amat penulis, bagi kader yang mendapatkan amanah untuk bekerja dan mengabdi (misalnya di lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif atau menjadi staf-nya para pemangku kebijakan) menjadi sebuah kebanggan tersendiri.

Pasalnya, kesempatan tersebut dalam rangka melaksanakan amanat revolusi sebelumnya yang masih belum selesai, namun sangat disayangkan ketika beberapa kader yang menjadi pemangku kebijakan beserta staf-nya keluar dari jalur amanat penderitaan rakyat, cenderung indivualistik-elitis dan belum menyentuh aspek kolektif kolegial.

Namun bagi kader yang belum mendapatkan kesempatan untuk berproses di lahan pengabdian, maka jangan berkecil hati, masih banyak lahan-lahan untuk proses perjuangan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa dari multidimensi apapun, selama kita berikhiar dan “kesabaran revolusioner”.

Saya meyakini kita dapat menikmati kehidupan yang begitu indah, yakin bahwa “Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang” akan berpihak pada jalur kebenaran, selama berpedoman pada ajaran keluhuran para “The Founding Father”. Oleh karena itu, setialah pada sumbermu dan ajarannya.

Di lain itu, penulis mencoba berinisiatif untuk menyinggung secara singkat pendekatan Materialisme Dialektika Historis (MDH) menyesuaikan dengan kondisi perkembangan zaman pada abad ke-21, serta memberikan partisipasi dalam ruang publik demi mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih baik ini, dalam lanskap ruang lingkup lokal, nasional hingga internasional.

Secara teoritik, MDH berangkat dari inspirasi yang dicetuskan oleh tokoh yang dikenal sebagai guru besar proletar yakni Karl Marx dan Fredrich Engels pada abad ke-19 (Aidit: tentang Marxisme), Menurut Njoto (1961) dalam tuturnya mengatakan “Materialisme adalah konsepsi filsafat Marxis, sedang dialektika adalah metode-nya” sedangkan “materialisme historis adalah penerapan atau pengenaan materialisme dialektik ke alam sejarah manusia”.

“Secara singkat bahwa Materialisme Marx merupakan pengertian bahwa keseluruhan objek yang menyusun realitas ini tak lain adalah efek dari aktivitas subjek, Dialektika, pendapat Njoto merupakan metode dari materialisme Marxis. Artinya, filsafat Marx yang bertumpu pada konsepsi materialis, bahwa yang terselubung pada jantung realitas sesungguhnya tak lain adalah praxis subjektif yang jadi material, hanya dapat diekspresikan oleh satu-satunya metode yang cocok dengan karakter materialis.

Sedangkan historisitas merupakan bercermin daripada inspirasi dari filsafat Hegel, yang mana pandangan inilah yang dikenal sebagai historisisme, atau pengertian bahwa sejarah dipimpin oleh suatu teleologi internal. Ada komentator yang menyatakan bahwa historisisme Marx ini merupakan ekses dari ketergantungannya pada filsafat Hegel. “(Martin Suryajaya: Berpikir dengan Pendekatan Materialisme Dialektis dan Historis).

Halaman selanjutnya >>>
Aji Cahyono