Quo Vadis GMNI Abad ke-21

Momentum diesnatalis ke-68 bagi GMNI, tentu segenap kader di semua stakeholder dalam rangka mewujudkan cita-cita bersama secara kolektif kolegial. Adapun secara filosofis lambang diesnatalis GMNI ke-68 yang termuat yakni:

Pertama, Angka 68 yang menyerupai Layar Kapal Terkembang: menggambarkan GMNI diharapkan tetap mampu mengarungi samudera perjuangan dan dapat menjawab arus zaman. Kedua, Tiang Kapal: Tegak lurus dalam menjalankan nilai-nilai perjuangan. Ketiga, Kapal dengan 3 Baris Papan: Melambangkan organisasi sebagai wadah perjuangan dengan ideologi Marhaenisme.

Keempat, Warna putih: Melambangkan kesucian dan keluhuran budi dalam berjuang dan berfikir. Keempat, Warna Merah: Melambangkan semangan dan keberanian dalam menjalankan dan memperjuangkan cita-cita Marhaenisme. Kelima, Warna Hitam: Melambangkan ketegasan berpihak pada kaum marhaen. Keenam, Warna Emas: Melambangkan harapan serta kejayaan tercapainya Sosialisme Indonesia.

Filosofis yang terintegrasi, kapal yang sedang berlayar melewati samudera lautan yang luas, mencakup aspek teritorial lokal dan nasional, menyebarkan propaganda kebangsaan yang bercirikan humanisme, seharusnya menjadi tonggak bersama dalam menyusun sebuah kekuatan yang terstruktur dan sistematis, serta bergerak secara progresif-revolusioner. Ada pernyataan “Satu Kata dan Perbuatan” adalah narasi yang dapat menginspirasi bagi kita semua sebagai kader GmnI secara kultural maupun struktural.

Kapitalisme memang nyata dan ada, hal ini tidaklah cukup hanya dengan menggunakan pendekatan sosio-teknologi dalam rangka menjawab tantangan zaman yang bias, melainkan adanya unsur kolaboratif ajaran tentang pentingnya sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi secara kolektif melalui gotong-royong. Bahkan Bung Karno pernah mengatakan bahwa “Kapitalisme tidak dapat dimusnahkan, melainkan kapitalisme hanya tertidur”.

Filosofis yang digagas oleh GMNI dalam diesnatalis yang digagas oleh Ketua Umum Arjuna Putra Aldino dan kawan-kawan, menjadi senjata dalam rangka mereduksi sirkulasi pergerakan kapitalisme dengan cara gotong royong.

Fenomena yang berkembang saat ini, bahwa kita sebagai kader GMNI harus tegak lurus dalam menjalankan misi marhaenisme sebagai alat perjuangan, berani dalam mengambil keputusan dan tindakan secara ideologi, melawan fanatisme buta yang tidak substantif, serta didasarkan pada kesucian dan keluhuran budi dari hati ke hati dalam rangka memanusiakan manusia dan mencerdaskan manusia.

Baca juga:
Aji Cahyono