Quo Vadis Nasionalisme Islam?

Quo Vadis Nasionalisme Islam?
©NU Online

Menjelang Hari Santri Nasional, Sindonews menerbitkan opini yang berjudul “Santri dan Nasionalisme Islam” ditulis oleh Syaiful Arif (Staf Ahli MPR RI dan Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila) terbit di media Online pada Jumat, 21 Oktober 2022.

Dalam argumentasi yang ia bangun mengenai Nasionalisme Islam, berangkat dari persepsi Syaiful Arif dangan menggunakan sudut pandang historis yang menyebutkan dalam pernyataannya bahwa KH Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur melakukan analisis kesejarahan Nahdlatul Ulama (NU) dalam berbangsa dan bernegara, serta berangkat dari Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari, sehingga menurutnya bahwa Gus Dur meletakkan sebagai bagian dari proses panjang Nasionalisme Islam yang dibentuk oleh NU.

Terdapat lima fase poin yang ia bangun yakni: Pertama, Pembentukan Kebangsaan Islam (Islamic Nationhood), Kedua, Pembentukan Negara nasional berdasarkan dasar Negara nasional yang ditafisrkan secara islami. Ketiga, pembelaan Negara dan pertahanan kemerdekaan dari serangan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) lewat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Keempat, pengabsahan pemerintah Indonesia atas nama syariah Islam. Kelima, penegasan keselarasan Islam dan Pancasila dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo, 1983 (Selengkapnya baca tulisan Syaiful Arif dengan judul ‘Santri dan Nasionalisme Islam,’ di Sindonews).

Dalam konteks Kebinekaan, hal tersebut sangat pentingkah menggunakan diksi ‘Nasionalisme Islam’ bercermin dari kerangka historis yang ditulis oleh Syaiful Arif?

Saya rasa amat seyogianya harus dijadikan sebagai bahan diskursus atau perdebatan ilmiah yang amat penting oleh beberapa para pengamat, pengkaji, akademisi hingga peneliti, untuk memberikan tafisan yang kuat-paradigmatik dengan sudut pandang maupun perspektif yang beragam mengenai diksi, jika perlu adanya pengujian sebuah diksi, untuk memperkaya khazanah keilmuan.

Dalam hal ini, maka masyarakat Indonesia yang multikulturalisme Agama dan Penghayat Kepercayaan menurut penulis rasa masih menggunakan “Nasionalisme Indonesia” dalam konteks Ke-Indonesiaan sebagai diksi yang dapat menyatukan dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangan sampai Pulau Rote, terutama bagi kalangan umat Islam.

Penggunaan Diksi ‘Nasionalisme Islam’

Saya mencoba cari di mesin pencarian Google terkait dengan penggunaan diksinya menggunakan bahasa Indonesia. Temuan yang muncul yakni Pertama, ‘Nasionalisme Islam adalah Nasionalisme Kemanusiaan’ ditulis oleh M. Aminulloh RZ di Kompasiana pada 1 September 2020, secara umum menggambarkan tentang nasionalisme sebagai berbangsa dan bernegara, dan Islam sebagai ajaran kemanusiaan yang universal.

Baca juga:

Kedua, ‘Nasionalisme dan Kebangkitan dalam Teropong’ (Terbit di Mozaik Vol.3 No. 3, Juli 2008) ditulis oleh Ita Mutiara Dewi (Staf pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta), dalam artikelnya mengutip pemikiran Hans Kohn (Nasionalisme Arti dan Sejarahnya, Terj Sumantri Mertodipuro) menggambarkan bahwa Nasionalisme merupakan paham tentang kesetiaan tertinggi individu diserahkan kepada Negara kebangsaan.

Ia menguraikan soal gagasan nasionalisme sering diadopsi dalam nasionalisme Islam sebagai kesetiaan warga Negara terhadap bangsa-negara yang selaras dengan Islam, meskipun di setiap wilayah penerapannya berbeda. Dalam hal ini, bahwa Nasionalisme Islam dirasa masih kabur dalam penjelasannya. Dalam konteks Ke-Indonesiaan, secara teoritik belum kuat.

Kemudian saya coba searching di media NU Online, ditemukan dua judul artikel yakni Pertama, ‘Nasionalisme Islam Nusantara’ (Terbit 31 Mei 2017) ditulis oleh Muhammad Iqbal, dalam penguraian isinya tidak menggunakan diksi ‘Nasionalisme Indonesia’, yang dijumpai yakni ‘Nasionalisme dengan Islam’, yang mana Nasionalisme diambil dari spirit Bung Karno sebagai representatif tokoh yang mengakomodasi semua kalangan, dan Islam sebagai esensi spirit dari pembebasan terhadap hegemoni dari Kolonialisme Belanda sebagai Penjajah.

Kedua, ‘Bung Karno, Nasionalisme Islam, dan Pancasila’ (Terbit 7 Juni 2011) oleh Imam S Arizal, terdapat diksi ‘Nasionalisme Islam’ menggunakan konteks Indonesia dalam proses penggalian, perumusan hingga melahirkan Pancasila. Terdapat juga diksi ‘Nasionalisme Islam Indonesia’ menggambarkan makna luas, tidak sektarian, berlandaskan kebinekaan. Namun, belum ada pembanding sekaliber akademisi yang paripurna yang menguraikan terkait dengannya.

Meskipun demikian, argumentasi yang dibangun oleh Syaiful Arif dalam opininya, diksi ‘Nasionalisme Islam’ secara umum menekankan pada aspek nilai historisitas dari seorang santri berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya, beserta proses perumusan dasar Negara.

Diketahui sejak Islam masuk ke Nusantara, memasuki abad ke-20 bahwa populasi penduduk menganut agama Islam semakin bertambah hingga abad ke-21.

Namun boleh jujur, bahwa penggunaan istilah ‘Nasionalisme Islam’ dalam konteks Indonesia, jika hanya berkaca pada satu perspektif kesejarahan belum cukup, maka perlu adanya eksplorasi data yang valid, primer, dan atau otoritatif. Karena diksi ‘Nasionalisme Islam’ dalam konteks Indonesia cenderung “Islam Sentris” dan belum mengakomodir masyarakat yang menganut Agama selain Islam.

Dua Sisi Biner

Di lain itu, dalam konteks Indonesia sebagai Negara Kebinekaan yang mayoritas penduduk Muslim, lebih tepat menggunakan diksi ‘Nasionalisme Islam’, ‘Islam sebagai Inspirasi Nasionalisme Indonesia’, atau ‘Titik Temu Islam dan Nasionalisme’ dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan? Ini yang menjadi pertanyaan yang amat serius. Saya mencoba menguraikan dalam wacana versi progresif – moderat maupun versi konservatif – radikal.

Halaman selanjutnya >>>
Aji Cahyono
Latest posts by Aji Cahyono (see all)