Quo Vadis Politik?

Quo Vadis Politik?
©Diniapost

Quo Vadis Politik?

Jika kau hanya membaca buku yang orang lain baca, kau hanya akan berpikir sebagaimana orang lain pikir. ~ Haruki Murakami

Demikian kiranya realitas mayoritas manusia Indonesia. Manusia konsumtif, tidak hanya dalam hal style, mode berpakaian atau istilah kerennya pop culture, tetapi juga pada pemikiran.

Sebagai manusia Indonesia, hal ini benar terjadi. Sekolah formal yang hanya banyak mengajarkan teori, rumus, dan hafalan.

Sejak dini, kita tidak terbiasa untuk bersifat ilmiah. Kita tidak punya kebebasan untuk melakukan hal-hal yang imajinatif dan kreatif guna membuat pengetahuan baru. Ibarat bayi makan bubur, yang hanya disuap dan disuap.

Senada yang Irham Thoriq katakan di salah satu esainya bahwa masyarakat kita sebenarnya tidak malas membaca. Hanya saja, bahan bacaan yang tidak ada. Mau beli, tak punya uang.

Pelajar di sekolah pun tak belajar bagaimana mencintai buku, bagaimana mencintai pengetahuan. Semua serba hafalan. Hal ini pula yang mungkin membuat mereka, ketika sudah dewasa, jauh dari buku. Entahlah.

Lalu apa hubungannya dengan politik?

Sebelum jauh menyelam di kedalaman ilmu politik, alangkah baiknya untuk sedikit kembali melihat sejarah politik dunia.

Secara etimologi, “politik” berasal dari bahasa Yunani, polis dan teta. Polis berarti “kota/negara”, teta berarti “urusan”. Jadi, politik ialah urusan tentang negara.

Baca juga:

Benar bahwa istilah politik pertama kali bermula di Yunani. Ketika sekian banyak orang ingin hidup tenteram dan damai, pada akhirnya mereka menggabungkan diri di sebuah bukit untuk mendapatkan perlindungan. Bukit inilah yang kita sebut sebagai polis/kota yang luasnya tidak seberapa luas dengan negara modern saat ini.

Untuk mengatur jalannya polis, baik dalam pemenuhan kebutuhan pangan hingga hubungan antara rakyat dan penguasa, di saat itulah hadir pemikiran tentang politik.

Salah satu filsuf termasyurnya ialah Socrates. Menurutnya, tugas negara adalah memajukan kebahagiaan para warga negaranya untuk membuat jiwa mereka menjadi sebaik mungkin. Meski pada akhirnya ia harus mengakhiri hidupnya dengan hukuman mati (meminum racun). Sebab pemikirannya yang jenius hanya dianggap dapat merusak citra kekuasaan pada waktu itu.

Kembali pada konteks keindonesiaan. Strategi politik maupun ideologi politik terejawantahkan melalui partai politik, sebagaimana fungsi partai politik dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Pasal 11.

Setidaknya, poin terpenting bahwa partai politik berfungsi sebagai sarana pendidikan bagi anggota dan masyarakat luas. Ini bertujuan agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun sering kali justru ketika mereka menduduki kursi legislatif, serta-merta lupa akan tugas dan kewajibannya.

Kedua, penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. Tak ada yang menafikan, bahkan keberadaan partai politik jauh dari bagaimana mestinya.

Tahun ke tahun, hasil survei tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik pun tak pernah meningkat. Hampir selalu berada pada tingkat terendah. Perampasan hak tanah atas rakyat, semua atas nama negara. Regulasi-regulasi yang DPR buat hanya sekian persen yang berpihak terhadap rakyat. Selebihnya, hanya menguntungkan golongan-golongan tertentu.

Mari coba kita kembali ke masa lalu kehidupan manusia Indonesia pra-teknologi. Jauh di masa lampau, nenek-kakek moyang kita telah mengajarkan untuk hidup mandiri. Bercocok tanam, bertani, itulah corak kehidupan mereka. Toh mereka hidup bahagia, dapat mengisi perut pada waktunya.

Halaman selanjutnya >>>
Muh Ridhal Rinaldy
Latest posts by Muh Ridhal Rinaldy (see all)