Raja di Tanah Republik; Kiprah Sultan Hamengku Buwono IX dari Yogyakarta

Raja di Tanah Republik; Kiprah Sultan Hamengku Buwono IX dari Yogyakarta
©Dok. Pribadi

Kesuksesan Indonesia sebagai bangsa, dalam pengertian keberhasilannya muncul di antara bangsa-bangsa besar dunia, tidak dapat dipandang sebagai hal yang biasa. Kesuksesan itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan didapatkan dengan penuh perjuangan dan ancaman bahaya sehingga banyak menuntut pengorbanan. Perjuangan itu datang dari berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari orang biasa hingga para raja-raja nusantara.

Seperti diketahui bersama, jauh sebelum Indonesia merdeka seperti saat ini, Indonesia pernah berada dalam era kerajaan seperti Majapahit, Sriwijaya, Demak, hingga Mataram Islam. Semua kerajaan itu sangat besar kontribusinya bagi perjuangan melawan penjajahan.

Meski pada akhirnya kekuasaan mereka berakhir seiring Indonesia memasuki masa kemerdekaan yang tidak lagi bersistem monarki, peran para raja nusantara itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Kenyataan inilah yang membuat John Monfries, salah satu ilmuwan dari Australian National University (ANU), menulis buku tentang “Raja di Negara Republik” yang terbit pada 2018.

Buku setebal 478 halaman ini merupakan biografi politik Sultan Hamengku Buwono IX (1912-1988), salah satu dari beberapa bapak pendiri Indonesia yang sangat dihormati. Meskipun dihormati di dalam dan di luar negeri, ini adalah biografi berbahasa Inggris pertamanya. Hal ini sebagian besar karena sultan adalah orang yang sangat tertutup dan informasi mengenai kehidupannya tidak mudah diakses.

Meskipun kehidupan pribadi sultan Hamengku Buwono IX sulit diakses, berkat kecermatan, keahlian, dan pengalamannya sebagai seorang peneliti, John Monfries mampu menghadirkan sepenggal kisah perjuangan Sultan Hamengku Buwono IX, baik bagi masyarakat Yogyakarta secara khusus maupun bangsa Indonesia secara umum.

Buku ini terdiri dari 10 bab. Masing-masing bab terdiri dari: 1). Pengantar dan pertimbangan-pertimbangan teoritis, 2). Masa muda, 3). Dorojatun menjadi sultan, 4). Pendudukan Jepang, 5). Revolusi fase pertama, 6). Revolusi serangan Belanda dan akibatnya, 7). Masalah-masalah kemerdekaan, 8). Akhir dari demokrasi terpimpin dan bangkitnya Orde Baru, 9). Hamengku Buwono di Orde Baru, 10). Kesimpulan.

Sosok Sultan Hamengku Buwono IX

Hamengku Buwono IX, meskipun sangat menonjol dalam perpolitikan Indonesia untuk waktu yang lama, belum menarik studi penuh dalam bahasa Inggris. Hamengku Buwono IX kurang memiliki karisma dan kemampuan berpidato seperti yang dimiliki Sukarno, gaya menariknya Adam Malik, ketekunan administratif Hatta, intelektualitas Syahrir, atau daya perintah langsungnya Nasution atas pasukannya.

Namun, dari berbagai tokoh yang terlihat di masa revolusi, hanya Adam Malik yang memiliki karier lebih lama. Tetapi, meskipun Adam Malik tidak meninggalkan warisan politik yang abadi, Hamengku Buwono IX mewariskan sebuah kerajaan yang berkembang kepada anak dan penerusnya.

Ketika para pemimpin republik tidak mampu lagi menanggung tingkat bahaya di Jakarta pada 1945, mereka terpaksa pindah ke Yogyakarta atas undangan sultan. Saat Belanda menangkap para pemimpin tersebut pada 1948, sultan mampu menentang para penjajah secara efektif.

Sultan Hamengku Buwono IX memiliki nama asli Gusti Raden Mas (GRM) Dorojatun, lahir pada 12 April 1912 di Yogyakarta. Ia merupakan putra dari Sultan Hamengku Buwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. GRM Dorojatun dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono IX pada 18 Maret 1940.

Hamengku Buwono IX, Kekuasaan dan Perjuangannya

Hamengku Buwono IX adalah seorang politikus cerdas, pragmatis non ideologis yang dengan cerdas menggunakan status turunannya sebagai sultan, tidak hanya untuk mendukung kepentingan republik selama masa revolusi, namun juga untuk memastikan ketahanan politiknya sendiri dan pada akhirnya untuk mempertahankan kerajaannya.

Hamengku Buwono IX meninggalkan warisan yang positif. Apa yang disebut sebagai warisan fisik kerajaan Yogyakarta tetap merupakan sebuah kerajaan dan Daerah Istimewa di dalam Republik Indonesia. Bertahannya penetapan itu, lama setelah penghapusan entitas yang serupa di daerah bekas koloni lainnya seperti India, adalah sebuah fenomena yang luar biasa, dan merupakan sebuah penghargaan terhadap kekuataan tak terputus dari mitos kerajaan Jawa, dan juga kemasyhuran yang tidak hilang dari Hamengku Buwono IX sendiri.

Meski telah banyak mendapatkan pertentangan mengenai Undang-Undang Keistimewaan, tetap saja penghargaan terhadap kerajaan tidak pernah hilang. Di sisi lain, kesetiaan dari banyak rakyat Yogyakarta terhadap sultan tidak bisa diremehkan. Faktor ini mungkin bisa mengungkapkan sesuatu mengenai identitas Indonesia dalam apa yang mungkin dianggap sebagai jantung dari Indonesia.

Apakah kekuatan yang gigih dari kesetian feodal, setidaknya di Yogyakarta, merefleksikan tidak hanya kekuatan yang ulet dari mitos kerajaan Jawa, namun juga beberapa kelemahan dalam mitos nasionalis Indonesia yang lebih terkini. Orang Jawa telah terbiasa dengan konsep kesetiaan pada raja mereka, lebih lama dibandingkan dengan sebuah gagasan akan kesetiaan pada republik yang tanpa wajah (tentu saja republik tidak pernah berwajah, hanya saja orang Indonesia memindahkan rasa hormat mereka yang tadinya untuk raja-raja dari dinasti keraton Jawa yang berusia tua, ke pemimpin baru yang diwakili oleh Soekarno dan seterusnya).

Sultan Hamengku Buwono IX dikenal sebagai sosok yang hidup di dua dunia. Dalam artian, di satu sisi ia sebagai raja Jawa dan di sisi lain hidup sebagai manusia biasa yang memiliki banyak peran di berbagai bidang, baik di bidang pemerintahan maupun non-pemerintahan.

Sebagai seorang raja, sosok Hamengku Buwono IX dikenal sebagai sosok feodal yang mendapatkan status kekuasaan secara turun-menurun disertai gelar ningrat dan memiliki kekuasaan absolut pada wilayah kekuasaannya. Di sisi lain, ia dikenal sebagai sosok yang demokratis dan seorang republik.

Halaman selanjutnya >>>
Dimas Sigit Cahyokusumo
Latest posts by Dimas Sigit Cahyokusumo (see all)