Ratu Ageng Tegalrejo, Nenek Sekaligus Guru Spiritual Diponegoro

Ratu Ageng Tegalrejo, Nenek Sekaligus Guru Spiritual Diponegoro
©KrJogja

Ratu Ageng Tegalrejo merupakan perempuan yang sangat tangguh.

Leluhur pria Diponegoro pernah memberikan pengaruh yang besar terhadap Pangeran secara pribadi dan sebagai sumber ilham. Tapi, kerabat perempuan barangkali malah lebih penting dalam karakter kepribadian dan pandangan sosial Pangeran, yang khas masa kanak-kanak dan remaja.

Pandangan sosial itu berakar pada keyakinan agamis mendalam dan hubungan yang luas dengan masyarakat santri di Jawa Tengah Selatan. Hubungan yang tidak umum bagi Pangeran yang berasal dari kalangan Keraton. Hubungan sosial dan keyakinan agamis ini yang akan membentuk gaya kempimpinan Diponegoro selama Perang Jawa (1825-1830 M) dan terhadap karisma atau sifat kepahlawanan dirinya (Carey, 2012).

Sejak kecil, sang Pangeran dibesarkan oleh kaum perempuan yang memiliki sifat agamis yang kental. Hal ini nanti akan menyumbang sifat feminin terhadap diri sang Pangeran yang tampil tidak lumrah di kalangan masyarakat Jawa semasanya. Dalam hal ini, orang berpikir tentang kepekaan dan mata-batin yang terpantul dalam bakatnya membaca watak seseorang melalui raut mukanya.

Diponegoro selama kecilnya mengalami hidup bersama seorang perempuan tua terkemuka. Perempuan tersebut berpandangan sangat kritis terhadap perkembangan istana Kesultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan putranya yang angin-anginan dan tidak terampil dalam memimpin. Ratu Ageng Tegalrejo, nama kecilnya Niken Ayu Yuwati (1735-1803 M). Ia putri seorang kiai terkemuka di daerah Sukowati—sekarang disebut Kabupaten Sragen. Ratu Ageng Tegalrejo dapat dilacak silsilah keturunannya sampai ke Sultan Bima di Sumbawa.

Ratu Ageng merupakan perempuan yang sangat tangguh. Ia mendampingi Sultan Pertama Pangeran Mangkubumi dalam seluruh pertempuran melawan Belanda dalam Perang Giyanti (1746-1755 M). Setelah Kesultanan Yogyakarta terbentuk pada 1755 M, Ratu Ageng menjadi Panglima pasukan kawal istimewa perempuan, atau semacam korps “Srikandi” kerajaan. Satu-satunya barisan pasukan militer yang membuat Marsekal Herman William Daendels terkesan ketika berkunjung ke Keraton Yogyakarta pada Juli 1809 M.

Ratu Ageng juga terkenal sebagai perempuan yang salihah. Ia suka membaca kitab-kitab agama, juga tekun merawat adat tradisional Jawa di keraton. Pengabdiannya yang kukuh terhadap tradisi adat Jawa akan terwariskan kepada cucu buyutnya. Ia kemudian digambarkan sebagai “seorang yang segala segi merupakan seorang Jawa yang mematuhi adat-istiadat Jawa”.

Saat Diponegoro tinggal bersama nenek buyutnya ini, perempuan tua yang saat itu memasuki usia enam puluh tahun tetap sebagai perempuan yang berkemauan baja. Yang pasti sangat mengagumkan bagi seorang anak laki-laki yang berusia tujuh tahun (Carey, 2012)

Sifatnya yang keras tanpa kompromi dalam adat istiadat Jawa dan ajaran agama membuat Ratu Ageng bertindak seperti ibu tiri yang keras terhadap diri Sang Pangeran. Walau demikian, gambaran diri perempuan itu yang diberikan oleh Diponegoro dalam babadnya penuh kasih sayang.

Dalam dua larik syair, ia menggambarkan kehidupan bersahaja nenek buyutnya. Neneknya senang berada di tengah masyarakat tani sekitar Tegalrejo, sehingga banyaknya santri yang tertarik datang ke sana. Larik syair itu berbunyi:

Kanjeng Ratu winarni/ pan tetanen remenipun/ sinambi lan ngibadah/ kinarya nawur puniki/ lampahira gen bronta marang Yang Sukma. Langkung kerta Tegalreja/ mapan kathah tiyang prapti/ sangnya angusi tehdi/ ingkang santri ngungsi ngelmu/ langkun rame ibadah/ punapa dene wong tani (BD, II).

Artinya: Kami Perikan Ratu Ageng/ betapa ia senang bertani/ bersama dengan tugas rohani/ ia kerjakan tanpa pamrih/ di jalan cintanya pada Hyang Sukma. Tegalrejo jadi sangat bersahaja/ karena banyak orang datang/ semua mencari makan/ sedang santri mencari ilmu/ di sana banyak amal dan doa/ terlebih pada petaninya (BD, II).

Dua larik syair ini menceritakan bagaimana Ratu Ageng sebagai perempuan yang penuh karisma. Ia bisa mengantarkan Tegalrejo menjadi desa yang makmur dan bersahaja. Banyak orang datang ke sana untuk bertani dan mencari ilmu, khususnya bagi para santri.

Dengan suasana desa seperti ini, Diponegoro dididik di suasana yang sangat jauh berbeda dengan suasana di keraton. Kebersahajaan desa yang melekat di Tegalrejo akhir abad ke-XVIII mengajarkan kepada Diponegoro sejak anak-anak untuk bergaul akrab dengan lapisan masyarakat Jawa. Ia menjalani hidupnya dengan santai tanpa merasa diri paling tinggi.

Cara penataan Ratu Ageng yang cermat dan kerelaannya dalam berniaga juga telah memberi kesan yang mendalam dalam diri sang Pangeran. Kita ketahui, Diponegoro dengan Pangeran lainnya, dalam soal penghasilan dalam bidang pertanian, tidak pernah sedikit pun memeras masyarakat pada saat itu.

Tidak itu juga, Pangeran juga sangat tekun dan ulet dalam mengelola persawahan yang ada di Tegalrejo. Tujuannya demi kekayaan pribadinya yang nanti membantu dirinya dalam membiayai pada awal-awal Perang Jawa. Ia juga sangat berhati-hati dalam masalah keuangan. Sampai-sampai ia dipandang kikir oleh Residen Belanda di Manado pada saat itu.

Dalam soal religiositas, Diponegoro sejak kecil dididik oleh Ratu Ageng untuk meniru keteladanan para kiai dengan cara berziarah ke makam-makam orang suci, seperti ke Kota Gede dan Imogiri, guna mengambil hikmah dari sosok pemuka agama yang dikunjungi. Bahkan tidak itu saja, Ratu Ageng juga mengajarkan kitab-kitab klasik pesantren dalam soal fikih dan tasawuf serta mengajarkan puji-pujian kepada Tuhan.

Dalam hal ini, Ratu Ageng merupakan perempuan utama yang mengasuh, menginspirasi, dan membentuk karakter sang Pangeran. Ia kemudian tumbuh menjadi Pangeran Diponegoro yang gagah, berani, dan karismatik pada saat itu, terutama pada saat Perang Jawa.

Dengan menjadikan Diponegoro seperti demikian, Belanda dibuat takut dan mengalami kerugian yang begitu besar. Eksistensi Ratu Ageng pada diri sosok Diponegoro tidak bisa dihilangkan walaupun tidak ada literatur yang khusus terkait dirinya atau gambaran visualisasi mengenai sosok Ratu Ageng.

Ratu Ageng sosok perempuan yang menebarkan nilai-nilai hidup yang hakiki. Berjiwa nasionalis, agamis, humanis, pemberani untuk kebenaran. Budayawati, moralis, peduli lingkungan untuk kelestarian bumi, ciptakan kemakmuran bagi rakyat, dan mendidik muda-mudi menjadi generasi yang unggul serta anti-kolonialis. Serta tidak lupa pula mengajarkan kepada siapa saja bahwa manusia pada dasarnya lemah di hadapan Tuhan sebagai sang pencipta. Sehingga tidak menyombongkan diri atas: adigang, adigung, dan adiguna.

Baca juga:
Raha Bistara