Rayakan Natal, Gus Dur: Yesus Kristus Juru Selamat Seluruh Umat Manusia

Rayakan Natal, Gus Dur: Yesus Kristus Juru Selamat Seluruh Umat Manusia
Meme Gus Dur

Nalar PolitikTersebar meme (di atas) yang menyebut Yesus Kristus sebagai juru selamat seluruh umat manusia. Meme tersebut menampilkan sosok Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur; seolah Gus Dur yang menyatakan demikian.

“Mestinya yang merayakan hari Natal bukan hanya umat Kristen, melainkan juga umat Islam dan umat beragama lain, bahkan seluruh umat manusia. Sebab Yesus Kristus atau Isa Al-Masih adalah juru selamat seluruh umat manusia, bukan juru selamat umat Kristen saja.” ~ Gus Dur

Setelah redaksi mencoba menelusuri sejumlah sumber, ternyata benar bahwa perkataan itu memang berasal dari sosok kiai jenaka itu. Seorang Gusdurian Aan Anshori mengonfirmasi, kutipan tersebut diproduksi secara resmi oleh Seknas; disampaikan Gus Dur dalam Perayaan Natal Bersama tahun 1999 di Balai Sidang Senayan Jakarta.

Bukti akan itu Aan dapatkan setelah menjelajahi tiga sumber daring. Yang pertama, artikel JB Suratno di Kompas berjudul Pidato Natal Gus Dur: Tak Sedikit pun Saya Merasa Berbeda. Tetapi artikel ini tidak memuat kutipan sebagaimana meme yang dimaksud.

Adapun sumber kedua, yakni arsip Suara Merdeka. Itu tersimpan di salah satu laman perpustakaan Universitas Ohio.

“Dari sana saya mendapatkan kalimat yang lebih kurang mirip.” [lihat]

Dan sumber ketiga, yakni postingan Supriyadi di milis isnet-bl tertanggal 30 Desember 1999. Di situ diceritakan bagaimana respons Hartoni Ahmad Jaiz atas pidato Gus Dur. Tertuang pula transkrip pidatonya yang relatif lengkap.

Meski tak memuat secara persis sebagaimana kutipan dalam meme, tetapi Aan mencatat, adalah “ulah” Gus Dur yang hendak menerapkan strategi menemukan sebanyak mungkin persamaan dari dua hal yang berbeda. Itu lalu dilengkapi dengan strategi lainnya: yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan.

“Sangat kentara Gus Dur berkehendak mengingatkan umat Islam agar tidak melupakan rasul-rasul selain Muhammad. Bahkan jika perlu merayakan momen penting masing-masing dari mereka. Dalam hal ini, Gus Dur mengawalinya dengan menjadikan Natal sebagai titik temu dua agama raksasa ini tanpa perlu merasa takut kehilangan identitas masing-masing,” simpul Aan.

Ia juga menggarisbawahi bahwa Gus Dur, melalui pernyataan Yesus Kristus sebagai juru selamat seluruh umat manusia, mencoba melakukan manuver akrobatik. Ia menggedor batas pengajaran Islam mainstream menyangkut Isa (Yesus Kristus) dan status ke-juru-selamat-annya.

Walau demikian, saat Gus Dur menyatakan Yesus Kristus sebagai juru selamat seluruh umat manusia, tekan Aan, tetapi tidak hendak mengajak—apalagi memerintah—melakukan migrasi keimanan. Justru sebaliknya, Gus Dur tampak memaparkan bagaimana sesungguhnya ajaran Islam bersikap atas Yesus Kristus.

“Saya memaknai ujaran Gus Dur terkait juru selamat bersifat khusus (ma’rifat) bukan diksi umum (nakirah), yakni juru selamat bagi yang mengimaninya.”

Artinya, pernyataan Gus Dur tersebut tidak berada dalam ruang hampa. Terdapat intensitas kekerasan berbasis identitas keagamaan saat pernyataan itu dikeluarkan. Dan Gus Dur ingin mengajak semua orang, khususnya muslim Indonesia, untuk bagaimana bersikap rukun dengan kelompok non-muslim sebagai sesama warga negara.

“Legasi ini menjadi abadi untuk diteruskan mengingat masih banyak umat Islam yang merasa minder menjadikan non-muslim saudara mereka, alih-alih menempatkan mereka sebagai objek penaklukan dan represifitas.”

Redaksi NP
Reporter Nalar Politik