Realitas Mimpi dan Memaknai Kematian Tak Bermakna

Realitas Mimpi dan Memaknai Kematian Tak Bermakna
©Pixy

Kematian tak bermakna sama halnya dengan realitas mimpi.

Pukul 18:44 WITA, Jack mendapat pesan singkat di WA. Pesan itu berasal dari kekasihnya, Chelyn.

“Sayang, semalam saya bermimpi. Kamu pergi ke suatu tempat entah ke mana itu. Kamu tidak memberi tahunya kepadaku. Kamu pergi dengan menumpangi sebuah mobil dan singgah sebentar di sini, memberikan beberapa nasihat kepadaku.”

Di daerah tempat Chelyn tinggal, masyarakat punya kebiasaan menafsir mimpi, bahkan meyakini bahwa mimpi selalu punya tempat dalam realitas keseharian kita. Ia tak sekadar ada dalam kemayaan. Hanya soal waktu, ia akan menjadi suatu kenyataan.

Chelyn yang adalah seorang mahasiswa tidak memercayai apa yang telah menjadi keyakinan umum masyarakat setempat. Meski begitu, melalui WA, ia tetap mengerutu kepada Jack, mengingatkannya untuk selalu berhati-hati saat berkendara, takut sesuatu akan terjadi dan menimpa Jack.

Jack yang adalah seorang mahasiswa dan begitu rasional juga tidak memercayai itu. Bagi Jack, itu mimpi tak lebih dari aktivitas otak. Jack pun memanfaatkan mimpi itu untuk menggombal Chelyn. “Itu hanya mimpi, mungkin kamu terlalu merindukanku.”

Pada pukul 22:30 WITA, handphone Chelyn berbunyi. Ia dihubungi oleh seseorang yang mengaku polisi patroli malam dari salah satu kota, tempat Jack tinggal.

“Selamat malam. Apa benar ini dengan nyonya Chelyn?”

“Ya, benar, Pak. Ini saya, Chelyn. Ada apa Anda menghubungi saya malam-malam begini?”

“Kami menemui kontak Anda di telepon genggam seorang pria bernama Jack. Mungkin Anda adalah seseorang yang mengenali keluarga Jack. Tolong sampaikan ke keluarganya bahwa Jack meninggal dunia akibat kecelakaan malam ini.”

Chelyn tidak memercayai itu sembari berseloroh. “Itu tidak mungkin, Pak. Jack baru saja menghubungi saya, sejam yang lalu.”

“Nyonya, kami tidak punya banyak waktu untuk melayani ocehan ketidakpercayaan Anda. Segera hubungi keluarga Jack, kami akan mengevakuasi jenazah Jack dan membawanya ke rumah sakit terdekat dari sini, nanti lokasinya akan saya kirim di WA,” ungkap pria yang berada di balik telepon itu disusul sebuah bunyi pertanda telepon telah dimatikan.

Tak berselang lama setelah dihubungi oleh pria yang mengaku polisi itu, kini Chelyn dihubungi oleh sepupu Jack, Lois. Ia memberitahukan hal yang serupa.

Peristiwa ini adalah sesuatu yang sangat berat untuk diterima oleh Chelyn maupun keluarga Jack., namun peristiwa ini adalah suatu kenyataan. Mengingkari kematian berarti menentang alam, dan itu adalah upaya yang sia-sia.

Tak menerima kematian sebagai fakta kehidupan adalah bagian dari delusi yang tak berguna. Kematian bukanlah tanda titik, melainkan koma yang selalu siap untuk dilanjutkan. Ia adalah awal dari sesuatu yang baru.

Tak ada seorang pun yang tahu apa yang baru itu. Cukup rendah hati bila kita mengatakan bahwa kematian adalah awal dari sesuatu “yang lain”. “Yang lain” itu tak terjelaskan, “yang lain” itu menolak untuk dimengerti, “yang lain” itu menyimpan misteri dan ketakutan, “yang lain” itu tak pasti.

Dengan kematian, kehidupan justru begitu terasa, karena kita tahu bahwa kita tak abadi. Hidup kita sementara. Ini menyadarkan kita bahwa kita perlu sungguh menikmati apa yang kita punya. Pendeknya usia tak menyia-nyiakan waktu kini.

Kita tidak bisa menyia-nyiakan orang yang selalu ada untuk kita—yang kita cintai maupun mencintai kita. Karena kita tahu, suatu hari mereka tidak akan ada untuk kita; suatu hari mereka tidak akan bisa terjangkau oleh pelukan dan ciuman kita.

Apa itu kematian tak bermakna?

Reza AA Wattimena dalam buku Filsafat Kata menjelaskan kematian tak bermakna adalah kematian orang-orang yang seharusnya tidak mengalaminya. Kita tidak melihat keadilan di dalamnya selain pola acak yang tanpa arah.

Dihadapkan pada kematian tak bermakna, orang harus mengubah pola pikirnya. Ia tidak bisa bertanya “mengapa”, karena tiada jawaban atasnya. Yang bisa ia tanya adalah “pelajaran apa yang bisa kutarik?” Ini pertanyaan yang mengantar kita pada refleksi atas kematian yang tak bermakna.

Baca juga:

Orang hanya bisa terpana tanpa arti ketika mendengar dan melihatnya. Melihat kematian yang tak bermakna, orang perlu percaya bahwa kematian mengantarkan orang pada kebahagiaan yang lebih besar dari sebelumnya.

Memang tak ada yang tahu pasti, namun meski begitu keyakinan dan iman bisa menjadi kekuatan yang amat besar bagi orang dan keluarga yang mengalami kekecewaan akibat dari kematian yang tak bermakna. Orang perlu percaya bahwa ia—orang yang mati—telah bahagia.

Kematian tak bermakna sama halnya dengan realitas mimpi. Kita hanya memercayainya ketika ia hadir sebagai suatu kenyataan yang rill menimpa kita, seperti peristiwa kecelakaan dan kematian yang menimpa Jack. Di dalam kamar gelap yang kosong, orang jauh lebih baik percaya, karena tidak ada yang sungguh tahu pasti apa yang terjadi di dalamnya.

    Rino Sengu
    Latest posts by Rino Sengu (see all)