Refleksi Historis: Pemimpin Bijaksana seperti Sahabat Ali

Pemimpin Bijaksana seperti Sahabat Ali
©Islami

Refleksi Historis: Pemimpin Bijaksana seperti Sahabat Ali

Ali bin Abi Thalib dilahirkan di Mekkah, tepatnya di Ka’bah pada Jumat, 13 Rajab sekitar tahun 599 Masehi. Sahabat Ali adalah salah satu tokoh kemajuan islam yang sangat berpengaruh dalam peradaban. Dia dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwallun yaitu golongan orang yang pertama memeluk agama islam.

Selain terkenal menjadi sahabat nabi, Ali dijuluki sebagai pejuang yang gagah berani dan juga memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Jika Nabi Muhammad SAW adalah gudangnya ilmu, maka sahabat Ali adalah gerbang ilmu pengetahuannya.

Kontribusi yang sangat luar biasa sahabat Ali dalam perjuangan dakwah Islam menyebabkan dia diangkat menjadi khalifah. Peristiwa yang paling terkenal adalah ketika Ali menjadi salah satu pengikut Nabi yang sejak awal rela mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya agama Islam dan keselamatan Rasulullah SAW.

Misalnya, pada hari di mana Nabi berniat hijrah ke Madinah, dan sejumlah pembesar Quraish bersekutu untuk membunuh Nabi, Ali dengan tulus dan berani menggantikan Nabi di tempat tidurnya. Sementara Nabi menyelinap diam-diam keluar rumah bersama Abu Bakar menempuh perjalanan panjang ke kota Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Madinah. Saat itu Ali baru berusia 22 tahun. Tiga hari kemudian, Ali menyusul Nabi ikut hijrah ke Madinah.

Keberanian Ali menjadi catatan penting dalam sejarah peradaban umat Islam. Ali bin Abi Thalib adalah Khulafaur Rasyidin ke-4 setelah Utsman bin Afan. Ali masuk islam di usia yang muda, mewakili kalangan remaja untuk masuk Islam. Dia adalah sepupu dan menantu Nabi, menikahi putri Nabi, Fatimah binti Muhammad.

Dalam perjuangan umat islam, Ali berpartisipasi dalam banyak perang dan pertempuran Islam awal, termasuk Pertempuran Badar, Uhud, dan Khandaq. Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang dihormati dalam Islam, diakui karena kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, dan keberaniannya. Dia juga dianggap sebagai salah satu Imam oleh umat Syi’ah, yang menghormati dan mengikuti keturunannya sebagai pemimpin spiritual.

Ali bin Abi Thalib memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Islam dan tetap menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Sahabat Ali adalah contoh pemimpin yang bijaksana dan kaya akan ilmu pengetahuan. Salah satu bentuk kebijaksanaan sahabat Ali adalah dalam bidang keadilan. Ali memiliki sifat yang tegas dalam menjalankan kepemimpinannya yang berdasarkan keadilan dan kesetiaan pada kebenaran.

Baca juga:

Keadilan tidak semata-mata hanya berbentuk respons terhadap masyarakat, tetapi keadilan juga berbentuk kepedulian terhadap diri sendiri termasuk kesetiaan dalam kebenaran. Di situasi yang sulit pun sahabat Ali tetap setia dengan prinsip kebenaran sesuai syariat Islam walapun serangan datang dari segala penjuru.

Keteguhan hati sahabat Ali sangat luar biasa. Seperti pepatah mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang juga ditiup angin, ini sangat dicontohkan dengan baik oleh sahabat Ali. Keberanian Ali untuk menumpas kejahatan dan memperjuangkan kebaikan sangat tinggi, hingga dijuluki singanya Allah.

Bersama sahabat-sahabat yang lain Ali menunjukan sikap yang tidak memandang latar belakang terhadap perbedaan etnis atau sosial sebagai seorang pemimpin. Pencerminan ini adalah salah satu ajaran agama islam yaitu persamaan di hadapan Allah SWT. Hanya keimanan dan ketaqwaanlah yang menjadi pembeda antara orang satu dengan orang lainnya.

Perbuatan-perbuatan Ali dalam bidang keadilan dan kebenaran dapat dijadikan inspirasi bagi umat islam yang mana sebuah keadilan harus ditegakan di tengah-tengah masyarakat walapun keadaan masyarakatnya plural dan beragam. Sifat ini harus dimiliki oleh setiap pemimpin, baik pemimpin dalam pemerintahan, pemimpin organisasi maupun pemimpin keagamaan.

Walaupun ada percobaan untuk menggoyahkan prinsip-prinsip kebenaran pada pemimpin-pemimpin tersebut seperti contoh percobaan suap, peluang untuk korupsi, dan iming-iming lain yang dapat menggugurkan prinsip kebenaran, itu harus dihindari.

Seorang pemimpin harus memiliki prinsip dan pijakan yang kuat pada kebajikan, kalau orang jawa mengatakan “ora gampang ngalor, ora gampang ngidul” yang berarti tidak mudah teromban-ambing dengan situasi dan arus keburukan sehingga tidak mengorbankan apa yang namanya prinsip keadilan dan kebenaran sejati.

Gejolak politik yang terjadi setelah keguguran Khalifah Utsman menyebabkan banyak tantangan dan ancaman yang datang kepada Ali. Mulai dari kelompok-kelompok yang tidak sependapat dengan Ali dan situasi kenegaraan yang tidak stabil. Maka dari itu, tantangan tersebut harus dilewati Ali dengan bijaksana dan keteguhan hati yang mendalam.

Dibalik ketegasan Ali terhadap keadilan, Ali tidak melupakan jati dirinya sebagai manusia yang pantang menyerah. Disetiap tantangan dalam menegakkan ajaran islam, Sahabat Ali tetap memiliki komitmen untuk tetap berada di jalan yang benar dan lurus, tetap semangat dan tidak hilang arah dalam perjuangannya. Ini dapat kita jadikan pelajaran di masa sekarang, bahwa dalam menjadi seorang pemimpin harus teguh dalam pendirian dan berpijak pada prinsip kebenaran.

Baca juga:

Tidak mengunggulkan kepentingan satu individu atau suatu golongan tertentu. Seorang pemimpin juga ada saatnya untuk membutakan diri akan identitas siapa yang dipimpinnya. Agar hal ini tidak menjadi peluang untuk melancarkan kecurangan dalam kekuasaan.

Dalam zaman ini perkembangan zaman yang majemuk dan keberagaman masalah sosial, menjadikan ujian tersendiri dalam penegakan keadilan dan kebenaran. Maka dibutuhkan seorang pemimpin yang arif dan bijaksana untuk mengatasi isu-isu sosial dan keberagaman yang terjadi.

“Memaafkan adalah kemenangan terbaik” ~ Ali bin Abi Thalib

Hilmy Harits Putra Perdana
Latest posts by Hilmy Harits Putra Perdana (see all)