Refleksi Tasawuf Modern dengan Tarekat Syadziliyah

Refleksi Tasawuf Modern dengan Tarekat Syadziliyah
©Republika

Bagaimana cara bertasawuf di zaman modern ini?

Umat Islam di zaman modern ini sering dialihkan oleh dunia yang memberikan segala macam hiburan yang memabukkan yang membuat mereka lupa akan keislamannya. Salah satunya adalah bentuk tasawuf yang sekarang sulit dipraktikkan dalam kehidupan di zaman serbamodern.

Tasawuf sering disalahartikan dengan kehidupan yang menyepi, menyendiri, dan menjauhi dunia, seolah menciptakan dinding dan mengurung diri dalam ruang peribadatan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemahaman seperti inilah yang membuat mereka, umat Islam, terkhusus golongan awam, merasa ragu untuk menjalankan tasawuf ketika mereka seperti diharuskan untuk meninggalkan dunia.

Padahal inti dari tasawuf adalah senantiasa menyucikan diri, mendekatkan diri kepada Allah dengan tidak terpengaruh dengan segala godaan dunia.

Umat Islam yang melaksanakan tasawuf menggunakan metode bermazhab pada tarekat-tarekat yang telah diakui shaih. Banyak aliran dalam tarekat: ada yang mengkhususkan untuk fokus kepada Allah dan akhirat melebihi dunia; ada juga yang fokus kepada Allah dan akhirat namun juga diberikan cara untuk menjaga dunianya agar tetap terkendali.

Salah satunya adalah tarekat Syadziliyah yang bermadzhab kepada Abu Hasan Asy-Syadzili, menurut saya cocok untuk diplikasikan dan diikuti tarekatnya di zaman modern ini.

Tarekat Syadziliyah

Tarekat Syadziliyah merupakan tarekat yang besar di samping Tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Suhrawardiyah. Tarekat Syadziliyah adalah tarekat yang paling layak disejajarkan dengan Tarekat Qadiriyah dalam hal penyebarannya.

Tarekat Syadziliyah memulai keberadaannya di bawah salah satu dinasti Al-Muwahhidun, yakni Hafsiyyah di Tunisia. Tarekat ini kemudian berkembang di Mesir di bawah kekuasaan dinasti Mamluk.

Baca juga:

Para tokoh Tarekat Syadziliyah awal tidak hanya menaruh perhatian pada pengajaran dan praktik tasawuf tetapi juga terhadap masalah-masalah akidah dan hukum Islam. Hal ini karena Asy-syadzili sendiri sangat menekankan pentingnya pengetahuan agama bagi para pengikutnya.

Para tokoh awal itu bermazhab sunni dan memilih madzhab Asy’ariyah dalam bidang ilmu kalam. Tarekat yang didirikan oleh Abu Hasan Asy-Syadzili ini dilandaskan pada ajaran metafisik dan spiritual tauhid serta pada Alquran dan Sunnah.

Tujuan tarekat ini adalah kesadaran ma’rifah kepada Allah yang membawa pada kebijaksanaan sempurna dan kesucian jiwa. Ma’rifah yang diajarkan di sini berdasarkan keyakinan sederhana dan ketaatan syariat dari aqidah yang diajarkan oleh mazhab Asy’ariyah.

Tauhid dan dzikir merupakan dua pilar esensial tarekat ini, yang pertama berhubungan dengan doktrin sedangkan yang kedua berkaitan dengan metodologi spiritual.

Tarekat Syadziliyah diteruskan oleh murid-murid Asy-Syadzili sendiri, antara lain Abu Abbas Al-Mursi (w.686 H), kemudian diteruskan oleh Ibnu Athaillah Al-Iskandari (w. 709 H) dan  Ibnu Abbad Ar-Randi (w. 793 H). Pada abad 9 H/15 M dilanjutkan oleh Sayid Abi Abdillah ibn Sulaiman Al-Jazuli.

Di dalam perkembangannya, mereka dipandang sebagai pemimpin-pemimpin tarekat Syadziliyah, sehingga dapat berkembang pesat di beberapa wilayah seperti Tunisia, Mesir, Aljazair, Maroko Sudan, Afrika Barat, Afrika Utara, Afrika Selatan, Mesopotamia, Palestina, Syria, dan Indonesia, tepatnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ajaran-ajaran Tarekat Syadziliyah tidak terlalu berbeda dengan ajaran-ajaran tarekat lainnya. Perbedaan Tarekat Syadziliyah dengan tarekat lainnya pada masa itu adalah sikap tidak menonjolkan diri dalam hal bertarekat.

Tarekat Syadziliyah tidak memisahkan diri dari dunia luar, para pengikutnya sulit dibedakan dengan masyarakat awam. Satu hal lagi yang membedakannya adalah dalam hal sikap hidup dan sosial bermasyarakat.

Halaman selanjutnya >>>
Latest posts by Awwal Khasan Sadzali (see all)