Reformasi WTO atau Bubarkan

Reformasi WTO atau Bubarkan
Foto: The Straits Times

Ada hal menarik yang juga dibahas pada sidang G20 kemarin, yaitu reformasi WTO ( World Trade Organization) atau Organisasi Perdagangan Dunia.

Semua pimpinan G20 menyampaikan pentingnya reformasi WTO untuk dapat mengembalikan kepercayaan negara-negara terhadap mekanisme multilateralisme, terutama mengenai penyelesaian persengketaan antarnegara dan transparansi kebijakan perdagangan setiap negara.

Menurutku, bukan cuma direformasi, tetapi direvolusi untuk sebuah sistem perdagangan dunia yang lebih adil dan sama merasakan kemakmuran lewat perdagangan internasional. Bukan cuma menguntungkan negara tertentu.

Sebenarnya perang dagang adalah puncak pertarungan ekonomi yang dimulai dari debat-debat tanpa solusi pada sidang-sidang WTO, terutama antara Cina-India vs Blok Barat Amerika Serikat serta Uni Eropa.

Kenapa harus revolusi WTO?

Perdagangan dan ekonomi itu pusat dari gerak dan majunya negara. Tetapi selama ini, negara-negara berkembang hanya menjadi pasar dari negara maju. Sedangkan produk negara berkembang sulit masuk ke pasar negara maju karena rezim proteksionisme yang menggunakan alasan undang-undang yang direkayasa biar kelihatan intelektual.

Produk rokok Indonesia itu sangat susah masuk ke AS. Sedangkan rokok dari Amerika Serikat membanjiri Indonesia dengan alasan lebih sehat. Selain itu, produk sawit Indonesia juga sangat susah, bahkan kemarin ditolak oleh Uni Eropa dengan alasan deforestasi.

Terus, buat apa WTO harus ada? Kalau cuma untuk memfasilitasi blok Amerika Serikat agar bisa menguasai ekonomi negara berkembang, lebih rasional kalau WTO dibubarkan. Tetapi kalau untuk mengatur sistem perdagangan internasional, mungkin WTO perlu direvolusi. Itu karena anggotanya ada yang sangat licik untuk menjalankan proteksi di negara mereka dari masuknya produk negara lain.

Nah, masalahnya adalah anggota G20 masih “ruwet” dan belum menemukan kesepakatan untuk mereformasi WTO. Lah, kalau negara yang tergabung di G20 menjadi ruwet, terus ngapain susah-susah rapat? Mending dangdutan.

Aly Mahmudi
Latest posts by Aly Mahmudi (see all)