Rekonstruksi Nalar Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

Perjalanannya yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya (setelah diusir dari Mesir, Al-Afghani makin gencar menyuarakan urgensitas persatuan Islam. Ide-idenya dituangkan dalam majalah Al-Urwa Al-Wutsqa. Artikelnya yang paling fenomenal berjudul Al-Wahda Al-Islamiyah.) telah membentuk pribadinya yang menjunjung nilai toleransi, khususnya terkait perbedaan antara Syiah dan Sunni, mengingat dia besar dalam lingkungan Syiah, namun dalam residennya yang berpindah-pindah, dia sering menjalin kontak dengan kalangan Sunni.

Dia kemudian berambisi untuk menjembatani perbedaan antar-dua golongan tersebut. Menurut Al-Afghani, perbedaan antara Syiah dan Sunni adalah problem historis yang sudah tidak relevan dalam konteks modernitas. Konflik perbedaan itu hanya merusak solidaritas umat. Oleh karenanya, modus yang dapat mengakomodasi nilai dari keduanya perlu dikedepankan demi terwujudnya persatuan umat Islam.

Ketika melakukan perjalanan di beberapa negara dengan kultur keislaman, Al-Afghani menemukan fakta penting adanya intervensi Barat yang kuat dalam konstalasi politik negara mereka. Dia kemudian menyuarakan pentingnya upaya revolusi terhadap tirani yang korup dan resistensi atas intervensi Barat. Keduanya dapat diwujudkan jika umat Islam bersatu padu.

Jadi secara garis besar, pemikiran politik Al-Afghani tentang Pan-Islamisme mengandung dua dimensi perlawanan. Pertama, upaya mobilisasi umat Islam yang simultan untuk melawan agresi Eropa. Kedua, melawan tirani pemerintahan yang korup.

Tak hanya itu, Pan Islamisme juga bertujuan untuk melepaskan umat Islam dari cengkeraman bangsa Barat. Kemajuan umat Islam tidak akan berhasil jika umat Islam masih terpuruk dalam perpecahan. Oleh karena itu, Al-Afghani mengajak umat Islam: pertama, kembali pada Alquran, menghilangkan fanatisme mazhab, menghilangkan taklid golongan.

Kedua, mengadakan ijtihad terhadap Alquran. Ketiga, menyesuaikan prinsip Alquran dengan kondisi kehidupan umat. Keempat, menghilangkan khurafat dan bidah. Kelima, mengambil peradaban, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Barat yang positif sesuai dengan Islam, serta menciptakan satu pemerintahan Islam yang berhubungan satu dengan yang lainnya.

Walaupun Al-Afghani tidak memiliki program yang jelas atau filsafat yang teratur, dalam dirinya tersimpan sebuah kekuatan yang dapat mendorong orang lain untuk melakukan suatu gerakan. Mulai saat itulah muncul gerakan kebangkitan Islam. Al-Afghani-lah yang menjelaskan kebobrokan umat Islam, dan yang menerangkan bahwa dunia Islam (bukan hanya satu bagian saja) sedang terancam.

Para pembaru Islam sebelum dirinya memberikan penjelasan mengenai sebab kelemahan dunia Islam dari segi agama dan takdir. Sedangkan Al-Afghani menafsirkannya dari sudut tinjauan peradaban. Karena itu, Al-Afghani mengajak umat Islam untuk melakukan perbaikan secara internal, menumbuhkan kekuatan untuk bertahan, dan mengadopsi buah peradaban Barat, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembalikan kejayaan Islam.

Baca juga:

Barat harus dihadapi, karena dialah yang mengancam Islam. Cara menghadapinya adalah dengan menirunya dalam hal-hal yang positif, selain aturan kebebasan dan demokrasinya.

Sementara itu, tujuan utama gerakannya adalah menyatukan pendapat semua negara-negara Islam, termasuk Persia yang Syiah di bawah satu kekhalifahan, untuk mendirikan sebuah imperium Islam yang kuat dan mampu berhadapan dengan campur tangan bangsa Eropa. Oleh karena itulah dia menyerukan niatnya ini dengan pena dan lidahnya untuk menyatukan pemikiran Islam.

Inilah yang dia sampaikan dari satu negara ke negara yang lain. Dia ingin membangunkan kesadaran mereka akan kejayaan Islam pada masa lampau yang menjadi kuat karena bersatu. Lebih dari itu, Al-Afghani telah menyadarkan mereka bahwa kelemahan umat Islam sekarang ini adalah karena mereka berpecah belah.

Dari sini akhirnya kita tahu bahwa pemikiran Al-Afghani layak kiranya mendapatkan apresiasi positif. Mengingat pemikiran itu adalah hasil dialektika dengan realitas yang beragam dan tidak terikat dengan lokalitas tertentu. Namun untuk mengaplikasikan pemikirannya, khususnya dalam konteks Indonesia, tidak bisa dilakukan secara literlek tanpa melihat dan membandingkan konteks sosio-historis dengan realitas kekinian.

Lahirnya gagasan Al-Afghani tentang Pan Islamisme berangkat dari kesadaran akan kolonialisasi Barat terhadap negara-negara Islam di satu sisi, dan kondisi umat Islam yang terjebak dalam belenggu keterbelakangan di sisi lainnya. Oleh karena itu, umat Islam haruslah bersatu agar terlepas dari kondisi problematik tersebut.

Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)