Relawan dan Penggerak Suara Pemilih

Relawan dan Penggerak Suara Pemilih
©WE

Joko Widodo meminta relawan yang pernah mendukungnya menahan diri dan melihat perkembangan sebelum menjatuhkan dukungan pada figur tertentu yang kemungkinan maju dalam bursa calon presiden.

Dalam konteks politik Indonesia, munculnya gerakan relawan yang masif ini adalah fenomena yang relatif baru. Dimulai dari Pilkada DKI Jakarta 2012 ketika Jokowi dan Ahok masuk ke Jakarta menjadi calon gubernur dan wakil gubernur. Saat itu mereka membawa slogan Jakarta Baru. Gerakan ini menjadi sangat masif di pilpres 2014.

Menurut A. Suaedy (2014), The Role of Volunteers and Political Participation in the 2012 Jakarta Gubernatorial Election, fenomena relawan dalam politik ini sebetulnya adalah bagian dari gerakan sosial (social movement). Jika sebelumnya gerakan sosial muncul dalam bentuk non-partisan, maka relawan adalah bentuk partisan social movement. Salah satu ciri pokok relawan ini adalah mereka bergerak lebih sporadis tak beraturan ketimbang gerakan sistemik.

Dalam pilpres 2014, salah satu kekuatan utama Joko Widodo melawan Prabowo ketika itu adalah relawan yang muncul di mana-mana. Marcus Mietzner (2014), How Democracy Won and Democracy Survived, menyebut pilpres tersebut adalah pertarungan antara grassroots volunteerism versus oligarchic machine politics.

Dalam studi gerakan sosial, ada prasyarat yang memungkinkan suatu gerakan muncul, salah satunya adalah adanya political opportunity structure, suatu kondisi politik yang memungkinkan itu terjadi. Dalam hal relawan yang muncul sporadis itu, menurut saya, mereka muncul karena ada suasana di mana publik memiliki harapan tetapi harapan itu dipersepsi terancam. Jokowi adalah harapan di 2014, dan harapan itu terancam musnah jika tidak diperjuangkan.

Apa ancaman yang potensial muncul di 2024? Salah satunya adalah tidak datangnya dukungan partai untuk calon yang populer di masyarakat. Kasus ini pernah terjadi pada Pemilu 2017 di DKI Jakarta. Ahok yang ketika itu sangat populer terancam tidak mendapatkan tiket dari partai politik.

PDIP yang saat itu diharapkan menjadi pengusung utama Ahok tak kunjung bersikap, bahkan di tingkat elite muncul manuver untuk menjegal Ahok. Dalam suasana itu, muncul gerakan pengumpulan KTP yang sangat masif dan dimotori beberapa anak muda yang tergabung dalam komunitas Teman Ahok.

Kembali ke relawan Jokowi. Saya kira Pak Jokowi tidak akan buru-buru mengarahkan relawannya mendukung kandidat tertentu dalam waktu dekat. Sebagai pemimpin negara, dia akan menjaga imparsialitasnya dari kelompok-kelompok politik yang sedang bermanuver, terutama di internal PDIP.

Kalaupun Jokowi secara terbuka mendukung calon tertentu, itu juga tidak akan menjadi faktor penentu yang akan menggerakkan suara pemilih. Ada setidaknya tiga faktor utama yang menggerakkan warga menentukan pilihan: rekam jejak, integritas, dan kedekatan dengan rakyat dari sang calon.

Karena itu, pergerakan suara untuk pilpres dan pemilu 2024 tidak ditentukan oleh dukungan tokoh lain, bahkan tokoh seperti presiden sekalipun, melainkan sang kandidat sendiri, apakah dia dipersepsi memiliki rekam jejak yang baik, integritas yang tinggi, dan dekat erat dengan publik luas atau tidak.

Baca juga:
Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)