Relevansi dan Makna Konsep Pendidikan Paulo Freire

Relevansi dan Makna Konsep Pendidikan Paulo Freire
©Lapmi Ukkiri

Paulo Freire meyakini pendidikan adalah kunci untuk melakukan transformasi sosial, senjata untuk merombak struktur penindasan di negaranya, Brazil.

Namun persoalannya, pendidikan yang diyakini sebagai agen pembebasan justru menjadi biang di balik langgengnya struktur masyarakat yang tidak adil tersebut. Karena itu, Freire menggalakkan reformasi konsep pendidikan di negaranya. Dia mulai dengan membongkar serangkaian ketidakberesan yang bercokol dalam sistem pendidikan saat itu lalu memformulasi model-model baru yang transformatif.

Bagi Freire, sistem pendidikan mesti menjunjung tinggi kesetaraan dan membebaskan yang tertindas. Dia menganjurkan sistem pendidikan dengan basis kultural dan pembebasan.

Ideal pendidikan sebagai praksis pembebasan, menurut Paulo Freire, memiliki empat ciri.[1] Pertama, pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai humanisme. Kedua, pendidikan mesti mampu menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat manusia dari situasi ketertindasan. Ketiga, proses belajar mesti berbentuk investigasi kenyataan. Keempat, proses pendidikan mesti bercorak dialogis.

Karena itu, Freire mengkritik dengan begitu keras dan tajam banking education yang menjadi model pendidikan di Brazil pada masa itu. Banking education adalah model pendidikan di mana guru berlaku sebagai penyimpan yang memperlakukan murid-muridnya sebagai tempat penyimpanan—semacam bank atau celengan—yang kosong dan karenanya perlu diisi.[2]

Pendidikan karenanya menjadi sebuah kegiatan menabung di mana murid adalah celengannya dan guru adalah penabungnya. Dalam hal ini yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan.

Ruang gerak yang disediakan untuk kegiatan murid hanya sebatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Konsep pendidikan ini sangat efektif membekukan kesadaran kritis dan mereduksi keterlibatan murid dalam proses belajar-mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas, sekaligus mengurangi dan menghapuskan daya kreasi para murid serta menumbuhkan sikap mudah percaya. Karena itulah pendidikan gaya bank hanya menguntungkan kaum penindas dan melestarikan penindasan kepada kaum bisu.[3]

Ciri-ciri pendidikan gaya bank menurut Freire adalah sebagai berikut: a) Guru mengajar, murid belajar; b) Guru berPikir, murid diPikirkan; c) Guru bercerita, murid patuh mendengarkan cerita; d) Guru memilih dan memaksakan pilihannya; e) Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya; f) Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid menyesuaikan diri dengan pelajaran itu; g) Guru mencampuradukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid; h) Guru adalah subjek dalam proses belajar, murid hanyalah objek belaka.[4]

Pendidikan gaya bank ditolak dengan tegas oleh Freire. Penolakannya lahir dari pemahamannya tentang manusia. Ia menolak pandangan tentang manusia sebagai makhluk pasif yang tidak perlu membuat pilihan-pilihan atas tanggung jawab pribadi mengenai pendidikannya sendiri.

Manusia tidak hanya bereaksi secara refleks seperti binatang, tetapi memilih, menguji, mengkaji dan mengujinya lagi sebelum melakukan tindakan. Dalam relasi seperti itu, manusia berkembang menjadi suatu pribadi yang lahir dari dirinya sendiri.[5]

Lewat argumentasi ini, Freire sebenarnya hendak mengatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang mampu berpikir kritis dan karena itu pendidikan semestinya menjadi ruang untuk menajamkan nalar kritis itu bukan malah mematikannya. Pendidikan tidak boleh hanya sebatas pewarisan ilmu, tapi mesti sampai juga pada kedewasaan berpikir dari peserta didik. Karena itu, guru mesti memberi ruang kepada murid untuk berpikir dan berargumentasi secara mandiri serta memfasilitasi diskusi dalam kelas guna membentuk peserta didik yang kreatif dan kritis, khususnya dalam mengkaji reallitas sosial.

Maka jelas bahwa mengajar adalah tindakan kreatif dan kritis, bukan hanya mekanis belaka. Bagi Paulo Freire, guru tidak bisa mencetak profil atau membentuk siswanya, tapi membantu siswanya untuk mengaktualisasikan diri dan potesi-potensi yang dimilikinya potensi yang berbeda.

Berhadapan dengan model pendidikan gaya bank, Freire memproposalkan model problem possing education atau pendidikan hadap masalah. Problem possing education menempatkan manusia sebagai poros utama pendidikan.

Manusia tidak mengada terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan kepada peserta didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Kesadaran akan tumbuh dari pergumulan realitas yang dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri mereka.[6]

Namun problem possing education bukan tanpa halangan. Realitas menghadirkan kelompok penindas dan tertindas yang menghasilkan kebudayaan bisu.

Dalam kebudayaan bisu, kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas.[7] Bahkan ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang penindasan mereka. penindasan seolah-olah realitas terberi yang tidak perlu dibicarakan apalagi dirobohkan. Karena itu, kaum tertindas memilih untuk diam atau bisu. diam atau bisu dalam hal ini bukan karena protes atas perlakuan yang tidak adil, tapi karena memang mereka bisu atau dibisukan sehingga struktur penindasan tersebut tetap langgeng dan tidak pernah putus.

Halaman selanjutnya >>>
Dee Kandu
Latest posts by Dee Kandu (see all)