Remah Roti

Remah Roti
©St. Michael Catholic Church

Pikiran meremah jalan perkotaan
Mendidih remah roti beralaskan secanggir anggur
Tak perlu lelah diinjak-injak orang
Sebutir garam tetap diasinkan.

Supaya harap meruwat lirik
Buah ranum setangkai gandum
Jadi tempat berkumpul ternak-ternak
Dari al-manak kering dan tumpul.

Sehabis luruh
Kausaksikan langkah serupa larut
Jalan bebatuan
Kerikil tajam
Membenamkan telapak
Lalu, semuanya dingin.

Mekar di padang tandus
Berputik kilau tandas
Kering yang kini gugur
Taring yang selalu tidur.

Perihal Hujan

Hujan selalu menggapai lamunan
Menenun segala cipta
Meruwat segala rasa

Hujan selalu melarutkan melankoli
Pada hati yang beku
Pada hari keseribu kematianmu
Hujan selalu menunaikan benih
Pada puisi yang mulai jernih
Menggambarkan sepatu lusuhmu
Disitu kucumbu wangi surgamu

Pengembaraan

Kau selipkan di mana nama itu?

Setelah perjalanan tanpa tujuan
Sekian pinta tanpa lampu penerang
Saku mengirimkan kekosongan
Di bawah altar panas siang

“Nama itu kuselipkan di samudera” tegasmu

Samudera telah ranggas, ucapku
Sekarang kupinta nama itu
Mau kupanggil berulang-ulang
Biar taman ilalang
Berenang ke kedalaman ciuman.

Pamekasan, Februari 2020

    Fahrus Refendi
    Latest posts by Fahrus Refendi (see all)