Renja dan Segala Tentangnya

Renja dan Segala Tentangnya
Ilustrasi: Yang menunggu di kala senja.

Bagaimana kabarmu seminggu ini, Renja? Nampaknya sejak keputusan yang kau buat tanpa negoisasi, kita tak lagi saling sapa. “Ini berat, biarkan aku saja yang menanggung.” Ah, aku mulai mengkhayal lagi gegara kata-kata viral Dilan itu.

Aku rindu, Renja, rindu akan tatapan matamu, rindu akan balasan puisi yang selalu kau kirimkan lewat kunang-kunang. Ah, bukan, lewat gawaimu, maksudku. Kamu baik-baiak saja, bukan? Kuharap demikian.

Sesuai pesan terakhirmu, aku masih dalam keadaan baik di sini, sekalipun aku sedikit kehilangan arah beberapa hari terakhir ini. Tetapi, setidaknya aku telah mencoba berdamai dengan segala patahan yang telah kau berikan.

Bagaimana kabar kenanganmu, Renja? Sudahkah ia berkirim kabar denganmu kembali? Ataukah kau masih bertanya-tanya, bagaimana dia saat ini, dengan pasangannya?

Saat itu, Renja, iya, seminggu yang lalu, anggap saja begitu, aku menerima kabar saat semuanya telah indah. Namun, tiba-tiba kau patahkan begitu saja. Kutanya apa alasannya, kau hanya menjawab, “Aku ingin menjauhimu.”

Kejam! Dunia serasa runtuh seketika, air mata mengalir dengan derasnya. Bagaimana tidak? Aku tak pernah menyangka, bahwa seseorang yang selama ini kubanggakan ternyata setega ini, mematahkan bangunan yang telah lama kususun.

Aku rapuh, linglung, hilang arah, marah, benci, sebel. Tapi, apakah semua itu akan menyelesaikan masalah? Tidak sama sekali. Kendali atas perasaan dan diri kita bukankah ada pada diri kita sendiri?

Tidak dalam diskusi dan nasihat orang lain untuk mencari tempat curhat yang tepat, juga tidak menyelesaikan masalah. Hanya melegakan. Itu pun sementara. Tahukah kau bagaimana aku harus tertatih melewati ini semua?

Alasanmu sangatlah tidak logis. Kau pergi tanpa negoisasi, bahkan tanpa sebab yang pasti. Kau egois. Aku kecewa! Itu saja.

Masalah hati memanglah tak mampu didiskusikan, namun setidaknya kau pun harus mengetahui bagaimana caranya untuk pergi dengan cara yang apik.

Tadi pagi hujan. Dingin semakin dingin. Hingga malam datang, aku sendiri, mengais rindu yang tersisa bersama kenangan kita. Jika kau berkenan, temuilah aku di lebaran mendatang. Tuntaskan yang seharusnya kau tuntaskan!

Aku tunggu hadirmu di rumah dan bicaralah sesuai dengan realita. Biarlah kursi warna hijau itu menjadi saksinya. Aku akan siap menerima semua pernyataan yang keluar dari mulutmu, asalkan itu tidaklah fiktif.

*Mukhibbatul Afifah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Perancis Universitas Negeri Yogyakarta; asal Rembang, Jawa Tengah

    Kontributor