Res Cogitans dalam Guardians of the Galaxy

Res Cogitans dalam Guardians of the Galaxy
©Nerdist

Substansi atau hakikat yang ada itu adalah aku yang berpikir (res cogitans) bukanlah sesuatu yang empiris (res extensa).

Sebagaimana telah dikatakan oleh Slavoj Zizek—seorang filsuf psikoanalitik—bahwa film membantu kita untuk memahami dunia: in order to understand today’s world, we need cinema, literally.  Zizek menggunakan contoh budaya populer, termasuk film, untuk menjelaskan teori Jacques Lacan dalam menjawab secara ekstensif fenomena sosial.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai pemikiran Zizek yang begitu rumitnya. Namun dalam hal ini Zizek memberikan sebuah alternatif bagi saya untuk menjelaskan konsep Res Cogitans (aku yang perpikir) pada Descartes.

Yang menarik, kita akan menemukan konsep itu pada film Guardians of  the Galaxy (Vol. 2). Jika Anda belum menontonnya, saya sarankan untuk menontonnya. Jika anda Sudah menonton film tersebut, maka tontonlah kembali untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh lagi.

Film-film yang diproduksi oleh Marvel Studio’s begitu menarik perhatian penonton. Terlebih lagi dengan suksesnya film The Avenger membuat kita terpesona dengan film yang diangkat dari Marvel Comic’s tersebut.

Film yang ditulis dan disutradarai oleh James Gunn sebagai film Guardians of the Galaxy dan film kelima belas dari Marvel Cinematic Universe mendapat respons baik oleh publik dan para kritikus film.

Ketika menonton kembali Guardians of the Galaxy, seolah keterpesonaan itu terinterupsi oleh kegagapan dalam menilai film yang nyaris filosofis. Semua itu terarah pada salah satu karakter Supervillain bernama Ego yang diperankan oleh Kurt Russell, seorang Celestial–serupa dengan tuhan. Hal tersebut diperlihatkan dalam suatu scene dialog antara Ego dan Peter Quill (Chris Pratt).

You are Celestial, like a God,” kata Quill pada Ego. “g small, son,” balasnya.

Ego dan Aku yang Berpikir (Res Cogitans)

I don’t know where I came from. First thing I remember is flickering, drift in the cosmos…alone .Over millions of year’s I learn to control a molecule around me. Until I am smarter and stronger.”~ Ego, Guardians of the Galaxy (2017).

Satu dialog di mana Ego menjelaskan pada Quill siapa dirinya yang sebenarnya. Dan bagaimana ia bisa membuat planetnya sendiri.

Awalnya Ego tidak mengerti siapa yang menciptakannya. Yang dia ketahui bahwa dia sudah ada begitu saja—sebuah faktisitas.

Ia belajar bagaimana mulai mengendalikan molekul-molekul di sekitarnya. Dan membentuk sebuah planet (Ego’s planet) dengan beberapa lapisan planet. Pada inti planet tersebut terdapat kesadaran Ego yang bentuknya menyerupai otak manusia.

Hasrat Ego untuk meragukan segala sesuatu di luar dirinya bahwa tidak ada makhluk hidup, planet, sistem tata surya, galaksi, dan bahkan universe. Yang ada hanyalah dirinya. Dari sikap ragu itu, Ego mulai menjelajahi seluruh alam semesta. Ia menanamkan dirinya di ribuan planet untuk tujuan menjadikan segala-galanya menjadi aku.

Sampai di sini, ketertarikan saya terhadap film tersebut mulai terinterupsi pada apa yang direpresentasikan oleh karakter Ego.

Jika kita tarik jauh pada pemikiran René Descartes, seorang filsuf modern, bahwa karakter Ego mewakili atau begitu cartesian terhadap pandangannya mengenai subjek. Atau diktum yang sangat terkenal, Cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada).

Descartes memberikan sebuah metode pada filsafat untuk mendapatkan kebenaran dan pengetahuan yang pasti dan jelas dalam pencariannya. Seperti pada metode matematika. Pasalnya, Descartes sangat kecewa terhadap ilmu-ilmu pengetahuan yang terus-menerus memperdebatkan suatu tema yang sama. Hal itu diutarakannya pada filsafat. Karena konsepsi filsafat pada Descartes sebagai akar dari pohon pengetahuan.

Baca juga:

Dengan bertolak dari metode dalam mencari kebenaran absolut tanpa keraguan, justru Descartes berangkat dari keraguan itu sendiri. Kata cogito harus diartikan sebagai kesangsian/keraguan. Sehingga aku mengsangsikan/ragu maka aku ada.

Meragukan segala-galanya—tubuh, objek indrawi, langit semesta dan lainnya—seperti apa yang diperlihatkan oleh karakter Ego. Pada Descartes, ada satu hal yang tidak bisa diragukan keberadaannya, yaitu aku yang sedang meragukan. Dan keraguan ini begitu radikal.

Aku yang meragukan itu sebagai kepastian bahwa aku ada. Justru apa yang aku lihat atau persepsi lewat pancaindra hanyalah ilusif dan pencarian ini dimulai dengan aku. Sehingga substansi atau hakikat yang ada itu adalah aku yang berpikir (res cogitans) bukanlah sesuatu yang empiris (res extensa).

Sebagai contoh, saya bisa menyimpulkan bahwa pohon itu eksis karena saya melihatnya. Fakta ini menunjukkan bahwa bukan pohon itu yang eksis, namun pikiran saya yang eksis saat melakukan tindakan sadar terhadap pohon tersebut.

Dan sebagaimana telah disinggung di atas bahwa kebenaran yang dicari harus bertolak dari dirinya sendiri sebagai tindakan sadar. Karakter Ego memperlihatkan itu ketika dia mulai meragukan eksisnya kehidupan, planet, galaksi, dan alam semesta, kecuali dirinya sendiri.

Mengandalkan kemampuan pikiran yang terbatas dengan menggunakan langkah-langkah dan penalaran yang tepat. Tidak memberikan ruang bagi kekeliruan salah satu upaya dalam mencari kebenaran absolut.

Dalam melakukan pencarian kebenaran, harus diibaratkan saya selalu berjalan sendirian dalam kegelapan dan tanpa bantuan apa pun. Dengan begitu, saya harus siap jika hanya mendapatkan sedikit kemajuan dan pasti tanpa adanya kekeliruan (clearly and distinctly).

Karakter Ego sangat berhasrat menemukan eksisnya kehidupan yang lain (kebenaran) dengan meragukannya. Dengan begitu, Ego mulai bertolak pada dirinya yang kesepian saat diciptakan (tindakan menyadari). Ia mulai belajar secara sendirinya bagaimana membentuk struktur planet dan melakukan ekspansi ke planet lainnya.

Dalam keraguan, Ego memerlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan DNA celestial, yaitu Peter Quill. Cocok untuk membantunya dalam mewujudkan sebuah kebenaran yang dimanifestasikan pada film tersebut sebagai everything becomes me atau Ego’s expansion.

Dualisme Tubuh-Jiwa

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Descartes membedakan dua substansi, yaitu res cogitans (aku berpikir) dan Res extensa (keluasan). Dua substansi tersebut, bagi Descartes, adalah otonom atau berbeda satu dengan yang lainnya.

Hal itu sangat berpengaruh pada Descartes mengenai konsep manusia. Bahwa aku yang berpikir sebagai substansi dan kebenaran yang pasti. Sedangkan tubuh—yang dimaksud tubuh objektif—sebagai mesin yang dijalankan oleh jiwa.

Dalam film Guardians of the Galaxy (Vol. 2), karakter Ego menciptakan dirinya dalam bentuk sebagai manusia atau memproses bentuk kehidupan lewat substansi res cogitans. Sehingga dengan begitu memudahkan Ego untuk berekspansi ke planet lain.

Dari sini kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan pada sistem filsafat Descartes. Jika terdapat dua substansi, bagaimana relasi antara tubuh dan jiwa? Ataukah jangan-jangan tubuh cartesian mereduksi konsep tubuh-subjektif sebagai tubuh yang mengalami pada tubuh objektif?

Dengan begitu kita bisa mengajukan gugatan bahwa suatu tubuh akan mengkonstitusikan tubuh yang lain (relasi intersubjektif). Sehingga tubuh sebagai struktur dibentuk oleh realitas yang terbentuk dari relasi intersubjektif untuk membentuk realitasnya.

Jika berangkat dari Zizek mengenai konsepsi tubuh-peristiwa-ruang yang membentuk realitas, bahwa Zizek mengatakan, “Diam-diam aku (tubuh) berpikir (peristiwa) bahwa realitas (ruang) itu ada.”

Baca juga:
    Yudha Prakasa
    Latest posts by Yudha Prakasa (see all)