Resep Menjadi Orang Toleran

Resep Menjadi Orang Toleran
Ilustrasi: rilis.id

Nalar Warga – Resep menjadi orang toleran itu mudah. Mudah sekali. Semudah Anda mengerdipkan mata. Ting.

Resepnya adalah Anda cukup punya cermin. Melalui cermin itu, Anda bisa mengaca, meneliti, merenungkan, memikirkan, terus mengevaluasi diri.

Apakah Anda sudah layak menjadi ini-itu? Apakah Anda sudah pantas disebut ini-itu? Apakah Anda sudah laik menghakimi orang lain ini-itu?

Sadarkah Anda bahwa Anda tidak sendirian di muka bumi ini? Anda bukan satu-satunya umat beragama di jagat raya ini. Anda bukan satu-satunya orang yang mempunyai, mempercayai, dan menyembah Tuhan.

Anda bukan satu-satunya golongan yang mempunyai kitab suci, tempat suci atau bahasa suci. Anda bukan satu-satunya orang yang mempercayai adanya “dunia paska kematian” beserta kremik-kremiknya. Anda juga bukan satu-satunya yang meyakini surga-neraka.

Buka mata Anda lebar-lebar. Jembreng kuping kalian lebar-lebar. Rajinlah jalan-jalan dan perhatikan dengan seksama umat, agama, lingkungan, tradisi dan budaya orang lain. Maka Anda akan merasakan bahwa apa yang Anda pikirkan dan praktikkan, orang dan umat agama lain pun demikian.

Jika Anda meyakini konsep Tuhan Anda sebagai yang paling otentik, umat agama lain juga sama dengan konsep Tuhan mereka. Jika Anda meyakini kitab suci Anda yang paling sahih, umat lain juga sama dengan kutab suci mereka.

Jika Anda meyakini tata-cara ibadah Anda yang paling benar, umat agama lain juga sama dengan tata-cara ibadah mereka. Jika Anda meyakini, kalianlah kelak yang paling selamat di alam akhirat, umat agama lain juga sama: meyakini merekalah kelak yang akan selamat di alam akhirat.

Maka dari itu, daripada kita gontok-gontokkan dan saling menyerang tentang konsep Tuhan, doktrin, ajaran, dan budaya umat lain, bukankah akan lebih baik kalau kita saling belajar, saling menghargai, dan saling menghormati satu sama lain?

Kalau kita merasa sakit karena agama kita dilecehkan, umat lain pun demikian. Kalau kita marah karena simbol-simbol agama kita direndahkan, umat lain pun sama. Kalau kita jengkel karena kitab sucinya diremehkan, umat lain pun demikian. Memangnya cuma kita doang yang punya hati dan otak, perasaan dan pikiran?

Kita menganggap umat lain keliru. Umat lain juga menganggap kita keliru. Kita mengklaim umat lain sesat. Umat lain juga mengklaim kita sesat. Kita memandang keyakinan umat lain salah-kaprah. Umat lain pun demikian terhadap keyakinan kita.

Maka, sesungguhnya sudah tepat rumusan Al-Quran bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku” (“Lakum dinukum waliyadin”). Masalah agama dan keyakinan memang sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.

Kita sah-sah saja meyakini setengah mati kebenaran otentik konsep Tuhan, kitab suci, serta doktrin dan ajaran agama kita. Tetapi tak perlu diiringi dengan sikap olok-olok terhadap konsep Tuhan, kitab suci serta doktrin dan ajaran umat agama lain. Tak perlu. Sama sekali tidak perlu.

Menurutku, jalan terbaiknya adalah silakan berbuat baik dengan sesama makhluk Tuhan semaksimal mungkin selama hidup di dunia ini, sementara urusan di alam akhirat, kita serahkan bongkoan saja kepada Sang Pengecat Cabe.

Terserah Dia, mau diapakan kita kelak. Toh kita sama-sama tidak mengerti “apa sesungguhnya” yang terjadi di alam paska kematian. Wong sama-sama tidak tahu saja kok ribut, saling mengklaim, dan saling berantem. Cape deh.

*Sumanto Al Qurtuby

___________________

Artikel Terkait: