Restorasi Gambut, Kunci Sukses Cegah Karhutla

Restorasi Gambut, Kunci Sukses Cegah Karhutla
©Okezone

Kesuksesan pencegahan karhutla di negara ini sangat bergantung pada keberhasilan restorasi gambut.

Nalar Warga – Kabar baik. Kebakaran hutan sudah mulai padam. Titik panas berkurang drastis seiring dengan turunnya hujan buatan yang menelan biaya miliaran rupiah.

Infonya, dari puluhan ribu titik panas di seluruh area yang terbakar, sekarang tersisa ratusan saja di sejumlah lahan gambut.

Meski program restorasi yang dimotori BRG Indonesia sudah berhasil menekan kebakaran di lahan gambut sebanyak 2 persen (data LAPAN), tapi gambut masih jadi biangnya karhutlah sampai hari ini. Bahkan gambut masih membara di beberapa titik, saat lahan lain sudah mulai padam.

Setelah 3 tahun bekerja dengan dukungan banyak ahli lingkungan dan kehutanan, BRG Indonesia tentu sudah punya formulasi yang tepat untuk mencegah kebekaran di lahan gambut. Tanpa itu semua, mungkin kebakaran lahan di Sumatra Selatan akan lebih luas lagi.

Mestinya keberhasilan BRG Indonesia di Sumatra Selatan ini segera ditularkan ke wilayah lain. Tapi sayangnya, kewenangan supervisi BRG Indonesia masih sangat terbatas. Lahan konsesi kehutanan yang masih dipegang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan malah terbakar paling luas di karhutla kemarin.

Menurut saya, kesuksesan pencegahan karhutla di negara ini sangat bergantung pada keberhasilan restorasi gambut. Karena kerusakan lahan yang menjadi biang karhutla ini berada di level yang sangat parah. Ditambah sebarannya sangat luas di beberapa provinsi. Semuanya rawan terbakar.

Tapi saat saya coba cari informasi lebih dalam tentang lahan gambut, hasilnya sangat mengagetkan, kalau tidak mau dibilang lucu.

Fungsi restorasi gambut itu sangat krusial dalam pencegahan karhutla, tapi ternyata data luas dan sebaran persisnya saja kita belum punya. Bagaimana mau kerja benar?

Baca juga:

Kebijakan One Map Policy sudah dicanangkan semenjak SBY dan dilanjutkan oleh Jokowi. Tapi malangnya, sampai hari ini, Indonesia belum punya peta luas dan sebaran lahan gambut yang valid.

Dan jangan heran kalau kegagalan One Map Policy ini juga berimbas pada kinerja instansi lain, termasuk program restorasi gambut BRG Indonesia. Ini bukti bahwa sinergi antara lembaga masih sangat buruk, Pak Jokowi.

Menurut Prof. Barus, ahli Penginderaan Jauh IPB, peta yang utuh dalam kesatuan hidrologis gambut ini sangat penting untuk menyusun skenario pembasahan lahan gambut. Lah, gimana mau berhasil kalau ternyata petanya saja gak ada? Pantas data luas lahan saja masih beda-beda.

Untungnya BRG Indonesia punya inisiatif untuk menyusun peta indikatif lahan gambut sendiri. Itu pun masih terkendala koordinasi dengan pemerintah daerah dan perusahaan pengelola lahan yang enggan memberikan data. Tolong jangan tinggal diam, Pak Jokowi dan KemenLHK.

Pembuatan peta ini sudah dimulai BRG sejak 2016, namun terhambat oleh Pemda-Pemda yang tidak komitmen dan perusahaan yang “bebal”. Ini karena BRG dianggap “kurang seram” hingga disepelekan, Pak Jokowi. Padahal peta ini terkait dengan fungsi dan tugas pokok BRG Indonesia dalam menekan risiko karhutla.

Pak Jokowi, tolong segera evaluasi dan perbaiki tata kelola lahan gambut. Persoalan restorasi ini sangat rumit dan berkelindan dengan beragam kepentingan dan peran banyak pihak. Tanggung jawab restorasi yang berat ini hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang memiliki hak dan kewenangan yang memadai.

@dvrddvrd

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet