Revallina

Revallina
Allotment Heaven

Adakah kata yang paling bening
yang bila kukecup mampu menyegarkan batin

jikalau selain kata cinta, maka itu ialah nama manismu
sebagai cermin yang memantulkan wujud dirimu

sebagai musim semi dalam kemarau hari-hariku
betapa aku sungguh merindukan rintik-rintik hujanmu

dan dalam lipatan jarak wajahmu berkelindan dalam angan;
kenapa aku begitu gemar menyaksikan wajahmu berlalu-lalang
dalam pikiran.

Sebelum Pagi Menjemputku
: untuk Revallina

1.
Kupastikan mataku tetap menyala setelah diguyur kopi.
Karena malam mengintai kantukku untuk menculikmu
dari pikiranku sebelum pagi menjemputku.

2.
Karena hanya dengan berkhayal kita adalah sepasang
pengantin yang menikahi kesunyian.

3.
Yang bila dalam keramaian hati kita selalu alpa
untuk menikmati secawan tawa yang tumpah ruah
oleh mereka yang sebenarnya hanya berpura-pura
bahagia.

4.
Revallina malam semakin tua dan aku semakin tak berdaya
mungkinkah kini kau sudah menjadi mimpi di rembulan
bagi bantal yang sedari tadi sudah kutinggalkan.

Jakarta-Singapura
: untuk Revallina

Di Singapura atau di manapun bauh tubuhmu
sebagai kemarau aku merindu musim semimu
sebab malam doaku dibasuh tawar air mata
pagi bagai pijar mentari kau menjelma cakrawala
sore seperti senja yang hampir lepas landas
di Jakarta aku cemas dan lemas kau begitu lekas
menghapus aku dari kota yang mempertemukan kita

Re, ini hari bernama kamis: ia amat manis sebab gerimis
ia meledekku sebagai lelaki yang berjalan diiringi tangis
sendiri menyeberangi anak hujan di jalanan ibukota
ah, dikau yang di Singapura atau entah di irisan bumi mana
rawatlah aku di keningmu, di dalam sujud sunyimu.

Melihatmu Paling Pagi
: untuk Revallina

Satu yang kuharap ialah membimbingmu kelak
dan satu yang kutakuti ialah takdir berkata tidak

andai segala perihal yang kuminta
ialah doa yang segera menjadi nyata

sebab dalam munajatku yang panjang
nama manismu tak henti kurapal berulang-ulang

Re, aku ingin menjadi lelaki yang melihatmu
paling pagi dan lebih pagi dari nyala mata lampu
di atas ranjang tidurmu sebelum mempergokiku

sedang menaruh bibir di keningmu: melingkar
di tubuhmu.

Sebab Aku Buih pada Biru Lautmu
: untuk Revallina

sebab aku adalah buih pada biru lautmu
sedang rinduku telah digulung ombakmu
kini aku pasir pasrah menanti sambutmu

Apalah Artinya Surga Tanpamu
: Revallina

apalah artinya surga tanpamu
seperti Adam dulu akulah lelakimu
yang kesepian itu.

Hujan Sore Ini
: Revallina

Sayang, apakah kau melihat
langit murung sebab mendung?

Jika sore ini hujan turun
aku ingin berteduh pada tubuhmu

Hujan sore ini ialah alasan
bagi mata yang ingin bertemu
bagi bibir yang kering dan layu
sebab kemarau rindu

lagi hati yang pedih
dan resah karena pisah

Sayang, aku merindukan bau tubuhmu
yang hangat dan kemilau karena keringatmu

aku rindu manis bibirmu yang merekah
dan aku ingin menyembunyikan merah
wajahku di dadamu yang sempurna
sebentuk bulan purnama

aku ingin berulang kali jatuh dan kau
menangkapku dalam pelukan hangat itu
yang seperti dulu kita khayalkan
dan terus-menerus kita rayakan

Sayang, hujan sore ini ialah alasan
kenapa aku atau kamu menginginkan
pertemuan

untuk kita bergenggam tangan
atau bertukar pelukan dan ciuman

Hujan sore ini ialah alasan
kenapa aku harus pulang,
sayang.

Rindu
: Revallina

“Maka aku mendakwamu,
bahwa sakitmu hanya bisa diobati
oleh sebuah ciuman dan tangan
yang saling bergenggaman,”
kata waktu yang tergesa-gesa itu

Kesunyian

Kemarin aku melihat pohon kering yang melengkung
tubuh dan daun-daunnya tanggal, kering, dan ceking
kulitnya mengelupas, seakan-akan telah menanggung

hujan panas matahari yang tak punya belas kasih
di sekujur tubuhnya penuh luka bacok bekas golok

seperti sengaja hendak menyiksa sebab tubuhnya
utuh kendati rapuh.

Hari ini aku menatap sebatang pohon kering
yang daunnya berserakan disapu angina
akarnya merobek bumi dan tubuhnya diam
berbaring tenang seperti batu yang menggeletak
pohon itu tak beranjak meski berulang kali diinjak

Aku melihat pohon tua sengsara di musim tua
dan aku melihat masa depan yang mengerikan.

“Semoga bukan cermin yang memantulkan
wujud diriku yang demen menikahi kesunyian:
kesendirian,” ucapku membatin.

Merayakan Patah Hati

Cinta adalah sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya
sebagai tanda bahwa jatuh cinta adalah cara paling manis untuk
menyakiti diri sendiri. Membangunkan marabahaya yang selalu
mengintai hati sebab luka yang tak ada tetes darahnya
karena setiap hari adalah hari raya merayakan laku lara cinta kita.

    Arian Pangestu

    Mahasiswa sastra di salah satu universitas swasta di Tangerang | Pegiat Kajian Filsafat dan Feminisme | Anggota Forum Libertarian Indonesia

    Latest posts by Arian Pangestu (see all)