Revitalisasi Islam Mazhab Ciputat

Revitalisasi Islam Mazhab Ciputat
©Kompas

Revitalisasi Islam Mazhab Ciputat sebagai Upaya Perlawanan terhadap Ekstrimisme dan Radikalisme Agama

Belum lama kita dihebohkan oleh sebuah kasus pembubaran ibadah mahasiswa Katolik Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, pada Minggu, 5 Mei 2024. Kasus ini sebenarnya sudah banyak terjadi di Indonesia, hanya saja satu atau dua kasus yang berhasil terekam dan terungkap.

Indonesia sebagai negara yang mayoritas penganutnya Islam sebenarnya rawan terjadi gesekan di antara umat, khususnya bagi yang minoritas. Padahal baragam suku, bahasa, dan agama seharusnya bisa menjadi modal kekayaan Indonesia dalam membangun negara yang lebih baik di masa depan.

Namun, alih-alih sebagai sebuah modal sosial yang potensial, keragaman yang ada di Indonesia justru malah menjadi api dalam sekap yang setiap detik dapat menjadi bom waktu bila terdapat pemicunya. Sungguh sebuah ironi besar, pasalnya sudah banyak berbagai pihak membangun komunikasi, membangun dialog antar umat beragama, dan mengkampayekan sikap-sikap toleransi, namun tetap saja hasilnya nol.

Lantas apa yang mesti diperjuangkan untuk menanggulangi atau minimal mencegah terjadinya kekerasan, radikalisme, atau ekstrimisme atas nama agama?

Meski kita terasa lelah melihat kenyataan yang demikian, namun kita tidak boleh putus asa akan kemajuan dan masa depan toleransi serta perdamaian di Indonesia. Kenyataan itulah yang telah dimulai oleh beberapa kelompok atau pemikir Islam di Indonesia yang berangkat dari lembaga pendidikan tinggi bernama “Mazhab Ciputat”.

Mazhab Ciputat sendiri merujuk pada daerah tempat kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berada, yakni Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan.

Mengapa disebut “Mazhab Ciputat”? Penafsiran liar dari kata mazhab terdapat dalam buku The Concise Encyclopedia of Islam, istilah itu diartikan sebagai sistem berpikir. Juga dalam buku A Popular Dictionary of Islam, Ian Richard Newton memberi penafsiran sebagai kelompok pemikir atau penulis yang berkecimpung dalam hukum.

Baca juga:

Mengikuti alur pemikiran demikian maka berdirilah suatu lembaga dari sekumpulan sarjana dengan menggunakan kata mazhab, yaitu “Mazhab Frankfurt” (Effendy, 1999).

Berpijak pada pengertian di atas, maka lahirlah istilah “Mazhab Ciputat”. Lantas pemikiran apa yang ditawarkan atau dihasilkan oleh Mazhab Ciputat? Lahirnya Mazhab Ciputat tidak lepas dari kejumudan berpikir mengenai perkembang pemikiran Islam di tahun 1970-an. Kala itu pemikiran keislaman masih di dominasi oleh pemikiran yang kaku dalam artian hanya berbasis pada teks tanpa menggunakan akal.

Oleh karena itu Islam Mazhab Ciputat yang saat itu dimotori oleh tokoh-tokoh intelektual seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur), Azyumardi Azra, dan Dawam Rahadjo menginginkan bahwa Islam Mazhab Ciputat harus berpijak pada wahyu dan akal sebagai basis pedoman dalam hidup beragama, sebab keduanya merupakan unsur yang saling melengkapi dalam Islam.

Manusia merupakan makhluk Allah Swt yang diciptakan dengan mulia yang disertai akal pikiran. Akal merupakan faktor pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Menurut Harun Nasution perpaduan antara wahyu dan akal menjadi landasan bagaimana kehidupan keislaman di Indonesia dibangun.

Bagi Harun Nasution, mempergunakan akal adalah salah satu dasar dalam beragama Islam. Iman seseorang tidak akan sempurna jika tidak didasarkan pada akal. Harun Nasution memadukan wahyu dan akal selaku dua unsur utama yang saling melengkapi, ia meyakini bahwa al-Qur’an sebagai wahyu Allah Swt memandang akal sebagai sesuatu yang sangat penting. Perpaduan tersebut mampu membawa masyarakat menjauh dari kekacuan (Cipta, 2020).

Senada dengan Harun Nasution, Nurcholish Madjid sebagaimana dikatakan oleh Yudi Latif mengatakan bahwa Cak Nur sebagai pemikir Islam mencoba mengkritik perkembangan keagamaan, khususnya Islam yang tidak responsif terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Agama yang seharusnya hadir sebagai solusi, justru malah menjadi biang keladi dari masalah. Salah satunya sebagaimana disampaikan dalam pidato Cak Nur di Taman Ismail Marzuki tahun 1992: (Cipta, 2020)

“…apakah ada kebaikan di dalam kehidupan beragama di masa yang akan datang? Agama itu mengajak kebaikan, tapi justru ketika orang percaya kepada agamanya. Maka, dia semakin kental menganggap dirinya merasa benar untuk menganiaya orang lain. Tentu harus dicari pemecahan, karena Indonesia akan menghadapi masalah ini. Dan salah satu yang bisa kita gunakan dalam menghadapi persoalan ini ialah mencoba memahami agama secara lebih baik dan lebih benar…”

Pidato Cak Nur ini jelas terjadi akhir-akhir ini di masyarakat kita, yakni merasa paling benar dan menganiaya orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu menggunakan akal sehat dalam setiap kehidupan bersosial dan bermasyarakat.

Halaman selanjutnya >>>

Dimas Sigit Cahyokusumo