Rezim yang Gagal

Rezim yang Gagal
©Australian News Review

Rezim yang sekarang adalah rezim terparah sepanjang sejarah NKRI.

Saya tidak akan mengatakan dan bagaimana mengawali tulisan yang sedang saya buat ini, tetapi pada intinya semua bermula pada diri kita masing-masing. Kita terkadang memiliki masalah yang sama dan hanya berbeda konteks untuk sebuah masalah yang terpusat pada objek tertentu. Kita pun tahu bagaimana susahnya hidup di negara ini.

Semua orang dari berbagai kasta, golongan, ras, agama, hingga budaya kita pasti memikirkan hal yang sama, terlebih lagi kita mempunyai kehidupan pada strata sosial yang berbeda-beda. Seperti saya yang berdoa menurut keyakinan Islam, teman saya yang seorang Katolik yang tiap akhir pekan ke Gereja, berbagai sahabat yang beragama Buddha yang berdoa di Vihara, bahkan teman-teman dari golongan Ateis dan Agnostik yang menjalani kehidupan dengan penuh rasa yakin menurut akal dan logika serta dari lubuk hati mereka yang paling dalam.

Tidak ada urgensi dalam sebuah tulisan ini, tetapi dalam diri kita dan dalam kehidupan kita yang sebenarnya, kita memiliki urgensi yang cukup memprihatinkan di dalam setiap masalah yang kita hadapi. Ada beberapa pedagang yang harus tutup lebih awal karena kebijakan di masa pandemi, ada orang-orang yang terlilit utang dan makin susah, ada anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya.

Ada mahasiswa yang hampir stres karena skripsi tak kunjung selesai, ada orang yang terpaksa menjadi gelandangan karena bingungnya mencari uang untuk sekadar makan sesuap nasi, ada beberapa buruh yang mau tidak mau harus di-PHK karena perusahaan tidak kuat lagi untuk memberi gaji pada karyawannya, ada seorang sarjana muda yang susah mendapatkan pekerjaan dan masih banyak lagi orang-orang yang mengalami nasib yang sama.

Saat ini dan dalam kondisi ini semua orang pasti akan menangis, heran, dan tentunya kecewa. Seolah-olah kehidupan akan berakhir di depan mata, seolah-olah tidak ada harapan lagi di hari esok. Siapa yang akan bertanggung jawab atas nasib semua orang yang sedang mengalami kesedihan di negara ini?

Selama ini fungsi-fungsi konstitusi yang ada di dalam sebuah negara hanya sebuah alat dan formalitas saja, tidak semuanya penduduk itu kaya, tidak semua masyarakat itu mampu, tidak juga semua rakyat itu makmur. Saya ataupun beberapa orang tidak akan pernah tahu bagaimana Tuhan memandang kejadian ini, bagaimana Tuhan memberi jalan tanpa orang-orang sadari, dan juga bagaimana Tuhan membantu orang-orang yang tidak semuanya tahu tanda-tanda itu.

Saya dulu pernah berpikir bahwa di dalam sebuah perjalanan ada beberapa pilihan, dan ketika ada pilihan terakhir yang harus diambil maka pilihan itu adalah “Tetap jalan maju dan jangan kembali”. Perjalanan itu menuntun pada tempat yang bisa kita sebut “rumah”, tidak peduli bagaimana bentuknya, bagaimana isinya, dan juga bagaimana orang-orangnya.

Di setiap tempat dan di setiap waktu manusia berhak mendapatkan kebebasan dan kedamaian. Dihargai dan menghargai satu sama lain, saling menjaga dan memberi ketenangan, serta tidak saling mengancam, merampas bahkan sampai membunuh.

Jujur saja kita pasti akan sangat sulit menemukan itu di negara ini. Kita mungkin hanya menghabiskan waktu dan sisa umur didalam penjara, kita mungkin hidup dalam suasana mencekam dan khawatir akan keselamatan diri, mungkin juga kita tidak memiliki ruang yang cukup hanya untuk sekadar bernapas lega dan merasakan aman dalam hidup kita.

Saya ada sebuah cerita dari makna sepenggal lagu, mungkin bagi orang-orang yang sehari-hari selalu mendengarkan musik metal asal Amerika pasti tahu band yang sudah 40 tahun berkarya hingga sekarang. Saya akan menyebut nama band itu dan band tersebut bernama Metallica.

Ada sebuah lagu dari Metallica yang berjudul “One”. Lagu itu bernuansa klasik dan menceritakan seorang tentara Amerika yang sedang hidup di suatu tempat yang hanya berisi kegelapan dan suara-suara meriam serta peluru yang dapat membunuh tentara tersebut kapan pun saja. Tentu saja tentara itu sedang berperang, yang ada di dalam pikiran tentara itu hanya bagaimana dia bisa pulang dengan selamat ataupun ia akan menjadi mayat yang terdampar di dalam tempat yang luas tanpa ada yang mengubur jasadnya.

Sepenggal lirik dari lagu ini yang saya maksud adalah “Now the world is gone, I’m Just One. Oh, God help me. Hold my breath as I wish for death. Oh please, God help me.” Makna singkatnya adalah dunia terasa hanya semu dan fana, tentara tersebut merasakan bahwa dia satu-satunya yang ada dan satu-satunya manusia yang menderita untuk menghadapi kenyataan yang ia jalani. Ia menahan napas dan berharap seolah ia akan mati, tetapi ia juga berharap Tuhan akan menolongnya.

Semua tergantung bagaimana kita memaknai sebuah lirik. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan simbol-simbol Satanic ataupun domba Bapomet dan seekor ular sebagai ikon pada band-band bergenre metal.

Terlepas dari itu semua kita melihat dan berkaca pada negara ini tentu saja Indonesia selalu menjadi pusat perhatian dengan kebijakan-kebijakan konyolnya hingga membuat rakyat menderita dan susah untuk melanjutkan kehidupan di hari esok. Jika menurut Cak Nun, beliau berkata bahwa “Di negara komunis kamu dilarang mengkritik tetapi makan ditanggung pemerintah, di negara demokratis kamu bebas mengkritik tetapi makan cari sendiri. Sedangkan di Indonesia kamu dilarang mengkritik dan perkara makan kamu cari sendiri!”

Saya pikir Indonesia yang sekarang bukanlah negara demokratis. Di masa pandemi ini Jokowi adalah pemimpin yang cukup gagal dalam mengatasi negara ini bahkan sebelum pandemi masuk ke Indonesia. Jokowi bukanlah kita, bukanlah kami dan bukanlah semua orang, tetapi Jokowi adalah Megawati. Di sepanjang jalan kita diperlihatkan baliho yang tidak bermanfaat bergambarkan Puan Maharani. Feodalisme ini akan tetap berlanjut jika negara ini dipimpin oleh dinasti dari partai itu, partai yang menaungi Jokowi, partainya Megawati.

Ma’ruf Amin mengatakan bahwa pandemi ini jangan dijadikan objek untuk membuat kepercayaan rakyat kepada pemerintah berkurang. Saya pikir Ma’ruf Amin tak jauh beda dengan Jokowi. Saya tahu dan saya hormat bahwa Ma’ruf Amin adalah seorang Kiai dan Wakil Presiden, tapi kita lihat kontribusi beliau ini apa untuk Indonesia selama 2 tahun terakhir?

Bagaimana rakyat tidak percaya dengan pemerintah jika rakyat selama ini susah untuk mencari makan dengan aturan-aturan yang tidak jelas ini. Apa bedanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan Karantina Wilayah jika aturan ini sama-sama membunuh pekerjaan masyarakat.

Hanya saja PPKM adalah bentuk aturan kasar dari istilah Karantina Wilayah. Masyarakat disuruh membatasi diri di rumah, berjualan dibatasi pada jam tertentu dan jika melanggar maka akan dibubarkan aparat secara paksa, sudah begitu tidak ada bantuan dana dan solusi dari rakyat yang hilang mata pencahariannya.

Negara tidak mampu membiayai kebutuhan masyarakat selama PPKM lalu ketika mengkritik kebijakan malah dipidanakan. Ini yang dimaksud Cak Nun bahwa Indonesia memang negara yang gagal, kritik dilarang dan makan tetap saja cari sendiri. Di sepanjang jalan Malioboro di Kota Yogyakarta, masyarakat sudah mengibarkan bendera putih bahwa mereka sudah menyerah dan tidak kuat dengan aturan PPKM yang dapat membunuh mereka perlahan-lahan.

Pandemi ini tidak akan selesai jika jumlah test Covid-19 terus diberlakukan. Dari awal PCR-test adalah alat test yang tidak akurat terhadap pembuktian sebab-akibat adanya virus. Alat ini justru dijadikan ladang bisnis oleh rezim karena di situlah pandemi tidak akan selesai. Selama negara ini masih gila anggaran dan terus saja menghasilkan uang dari PPKM, maka pandemi ini akan terus berjalan. Walaupun harus memakai masker berlapis-lapis, hingga vaksin berkali-kali ataupun prokes seketat apa pun mungkin tetap saja pandemi ini tidak akan pernah berhenti.

Inilah bukti Jokowi gagal sebagai presiden. Ia tidak paham bagaimana memimpin sebuah negara dan mengatasi masalah. Ia hanyalah sekadar boneka dari para elite penguasa yang tidak terlihat. Laju ekonomi rakyat dihajar habis-habisan tanpa sebuah solusi dan bantuan nyata dari pemerintah, orang bersuara diancam dipenjarakan, orang berdagang dibubarkan dengan alasan melanggar PPKM, tempat ibadah dibatasi bahkan ditutup sedangkan Mall masih dibuka, rakyat disuruh berdiam diri di rumah sedangkan warga negara asing beratus-ratus masuk ke Indonesia.

Manusia-manusia Indonesia benar-benar telah dijauhkan dari agama dan secara tidak sadar disuruh menyembah peraturan-peraturan, regulasi, dan ilmu pengetahuan yang menyesatkan.

Rezim yang sekarang adalah rezim terparah sepanjang sejarah NKRI, bahkan mungkin lebih parah daripada rezim Soeharto. Dan di rezim sekarang baru kali ini masyarakat banyak yang mati karena wabah virus yang tak jelas ini atau lebih tepatnya ini adalah agenda depopulasi berkedok wabah pandemi virus corona.

Ini jelas-jelas tidak bisa diampuni, Jokowi sudah melakukan dosa besar selama memimpin negara ini. Ini menjadi alasan kenapa mayoritas masyarakat kecewa dengan kinerja Jokowi sebagai presiden dan banyak yang mengatakan bahwa Jokowi harus mundur dari jabatan sebagai presiden.

Tulisan ini adalah sebuah bentuk kritik dan aspirasi. Bukan bermaksud memprovokasi tetapi tulisan ini adalah bentuk kecil untuk menyadarkan masyarakat dan melawan segala bentuk penindasan dan keterpurukan. Kita bersama masyarakat, kita di kalangan bawah dan kita merasakan hal yang sama.

Korban dari segala masalah di negara ini adalah mayoritas masyarakat bawah yang terdampak. Ini bukan virus sungguhan tapi ini hanyalah virus politik dan virus bisnis yang merenggut hak hidup masyarakat.

Berkaca pada Inggris, Australia, Amerika dan negara lainnya, jika Indonesia ingin bebas dari pengekangan dan protektifisme, maka People Power adalah solusi untuk menggulingkan sistem yang zalim ini. Semoga orang-orang segera sadar dan menggerakkan hati nurani mereka untuk menciptakan sebuah perubahan yang nyata.

Farouq Syahrul Huda
Latest posts by Farouq Syahrul Huda (see all)