Rian Ernest: Tidak Ada Kebetulan dalam Politik

Rian Ernest: Tidak Ada Kebetulan dalam Politik
TVOne - #ILCKebebasanKampus

Nalar Politik“Tidak ada kebetulan dalam politik,” tegas Rian Ernest di satu sesi Indonesia Lawyers Club (ILC) bertajuk Kenapa Sudirman Said & Ferry Mursyidan Dicekal di UGM?, 16 Oktober 2018.

Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu menyayangkan pihak penyelenggara Seminar Kebangsaan UGM lantaran mengundang dua tokoh politik anti-Jokowi. Meski mengangkat tema “Kepemimpinan Era Milenial”, tetapi kehadiran tim Prabowo-Sandi itu membuat agenda kampus menjadi bernuansa politis.

“Dua pihak ini adalah figur terkenal. Dulu menteri Pak Jokowi, dan (sekarang) bagian dari tim Prabowo-Sandi. Kalau mengatakan ini diskusi biasa, bicara kebangsaan, dalam politik, tidak ada kebetulan; pasti ada tujuan dan maksud,” jelas Rian.

Lagi pula, lanjut Rian, penyelenggara seminar adalah BEM Fakultas Peternakan UGM. Mereka mestinya fokus bicara soal agrikultur, bukan mengarahkan organisasi intra-kampus sebagai corong politik pihak tertentu.

“Kenapa gak undang menteri pertanian atau menteri kehutanan? Kenapa Pak Sudirman yang mantan menteri ESDM atau Ferry menteri agraria yang fokus pada administrasi pertanahan? Teman-teman kan gak belajar administrasi pertanahan? Kan belajar agrikultur?

Meski Rian tidak mempermasalahkan tema seminar, namun ia mengharap keberimbangan di setiap bahasan politik. Keberimbangan dalam menghadirkan narasumber, menurut Rian, adalah utama yang harus penyelenggara canangkan.

“Mengadakan diskusi gak pernah ada salahnya. Tapi izin harus dilakukan secara betul, wajar, dan tidak ada senggol kiri dan senggol kanan. Juga melibatkan masing-masing tim dari dua pasangan. Biar gak berujung polemik seperti ini.”

Rian juga menyatakan setuju soal upaya rekan-rekan mahasiswa Fakultas Peternakan untuk menggali lebih dalam narasi kepemimpinan. Tetapi dalam politik, sekali lagi, tidak ada kebetulan, apalagi sekarang sudah mulai masa kampanye.

“Politik itu kan persepsi. Dengan adanya acara seperti itu, terjadi persepsi bahwa ini dua orang kebetulan dari pihak Pak Prabowo.”

Di akhir, Caleg DPR RI Dapil DKI Jakarta I itu berharap bahwa siapa pun rekan-rekan mahasiswa yang hendak mengadakan acara politis, mestinya tidak bawa-bawa atribut kampus. Terlebih UU sudah mengatur, mimbar akademik harus sepenuhnya terbebas dari politik praktis.

“Gak usah pakai atribut. Kalaupun harus, bicara visi-misi kepemimpinan aja, dan mesti berimbang.”