Rindu

Rindu
©Kumparan

Rindu 1

Sayup-sayup azan terdengar
Di sela rintik hujan
Ada samar cahaya api dari dapur
Juga wangi nasi panas dan sayur

Aku bergegas terbangun
Setengah kedinginan setengah hangat hatiku
Segera ku menemuimu
Setelah sekian lama terhijab jarak dan waktu

Namun tak ada sumber api tadi
Tak ada nasi panas dan sayur
Aku hanya begitu rindu
Di subuh yang beku

Rindu 2

Hujan lebat belum juga subuh kala itu
Berjatuhan dalam hati,
Dinginnya membekukan sisa hidupku
Yang kau tinggalkan, ibu.

Selalu kuingat kau duduk di depan pintu rumah kita, khawatir
Setiap ku telat pulang tanpa kabar
Dulu sering kusebal oleh omelanmu, karena kenakalanku
namun kini terkenang merdu
Kau akan terjaga bermalam-malam merawatku saat sakit
Menangis sambil merapel doa,
Namun sekarang akulah yang merapel doa-doa kerinduan sambil tersedu

Separuh diriku sepertinya masih tergugu di antara derasnya hujan
Saat kau berpulang, ibu
Mengantarkanmu di gerbang perpisahan
Menunggu jiwamu agar tak kesepian
Aku masih mau di sana
Seperti dulu menunggumu pulang dari pasar
Penuh antusias melihatmu tertawa membawakanku buah tangan

Aku masih di sana
Menunggu dengan waswas ekspresi kecewamu saat tahu
Nilai raporku pas-pasan saja
Namun tidak kutemukan itu

Baca juga:

Engkau adalah ibu, yang menerima kekurangan-kekuranganku
Engkau yang pertama memaafkanku,
Bahkan sebelum diriku sendiri
Engkau yang paling berharap kebaikan buatku
Aku rindu, ibu

Ibu

Ada bisikan-bisikan rahasia
Ungkapan cinta rahasia
Usapan mesra jauh sebelum bersua

Tuhan memang menciptakan relasi yang indah
Kasih yang bertuah
Dari ibu
Memberikan patahan-patahan asa yang menguatkan rahimnya
Berbagi perasaan bahagia yang menumbuhkan rasa amanku di perutnya
menyerahkan darah dan kehidupannya agar diriku lengkap sempurna
bagaimana seseorang tersenyum bahagia setelah meregang nyawa
melupakan semua kesakitan,
mengikhlaskan perjuangan
demi aku baik-baik saja

Ibu,
aku bahkan tak sadar aku telah jatuh cinta padamu
aku tak memikirkan bahwa aku adalah bagianmu
hidupku kau bekali air susumu
darahmu mengalir dalam tubuhku

Rindu 3

Sore yang indah di ujung desa
Anak-anak bermain sepak bola seperti biasa
Penggembala mulai membawa pulang ternak mereka
Orang-orang bergegas untuk pulang
Tidak ada yang berubah
Dari sore-sore sebelumnya
Sama saja dari belasan tahun yang lalu
Kecuali perasaanku
Yang merindukan tempat pulang

Rindu 4

Aku tidak asing dengan pertemuan tadi malam
Perassan yang menyatu
Tertawa bersama, bercanda seperti biasa
Kita bertemu tanpa melewati ruang rindu yang jauh
Kita bercakap-cakap tanpa bertanya “apa kabar”
Begitu dekat

Aku merasa lega dengan kebersamaan semalam
Tiba-tiba saja bahagia
Setelah lelah dengan kesedihan yang panjang
Sepertinya yang hilang kembali datang

Ajaib sekali
Engkau datang dalam mimpi
Seakan dunia kita tak berjarak lagi
Setelah perpisahan kala itu
Aku dirajam rindu
Lalu kita bertemu
Melintas waktu

Rindu 5

Setiap jiwa layu oleh rindu
Daun jatuh meninggalkan dahan
Buah dipetik dari pohonnya
Musim datang dan pergi menghiburnya

Burung- burung pergi meninggalkan sarang
Menitipkan anak-anak mereka pada alam
Memberikan kehidupan  untuk menyambut perpisahan
Saling berpelukan saling melepaskan

Seorang ibu berpamit sebelum berpulang
Pada anak-anak yang lekat dengan rahimnya
Terisak tak kuasa saling berpisah
Namun memang kehdupan akan mekar berbunga
Lalu layu oleh rindu

Ibu
Rumah,
Tempat berteduh, tempat bertumbuh
Tempat sembuh
Tapi rupanya bukan rumah
Ketika ibu berpulang aku hilang
Cintalah yang meneduhkan, yang menumbuhkan
Kasihlah yang menyembuhkan

Esti Budi Utami
Latest posts by Esti Budi Utami (see all)