Romansa Sunyi

Romansa Sunyi
©Pexels

/1/

Minggu pagi kami menyusuri lorong biara. Kiri kanan lorong tumbuh berbagai kembang mekar indah. Dari berbagai warna, kami hanya mencintai satu warna, yaitu merahnya mekar kaktus nan elok. Menyaksikan itu, sunyi memelukku dan aku menciumnya. Lalu kata mengurai, “Di bibir kaktus itu masih basah kembang-kembang gaib.”

Kalimat itu terus menghantuiku. Bermain-main di kepalaku. Sesekali menyentuh jiwaku. Aku masuk kamar menempati kursi dan menulis sebuah puisi.

Drama

menulis dari babak-babak bebatuan
sebuah taman gurun
dengan pena pesona
mengeja kata:
di bibir kaktus itu masih basah kembang-kembang gaib

Coretan ini aku serahkan kepada seorang sahabat untuk dikirim ke media. Ternyata puisiku dimuat di media lokal di Flores (Flores Pos). Aku bangga sekali. Jiwaku mekar mawar. Sunyi mulai sering memekukku dan bahkan mengajakku bercinta.

/2/

Jumat pagi.

Setelah bertemu Tuhan aku ke kamar makan. Sebelum masuk aku bersantai sejenak di emperan sekadar memandang bias mentari yang menyisir dedaunan dan bibir atap. Tiba-tiba dari depan muncul seorang cewek yang manja. Lumayan cantik. Langkahnya pelan dan pasti. Ia sopan sekali. Aku memandangnya, mengaguminya. Ia tersenyum padaku dan aku langsung tunduk.

Entah kenapa dadaku seperti dihantam ombak pantai selatan. Aku kikuk. Lalu tanpa menyapanya aku langsung masuk kamar makan membawa serta perasaan yang tak menentu. Senyum itu menggangguku. Aku duduk bersebelahan dengan kekasih. Ia berbisik, I love you. Bisik mesra itu memeluk erat ruas-ruas jemari hingga terciptanya tarian pena. Aku menulis puisi.

Senyum

pada suatu pagi, di bibirmu
aku pernah singgah
kita berbagi senyum
dan hatiku tak tentram ketika langkahmu jauh dari mataku.

Aku menulisnya di kamar makan lalu kuserahkan kepada sunyi untuk dibacanya. Ternyata ia memujiku sambil berkata, ”Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi birahi/supaya sepi tertunas kembali.” Ia tidak cemburu tetapi malah menginspirasiku dengan sajak Jokpin, Sudah Saatnya.

Suatu sore aku putuskan menemui pemilik senyum itu. Kami berjumpa di jalan umum. Perkenalan.

“Namaku Caroline,” katanya ramah.

“Aku, kekasih sunyi,” balasku malu-malu.

Aku mengungkapkan semua sampai akhirnya aku membacakan sajak itu untuknya.

“Senyum adalah tanda persahabatan,” katanya sambil memukul pundakku.

Lalu kami berpisah. Ia telah jauh dan tiba-tiba hp bergetar. Pesan singkat dari kekasih. ”Bila tak ada kata untuk di katakan lagi/sedikit senyum akan jadi bulan dan matahari.” Ia sering mengutip puisi penyair besar. Itu Pertemuan milik Leon Agusta, penyair yang meninggal pada 10 Desember 2015 dalam usia 77 tahun.

/3/

Tengah malam aku terjaga. Kantong kemiku memberontak. Aku ke belakang. Ketika kembali kekasih menitipkan suara embun jatuh. Aku menikmatinya. Sebelum tidur kembali aku menulis puisi.

Embun yang Berdetak

berjalan tengah malam di emperan biara
mata atap mengatup lalu jatuh
aku dengar ia berdetak pada dahan
serasa Tuhan memanggil, memeluk lalu dingin.
Aku bahagia sekali telah menulisnya. Kemudian aku lelap di antara rimbun sajak.

/4/

Menjelang subuh aku bangun. Kali ini bukan urusan belakang. Ini tentang merdunya kematian. Nyanyian ambulance menyentuh relung-relung terjauh. Kekasihku terjaga. Ia menegurku, ”Ingat, jangan biarkan penamu kesepian.”

Aku bangun dan menulis puisi.

Sirene

dari kamar sempit, sepi dan puitis
kudengar dering senja
merdunya kematian
sendu sepanjang jalan.
Aku bangga pada perhatian kekasihku.

/5/

Aku bangun lebih awal. Lonceng gereja sudah menegurku. Tetapi gemanya terus membalut jiwaku. Aku harus mengunjungi Tuhan. Aku meninggalkan sebuah puisi buat kekasih.

Doa Pagi

Tuhan di pagi nan dingin
kurindu begitu ingin
kita sedingin
kecaplah dinginku.

/6/

Sabtu 25 Februari 2017.

Setelah bercanda dengan kekasih aku menuju ruang baca. Pasti menarik berita Pos Kupang hari ini. Di halaman depan terpancang foto seorang tokoh yang sangat kukagumi. Beliau turut berperan memperkuat, memperindah dan membangkitan daya estetis dalam diriku, khususnya dalam hidup bersama kekasihku sunyi.

Potretnya mengagumkan. Wajahnya senja jingga. Kacamatanya pelangi yang menghiasi kaki langit. Kemejanya buih laut Rote. Hatiku berlabuh tenang. Aku mulai membacanya. Aduh, nyatanya duka dikabarkan. Akun menyesal tiada batas perih. Sastrawanku telah pergi. Dengan hati gusar aku meninggalkan ruang baca. Aku mengabarkan kepada sunyi dan ia hanya berkata, dukanya abadi. Aku berduka cita dan cara terbaik supaya terhibur aku menulis sebuah puisi untuk tokohku, sastrawan kita.

Momen Kunci1

(in memoriam sastrawan Gerson Poyk)
Mutiara di tengah sawah2 kemilau kata
Telah dikau kalungkan di leher sunyi savana
Membias binar pijak awal aksara bergegas
Wangi cendana membahana sepanjang juangmu

Dikau pahlawan kata mentari dari timur
Terbit jauh menembus jendela tanah abang
Mengemas serta senja Flobamora yang indah,
Dan katamu takkan terbenam, kekal menghijau
Momen kunci menambah hitam tintah, rimbun rindang sunyi
Kata kami berjatuhan bagai rintik desember

Dikau pahlawan kata pulang pada jumat elegi
Air mata kata berdering, rintik sajak menetes
Kehilangan adalah kedip duka mata hati, luruh
Segumam doa, “Abba, ya Bapa, terimalah hamba-Mu,
Jurutulis yang mengabarkan kasih-Mu kepada dunia.”

1Saya pilih judul ini karena terinspirasi oleh tulisan kisah proses kreatif beliau sendiri yang berjudul Dari Momen Kunci Ke Momen Kunci.

2Karya sastra pertamanya cerpen yang dimuat majalah sastra (Nomor 6,Tahun 1, Oktober 1961) dan mendapat hadiah dari majalah tersebut sebagai cerpen terbaik tahun 1961.

    Edy Soge
    Latest posts by Edy Soge (see all)