Romantika dalam Catatan Argumentasi Dimensi

Romantika dalam Catatan Argumentasi Dimensi
©Tumblr

Seni Membangun Emosional Manusia

Kita berangkat pada perdebatan yang lahir dari melankolis dialog dini hari, berada pada ruang-ruang dimensi imajinasi. Tulisan ini saya tidak tujukan kepada mereka yang sedang jatuh cinta, sebab mereka yang lebih paham tentang dinamika cinta. Tetapi lebih kepada mereka yang ingin mencoba untuk jatuh cinta.

Manusia tidak terlepas dari hasrat ingin memiliki. Walaupun Rocky Gerung pernah bergurau tentang cinta, tetapi sejatinya itu adalah penjelasan yang paling rasional dalam mendefinisikan tentang kebebasan dari jeratan ikatan romantika.

Sendiri adalah kondisi ontologis yang ditafsirkan secara sosiologis yang kemudian diinterprestasikan bermacam-macam oleh publik. Saya percaya kita semua tidak membutuhkan penjelasan rasional ini sebagai penguatan, tetapi saya ingin mengajak kepada Anda bertukar pikiran bahwa berorganisasi dan membangun hubungan persahabatan dengan orang lain juga membutuhkan    ikatan cinta.

Sama hal tentang dua insan yang sedang dilanda asmara, bahwa hidup dan turunannya ternyata sangat ketergantungan akan cinta. Saya melihat manusia memengaruhi manusia lainnya menggunakan senjata paling ampuh, yaitu cinta.

Yang saya pahami tentang cinta adalah cinta tidak selamanya tentang titik. Cinta bisa berupa koma, tanda tanya, ataupun tanda  seru. Yang harus manusia sadari, cinta adalah ejaan dasar yang harus diketahui atau dipahami oleh setiap manusia.

Lantas pertanyaannya: apa hal tersulit untuk manusia realisasikan dalam mengimplementasikan  tentang cinta?

Ternyata hal tersulit itu adalah berusaha untuk menemukan cara bagaimana mencintai seseorang tanpa kata-kata. Walaupun pada dasarnya mencintai dan dicintai adalah dua kata tersulit dalam membedakan perasaan.

Selanjutnya tentang subjek, pengharapan, dan tujuan. Sedari awal tetapi tetap dilakukan oleh si ceroboh (manusia) adalah mencintai dan berharap pada manusia. Kita tidak sadar bahwa mencintai manusia adalah seni paling sederhana untuk terluka.

Baca juga:

Pesan terakhir bagi kita semua, teman, sahabat, bestie, ayang, atau apa pun redaksi kata yang paling nyaman untuk digunakan. Mencintai tidak cukup dengan tidak melukai yang dicintai, tetapi juga harus sabar     saat dilukai yang dicintai.

Disclaimer tapi di akhir, ini bukan keresahan hati si penulis.

    Febrianto Arifin
    Latest posts by Febrianto Arifin (see all)