Rongga Komunis

Rongga Komunis
©Augustine Collective

Runtuhnya komunisme meninggalkan rongga ideologis.

Bersama Pippa Norris, Ronald Inglehart meneliti 49 negara yang mewakili 60 persen populasi dunia. Mereka menemukan bahwa dari tahun 1981 sampai 2007 terjadi peningkatan agama di 33 dari 49 negara yang diteliti.

Pertanyaan yang diajukan pada warga dalam penelitian itu adalah “seberapa penting Tuhan dalam kehidupan Anda?”

Penelitian ini dilanjutkan oleh Inglehart, Religion’s Sudden Decline (2021). Dia menemukan bahwa kebangkitan agama itu rupanya berhenti dan sekarang malah cenderung menurun. Dari 2007 sampai 2019, religiositas warga di 42 negara mengalami penurunan, hanya 6 negara yang mengalami peningkatan, dan satu negara tidak mengalami perubahan berarti.

Yang menarik adalah bahwa ketika religiositas di hampir semua wilayah dunia mengalami kemunduran atau setidaknya tidak mengalami perkembangan, justru negara-negara bekas komunis sedang mengalami euforia beragama. Pada 2007, 13 dari 32 negara-negara eks-komunis mengalami peningkatan religiositas. Sementara pada penelitian 2019, 12 dari 16 negara eks-komunis itu masih mengalami peningkatan agama.

Apa yang terjadi? Inglehart, dan Pippa Norris di buku Sacred and Secular, umumnya melihat pertumbuhan religiositas itu terkait dengan security warga. Makin aman warga, terutama secara ekonomi, maka akan makin berkurang kebutuhannya pada agama.

Tapi pada kasus negara-negara eks-komunis, Inglehart menambahkan penjelasan lain. Runtuhnya komunisme meninggalkan rongga ideologis. Rongga itu kemudian diisi oleh agama.

Lalu apakah itu artinya komunisme dan agama memiliki kedekatan ideologis sehingga dengan mudah bisa bertukar tempat di rongga dada?

Baca juga:
Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)