Saat Fakta Mulai Berkelindan dengan Kebenaran

Saat Fakta Mulai Berkelindan dengan Kebenaran
©Djawanews

Awalnya dari buntut penolakan warga Desa Wadas terhadap lokasi penambangan batu andesit untuk membangun Bendungan Bener Purworejo. Apa dan bagaimana urutan kronologis dari peristiwa konflik, penulis tidak bermaksud untuk menguraikannya. Di sini, lebih ke soal fakta, tanpa penulis paksakan sebagai sesuatu yang masuk akal atau penulis giring menjadi dasar pembenaran atas peristiwa.

Siapa yang benar dan salah adalah soal sudut pandang. Biarpun rumitnya titik permasalahan Wadas, topik lawas tentangnya tidak terhindarkan, karena fakta di lapangan akan tersingkap.

Penting pula kita pahami bahwa terdapat perbedaan sudut pandang merupakan hal yang lumrah. Karena makin banyak fakta, maka makin luas dan dalam sudut pandang tentang peristiwa Wadas.

Sudut pandang yang berbeda mengenai kasus Wadas tidak berarti pemikiran a priori sosial atau kemungkinan metode penalaran rasional, dan model logical fallacy atau kekeliruan logika berpikir sirna di hadapan fakta.

Sejauh ini, pihak berkepentingan yang berupaya mencari fakta akan menjadi bahan atau titik tolak untuk menggambarkan, menganalisis, menilai, dan mengevaluasi perkembangan konflik Wadas. Banyak fakta yang tidak utuh, berarti lebih dekat pada cuilan dan kepingan fakta. Cuilan dan kepingan fakta bertumpuk tidak bisa jadi jalan pemecahan permasalahan Wadas.

Sebelumnya itu, ada baiknya kita mengajukan pertanyaan, paling tidak terdapat dua pertanyaan: Apa itu fakta? Apa itu kebenaran dalam kaitannya dengan kasus Wadas?

Bagi orang-orang atau mahasiswa yang pernah mengikuti kuliah-kuliah tentang pemikiran a priori, berpikir secara rasional, dan kekeliruan logika berpikir tampaknya cukup membantu untuk melihat mana fakta dan mana bukan fakta, yang terhubung dengan kasus Wadas.

Apa itu Fakta?

Sambil menunggu hasil kerja Tim Independen Pencari Fakta kasus Wadas (jika sudah terbentuk), perlu berkolaborasi dan bersinergi dengan tim pencari fakta lain. Bukan apa-apa, karena ada legislator Senayan telah membentuk tim kecil pencari fakta dalam kasus yang sama. Belum lagi tim pencari fakta dari LBH Yogyakarta, tim YLBHI, tim Komnas HAM, hingga cek fakta atau semacam tim pencari fakta dari media online.

Fakta kasus Wadas masih tetap tidak berubah atau permanen, tetapi rawan dengan pembalikan fakta di lapangan.

Pihak kontra menyebutkan bahwa telah terjadi tindakan kekerasan dari aparat adalah fakta. Sebaliknya, pihak pro mengatakan telah terjadi provokasi saat pengukuran lahan tambang.

Keduanya memasuki wilayah black or white sebagai salah satu fallacy. Pro dan kontra muncul karena berada dalam tarikan benar dan salah tentang kasus Wadas. Jika bukan X yang benar, maka Y yang benar. Logika berpikir keliru seperti ini sering beradu dalam situasi runyam, seperti yang warga Desa Wadas alami.

Marilah kita mengecek fakta! Meski tidak ada definisi baku dan final tentang apa itu fakta, kita mencoba sedikit lebih ringan pembicaraannya.

Dikutip dari id.strephonsays.com, informasi yang dikumpulkan disebut fakta. Ini sesuatu yang tidak bersifat universal atau lebih bersifat objektif. Seperti cermin memantulkan bayangan persis sama dengan gambar atau sosok yang berdiri di hadapannya.

Menurut kuasa hukum warga Desa Wadas, Julian Duwi Prasetia dari LBH Yogyakarta, data warga yang menolak pembebasan lahan sekitar 80 persen. Meski bukan murni data statistik, hal ini menunjukkan fakta berkaitan dengan data. (Kompas, 2022/02/10)

Sekurang-kurangnya ada enam fakta kasus Wadas. Terbagi dari lima yang dikutip oleh Viva dan satu dari hasil temuan Komisi III DPR RI, yang dikutip oleh VOI.

Berikut pemberitaan mengenai lima fakta yang dikutip oleh Viva (09/02/2022) ketika terjadi pengepungan warga Desa Wadas.

Halaman selanjutnya >>>
    Ermansyah R. Hindi