Sajak-sajak Gondwana-Laurasia

Sajak-sajak Gondwana-Laurasia
©Pinterest

Eradikala

Putaran terkekeh tertawa pelit
Lupa terbahak karena malunya
Putaran mau berbagi hidup merata
Berusaha jaga kesetimbangan hidup-mati
Membentuk daya hidup semesta

Sekejap saja daya hidup meletup
Mengisi koloni takdir yang berjajar
Ruh-ruh bersalin dengan jasadnya
Padas mencercap cecair
Api bergolak jalang di kepundannya

Tak sempat bertanya ini kenapa terjadi
Begitu cepat gegap gempitanya
Suara yang tak mendapatkan rambatannya
Begitu senyap, hanya daya hidup berkuasa
Begitu banyak namanya

Kehendak mengantre untuk bebas
Bersiap pecutkan amal atau dosa
Tak ada yang menghalangi
Berayun lepas membangun nafsu
Daya hidup membekali semua

Hampir semua berputar saja
Yang terlihat lurus sebenarnya berpilin
Memadat hingga lurus merambat
Melurus hingga berputar lagi
Mencukupi kosong yang lompong

Palpaka

Isi yang selalu berkulit
Tunas yang selalu berkuncup
Bakal yang selalu bercangkang
Jiwa yang selalu berjasad
Awal yang selalu berakhir
Kembara yang selalu berpulang

Kenapa ragu selalu dipertanyakan
Kenapa seru selalu dipekikkan
Kenapa sedih selalu diharubirukan
Kenapa riang selalu digempitakan
Kenapa berputar selalu didesingkan
Kenapa? Wahai hamba daya hidup!

Sederhana saja, kenapa rumit berbelit
Tak perlu mendongak tantang desingan
Apa pun itu namanya, tiada kekal
Karena daya hidup sudah bersumpah
Akan begitu-begitu saja
Tak perlu berteriak wahai hamba
Lantangmu juga kumpulan desing dan desir

Pangea yang terpisah dari benua super
Melahirkan gondwana dan laurasia
Masih saja memaksa lebih
Tentang kisah yang lebih proto
Itulah rodinia, berputar miliaran tahun yang lalu
Benar berputar, kan?

Nordika

Yang lembut berjumput hingga keriput
Rasa yang mewah sementara saja
Sudah berputar, kan?
Kini rasa getir akan melintir juga
Melintir itu berputar kecil-kecil
Rapi seperti kuncir yang tak pandir
Sudah berputar, kan?

Kenapa masih tanya saja?
Melihatlah dengan sepenuh bulat mata
Berpikir tanpa kikir
Berperasaan tanpa perasan
Bertindak tanpa bergendak
Putuskan hingga rebus
Karena semua adalah putaran
Berputar saja, terus!

Kecipuk cipratkan bulatan
Membening pada garis tengahnya
Lalu jatuh berputar, kembali menyatu
Tanya siapa itu?
Bulatan yang pernah disinggahi
Bulatan yang berdesing
Jika tidak, hamba akan membosan
Lupa itu dari tetesan

Jumjumdala

Hamba suci dilukis membulat cahaya di kepalanya
Seolah berpendar bagi yang tak melihatnya
Kasih tahu saja, rahim selalu membulat
Membungkus kepala janin bulat-bulat
Yang berputar masa kandungnya
Akan dihentakkan lubang bulat

Hadir, hingga afkir
Bercinta hingga mabuk
Mabuk yang berputar-putar
Benarkan? Itu adalah putaran
Walau hamba paksa menyodok
Yang di dalam itu berkedut memutar
Karena ia otot melingkar yang bertengkar

Cinta memutari benci, kepung kerinduannya
Benci berbahan bakar cinta, soal waktu saja
Tak sadar matanya masih membulat
Melihat dengan apa?

Korakara

Embusan kehendak tampilkan lagak
Tak pernah kotak, membulat berkeputusan
Kanak-kanak melingkari tetuanya
Berbakti walau hanya sebulat biji zarah
Arung dunia ikuti daya hidup
Ingatkan tentang bulat fajar setelah semburat
Karat sekarat menua di akhirnya

Hamba suci memutar tasbih
Itu juga rangkaian desing
Hamba suci memutar rosario
Itu juga rangkaian desing
Begitu membulat
Membuat awalan dan akhiran
Setuju terhadap bulatan
Bermufakat bulat
Berhajat cepat

Hamba bejat memutar angkara
Itu juga akan berputar
Meniti desir nafsunya
Hingga tersadar hati
Hamba bejat teruji cinta
Kuasanya perang dan darah
Sadar itu adalah tumpukan keranda

    Yudho Sasongko
    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)