Sakit Klientalisme dan Tugas Kita

Sakit Klientalisme dan Tugas Kita
©studylib

Nalar Warga – Orang ini baru keluar dari penjara, langsung “berkhotbah” seperti ini (lihat videonya di akhir tulisan). Celakanya, semua seperti mengiyakannya. Ada pola klientalisme yang diritualkan.

Berabad-abad yang lalu, pada masa pemerintahan Cicero (106-43 SM), kelompok aristokrat Romawi Kuno yang disebut sebagai patronus memiliki para pengikut setia yang disebut clientela. Para clientela ini mewakilkan suaranya secara politis kepada patronus.

Relasi antara keduanya menciptakan istilah “klientalisme”, dari kata cluere yang bermakna mendengarkan/mematuhi (Muno, 1996). Politik berpola klientalisme ini merupakan hal yang lumrah di masa itu.

Smith (1875) dalam A Dictionary of Greek and Roman Antiquities menegaskan bahwa klientalisme juga dilekatkan pada hubungan antara seorang majikan dengan budaknya yang telah dibebaskan (libertus), di mana libertus adalah klien dari patronus-nya. Setiap warga negara Romawi yang melekatkan dirinya pada pelindung akan menjadi seorang cliens.

Dalam politik modern, klientalisme dipahami sebagai sebuah relasi kuasa antara patron dan klien yang bersifat timbal balik (resiprokal), pribadi (personal), berjenjang (hierarkis), dan selalu berulang-ulang (iterasi). Perulangan inilah yang dimaknai sebagai ritual, yang makin kuat bila digabungkan dengan budaya untuk meneladani ketokohan seseorang.

Sifat perulangan menyebabkan klientalisme makin berakar dan bahkan menjadi bagian dari personalitas manusia. Dengan kata lain, klientalisme menjadi bagian utuh dari kepribadian manusia.

Sebagai bagian utuh dari kepribadian manusia, klientalisme berhasil menciptakan pribadi-pribadi yang mudah digerakkan oleh seorang patronus, dan sekaligus menyatakan bahwa patronus selalu benar!

Fakta dalam video di atas, yang berhasil menyatukan para pengikutnya, menunjukkan bahwa kesadaran seseorang bisa saja hilang oleh karena klientalisme. Rasio manusia bisa saja menjadi tak berguna di hadapan sabda patronus.

Hilangnya kesadaran dan tunduknya pribadi pada patronus merupakan bentuk dari bangkitnya klientalisme. Orang-orang seolah-olah merindukan keteladanan secara membabi buta, tanpa peduli sisi negatif dari patronus.

Perilaku semacam itu seolah-olah mengarah pada “perbudakan baru”, yang memanfaatkan berbagai modalitas kuasa, misalnya karisma (charisma), pengetahuan (knowledge), otoritas (authority), ekonomi (economics), dan agama (religion).

Apakah orang dalam video di atas punya karisma, pengetahuan, dan lain-lain? Mungkin “turunan nabi” yang dijadikan tameng (saya tak yakin!). Yang dibawanya ialah kekerasan, yang bila mengikuti pemikiran Herakleitos, menyatu secara sama dengan pengikutnya.

“Perbudakan baru” oleh klientalisme itu berhasil menciptakan mobile vulgus, yaitu suatu kumpulan orang yang mudah digerakkan. Dalam percaturan politik, penciptaan mobile vulgus mencederai sifat partisipatif yang dilakukan secara sadar.

Dalam konteks “perbudakan baru”, kerumunan massa yang tak sadar akan kesadaran rasionya sendiri justru akan menghancurkan peradaban. Kurt Pawlik (1998) menjelaskan makna kesadaran dari aspek fenomenologis, dalam pengertian kesadaran-diri (self-awareness dan self-consciousness).

Terciptanya mobile vulgus secara langsung membunuh self-awareness dan self-consciousness dan menghadirkan kesadaran klientalisme, yaitu kesadaran karena hadirnya modalitas-modalitas kuasa di atas. Pada poin ini, klientalisme menyuburkan “een binnenlandse mentaliteit, een gekoloniseerde mentaliteit”, atau mentalitas inlander, mentalitas terjajah yang merasa bahwa budayanya lebih rendah daripada budaya penjajah.

Tugas kita, sebagaimana Pak Presiden, ialah menjadikan Indonesia sebagai Indonesia, berpijak pada budaya sendiri, pada kekuatan sendiri, sementara yang lain adalah penyokong. Hanya mereka yang terbius oleh budaya kekerasan dari perusak bangsalah yang bermental inlander.

We are the majority, tapi kita terlalu sering diam. Sudah saatnya kita melawan dengan cara mereka yang ingin merusak NKRI. Mereka yang hanya noisy minority, yang mencoba mengubah keindahan keberagaman Indonesia, menjadi sebuah uniformitas jahat.

Jadi, LAWAN!

[tonton videonya di sini]

*Petrikor Caraphernelia

    Warganet