Sakramen Rekonsiliasi: Jalan Menuju Perdamaian Papua

Sakramen Rekonsiliasi: Jalan Menuju Perdamaian Papua
©Nokenlive

Sakramen Rekonsiliasi: Jalan Menuju Perdamaian Papua

Dalam buku TRAGEDI KEMANUSIAAN: Kejatuhan, Perabadan Jahat, dan Penderitaan Manusia yang ditulis oleh Surip Stanislaus, OFMCap, seorang imam dan pengajar Kitab Suci di STFT St. Yohanes Pmatangsiantar pada 2008 dijelasan bahwa sejatinya sejarah manusia dalam kitab suci itu adalah pengalaman ketajuhan manusia dan kemurahan hati Allah.

Bahwa siklus kisah peradaban iman yang dijelaskan dalam kitab suci itu adalah bahwa manusia jatuh dalam dosa. Allah mengampuni dan dibuat suatu perjanjian, namun manusia jatuh lagi ke dalam dosa, kemudian Allah mengampuninya, dibuat lagi perjanjian, manusia lalai, buat dosa lagi. Siklus ini yang senantiasa terulang-ulang mulai dari manusia pertama Adam dan Hawa di taman Eden sampai pada jaman kita, manusia-manusia jaman kini, (Stanislaus, 2008; 7-8.).

Sehinga satu hal penting yang mesti diperhatikan di sini adalah ihwal kesetiaan manusia terhadap perjanjian-perjanjian-perjanjian perdamaian yang sudah dibuat dan disepakati bersama. Singkatnya, sejarah keselamatan yang diwartakan dalam kitab suci itu hemat Stanis Surip adalah sebuah sejarah rekonsiliasi.

Dalam tulisan singkat ini, penulis hendak merefleksikan bagaimana cara Allah menyelsaikan masalah-masalah di dunia dan menyelematkan dunia itu dengan jalan Rekonsiliasi dalam fakta-fakta beberapa sejarah di dunia, terutama di atas tanah Papua. Untuk pertama-tama perlu kita pahami dulu, apa itu rekonsiliasi?

Memahami Sakramen Rekonsiliasi

Sakramen Rekonsiliasi secara populer dikenal dengan sakramen tobat atau peyembuhan, pemulihan, pegankuan dan perdamaian. Ketika seseorang merasa sudah sangat berdosa, ia perlu untuk kembali ke hadapan Allah melalui imam untuk mengakui setiap salah dan dosanya itu dengan menerima sakramen tobat, hanya dengan cara atau jalan rekonsiliasi inilah maka ia mampu mengalami rahmat Allah, jalan ini juga disebuat sebagai jalan metanoia atau suatu perubahan pikiran. Secara etimologis Sakramen Rekonsiliasi terdiri dari dua subkata, yakni Sakramen dan Rekonsiliasi:

Pertama, Secara Etimologis Sakramen teridiri dari subkata dalam bahasa Latin, yakni Sacramentum. Kata Sacramentum ini dipakai pada abad ke II untuk menerjemahkan kata Mysterion dalam bahasa Yunani dalam kitab Suci. Sacramentum berarti “Sumpah” atau “Janji Militer”. Jika tilik maka tidak ada sama sekali arti atau makna teologis atau liturgis-sakramentologis di sana. Namun jika ditilik dari inspirasi asal katanya, yakni Mysterium (bhs. Yunani) yang berarti “Rahasia”, “Terselubung”.

Dalam pandangan Kitab Suci Perjanjian Lama, kata Mysterium ini dipakai oleh penulis Suci untuk menjelaskan “Wahyu Allah”. Jadi, Sacramentum dan atau Mysterium itu secara Biblis, khususnya dalam sejarah keselamatan Allah berarti “Simbol Wahyu Allah” atau “Tanda Keselamatan”. Dalam perkembangan waktu, tepatnya pada abad XII terjadi perubahan makna Sakramen, yakni Tanda yang menghadirkan maknya yang tak kelihatan, unsur manusiawi yang menampilkan unsur surgawi.

Sakramen tidak lagi dipahami dalam konteks karya keselamatan, melainkan dalam konteks liturgis sebagaimana yang kita pahami saat ini melalui dan dalam 7 Sakramen. Ketujuh Sakramen ditetapkan dalam konsili Lyon 1274, Konsili Florenzo 1439, dan Konsili Trente 1547, (Martasudjita, 2011;  200).

Baca juga:

Kedua, Rekonsiliasi, kata rekonsiliasi ini berasal dari bahasa latin, yakni  reconciliare dalam bentuk kata kerja, dan dalam bentuk kata bendanya yakni reconliatio, yang berarti pendamaian, pemulihan dan pegampunan. Gereja Kristen, terutama Gereja Katolik mengadopsi kata ini dalam sakaramen tobat yang sering juga dikenal dengan nama sakramen rekonsiliasi.

Kurang demikian arti harafiah dari kata Sakramen dan Rekonsiliasi. Jika kita simpulkan maka sakramen rekonsiliasi itu sebenarnya adalah tanda kehadiran Allah yang maharahim, Allah yang penuh kasih, Allah yang mengampuni, Allah yang mendamaian dan menyelamatkan manusia dari maut dan dosa, (Diester, 2004; 396).

Membangun Kesadaran Rekonsiliatif di Dalam Gereja

Kita sudah melihat bahwa sakramen rekonsiliasi itu adalah bukti nyata bahwa Allah itu penuh kehariman dan cinta kasih, Ia tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya yang penuh dosa, jahat dan lain sebagainya, justru sebaliknya Tangan-Nya selalu terbuka menyambut anak-anak-Nya yang hilang itu, (Bdk. Luk. 15:11-32).

Berikut hendak kami kemukakan pentingnya memumbuhkan kesadaran rekonsiliatif dalam diri warga umat Gereja sebagai wajah-wajah penuh Yesus Kristus yang penuh kasih, cinta damai dan murah hati. Sebab untuk membudayakan nilai-nilai iman yang terkandung dalam ajaran-ajaran Gereja itu mesti pertama-tama dimulai dari kecapakan untuk “bertrasendensi diri” dalam luapan belas kasih dan kemurahan Allah, dan ini mesti lahir dari sebuah kesadaran “trasendensi diri” yang otonom dan integral, (Saur, 2023; Vii-viii).

Pertama, kita mesti memastikan bahwa taraf kesadaran warga jemaat kita sudah sampai pada titik holistik-kosmik sebagaimana yang dibabak oleh seorang “filsuf pucuk” dari Indonesia bernama Reza Alexander Antonius Wattimena dalam bukunya yang berjudul, Teori Transformasi Kesadaran (2023). Di beliau membabak transformasi kesadaran manusia mulai dari tahap yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Teori ini adalah hasil pergulatannya dengan dunia filsafat barat, timur dan neorosains selama kurang lebih 25 tahun. Lima tahap itu di antaranya adalah; Distingsi-Dualistis (paling rendah), Immersif (kesadaran murni), Holistik-Kosmik (kesadaran yang luas), Meditatif (kesadara  yang tenang) dan Kekosongan (kesadaran yang paling tinggi, manusia tercerahkan dan terbebaskan), (Wattimena, 2023; 12-22).

Kedua, untuk melatih transformasi kesadaran maka warga jemaat sudah mesti membudayakan seni refleksi, intropeksi, meditasi dan kontemplasi atas refleksi-refleksi dan afeksi-afeksi imannya. Ia mesti menkontemplasikan kitab suci yang ia baca, memeditasikan nilai-nilai iman yan terkadung dalam kitab suci, magisterium Gereja, tradisi suci, dan kesaksian hidup tokoh-tokoh suci. Dengan jalan seperti ini maka semakin hari akan terjadi metanoia yang pelan namun pasti dalam tataran kesadaran warga jemaat yang melakukannya.

Ketiga, buah dari kesadaran yang sudah mencapai tingkat kematangan adalah tidak kita jumpai lagi perpecahan, permusuhan, diskriminasi, marjinalisasi, dualisme subjek-objek, mayor-minor, superior-inferior dan lain sebagainya, sebaliknya yang ada adalah nuansa keadilan, kesetaraan, dan perdamaian. Persukutuan umat terjalin harmoni dan damai, cinta kasih, sikap saling memaafkan, dan damai tidak lagi menjadi hanya kata-kata belaka tetapi sudah menjadi kebiaasaan (habitus) dan keadaan (habitat) yang riil dalam kehidupan menggereja.

Halaman selanjutnya >>>
Siorus Degei
Latest posts by Siorus Degei (see all)