Sandiwara Kata

Sandiwara Kata
©Spotify

Barisan abjad di depan mataku ini
Mengandung aroma campuran
Ada manis, pedas, asin, dan gurih
Namun dikemas menjadi satu alinea

Orang-orang berbondong memadati pusat kota
Menuju arah sebuah toko buku
Berlomba mendapatkan buku aneka aroma
Namun, sesampainya di sana tak ada satu pun selembar kertas
Yang ada hanyalah barisan orang berbalut baju plastik putih dan senjata cair

Mereka meminta buku-buku itu dibakar
Kalau tidak, semprotan kata-kata pedas akan diarahkan kepada mereka
Salah satu di antara mereka enggan memberi
Hingga muncullah tragedi memanas
Pertarungan berdarah antara kata dan luka

Pada Jemari yang Menulis Puisi

Pada jemari yang menulis puisi,
Ketabahan menghuni, berdiam dalam diri yang sepi.
Kelak, puisi akan melangkahkan kakinya sendiri.
Mengarungi rasa samar dan gelapnya sendiri
Mungkin, pada jeda atau tanda baca yang entah di bab.

Dan paragraf yang kesekian; ada ingatan
Ingatan yang harus ditanggalkan.
Kenangan yang terlalu membuat kaki dan punggung berat berjalan.
Kenangan yang terlalu menyamarkan jalan yang belum usai diterjemahkan lisan.
Bukan lagi disela-sela jemari yang semakin keriput ini.

Pada jemari yang menulis puisi,
Ada lebam sepi yang meruyak.
Ada luka pasi yang menghuni.
Mungkin, takdir memilih aku.
Atau aku yang memilih takdir ini

Menjaga setiap tubuh yang akan tumbuh.
Melepas ragu dan cemas pilu
Pada segala yang pernah aku cintai dengan penuh.
Semesta telah memilih segala yang tanak untuk berbiak.
Semesta telah memilih jemari yang menulis puisi untuk mengabdi.

Ya, maka jangan kau tolehkan kepalamu kebelakang, puisi
Biarkan aku, jemari tua ini, terus menari, terus mencari
Biji-biji aksara yang siap kurahimkan dalam jemari ini.
Pada jemari yang menulis puisi,
Yang tak pernah mengingkari rindunya sendiri.

Apa-apa yang telah pergi, mungkin akan kembali
Mungkin tak ada lagi sua, jabat tangan dan pelukan terakhir kali
Kalaupun kau mengetuk pintu jemariku lagi
Jangan saat matahari sedang tergelincir di barat
Aku tak ingin rinduku disamarkan cuaca

Aku tak ingin rinduku lupa, walau sekilas, bagaimana menyambut
Kekasih kecilnya yang pulang, walau sebentar.
Rinduku, jemari yang menulis puisi,
Adalah kekalnya biji-biji aksara yang akan terus berdenyar
Dalam panjang terjal aksara, dalam kelu lisan yang belajar mengeja

Sabda Malam di Kedai Tua

Telah ku susun rapi kertas tertulis namamu
Dari bait hingga rubrik prahara pilu
Takkan lagi bisa ku bercenduai
Terkait malamku menunggu pagimu

Terlepas dari mata, senyum dan mimpimu
Engkau masih harum gadis cengeh
Suratkan lah tentangmu bersama angin
Walaupun tak terjamahku

Untukku teramat membisu
Ragamu hadir dipejaman mataku
Takkenal damai memaksa dan gaduh
Di hatiku

Masih Ada Waktu

Raut sembilu wajah yang lugu.
Entah karena tak tahu.
Atau mungkin tak perlu tahu.
Dengan hangatnya dunia yang fana ini.

Membakar dan membeku segenap hati.
Mungkin hanya untuk ingin tahu.
Tapi harus mati dan sia-sia belaka.
Dunia ini sarang cinta dan benci.

Yang berubah seperti cuaca saja.
Berkata cinta,kelak menjadi caci maki.
O….Apakah ini mimpi belaka?
Sehingga semua orang berperang.

Bersilat lidah karena saling benci.
Padahal awalnya dari segenap cinta.
Hidup bagai misteri tertutup.
Dalam kitab kehidupan yang telah rusak.

Melapuk tertutup debu-debu kehidupan.
Malaikat mana yang mau membukanya.
Jika sedikit yang tertera namanya.
Sedihlah Sang Kalik membacanya.

Masih ada waktu untuk berubah.
Yang benci, segeralah berdamai.
Yang berhati jahat,sucikanlah diri.
Ini bukan ucapan suci serupa ayat-ayat.
Namun nasehat kecil untuk jadi besar

Senja di Mama Kota

Merah jingga hiasi cakrawala.
Lalu lalang burung camar.
Menari-nari dalam bingkai rindu.
Embusan angin dengan sepoinya.
Perlahan memutus dedaunan ditangkainya.

Jatuh berserakan penuhi tanah.
Jejer pepohonan memagari tepian.
Senja itu menjadi tanda.
Bahwa hidup tak selamanya indah.
Bait-bait puisi rindu.

Kulantunkan untuk memuja engkau.
Namun puisiku hampa dimakan sang hama.
Senja di kota itu…
Menyimpan sejuta kisah.
Tentang engkau dan aku yang tidak direstui oleh sang waktu.

    Latest posts by Lalik Kongkar (see all)