Sang Rantau Ulung

Sang Rantau Ulung
©Blog

Malam telah larut, suara kendaraan senyap. Kerlang-kerling lampu kota Sangatta yang melankoli pelan suram.

Di depan ruangan kotak-kotak berdinding kayu, Rusli masih terjaga, duduk bersila di atas kursi lesu. Sedikit pun tak ada tanda kantuk di rona wajahnya. Ia masih sibuk mengisap batang demi batang rokok lalu mengepul asapnya yang pelan lenyap di mulut udara. Dengan pandangan kosong, matanya menyorot rembulan yang berdesah pasrah dalam cengkeraman awan hitam membuat semburat keputih-putihan, beretak-retak gelap di atas mega.

“Ah, kurang ajar, mengapa ingatan itu datang?” selorohnya dalam hening.

Sekian jam sebelumnya, ia mendapati pesan kalau ternyata tunangannya di kampung telah melain. Namanya Misbah, perempuan yang ia ikat setelah menjalin hubungan selama delapan tahun, tepatnya sejak di bangku SMP. Misbah adalah cinta pertamanya, sekaligus ditambatkan menjadi cinta terakhir. Selain karena miskin, ia tidak melanjutkan kuliah, lalu mengais rupiah di tanah rantau untuk mahar nikah nanti.

Di kampungnya Ulumanda, tak ada kerjaan, kebun-kebun tak menghasilkan meski diolah dengan banting tulang. Sudah dua tahun ia meninggalkan kampung, mengitari kota Sangatta, berjalan dari perusahaan satu ke perusahaan lain, namun tak diterima karena alasan ijasah hanya sampai SMA. Akhirnya ia bekerja serabutan, jadi babu, tukang cuci piring, pakain hingga bergabung dengan tukang sedot WC. Ia tak pernah menolak pekerjaan apa pun, selama halal dan bisa menjadi uang.

Kenangan bersama Misbah masih membumbungi pikirannya, terutama saat awal bertemu. Di pantai itu, senyum manis dengan binar mata Misbah membuat keindahan senja lenyap olehnya. Semburat cahanya redup, oleh kecantikan Ilahi yang sedari tadi disorot oleh pasang mata Rusli.

Setelah berkali-kali mendesak agar cepat menikahinya, orang tua Misbah pun memilih anak pejabat itu untuk bersanding dengan anaknya. Meski demikian ia tak bisa berbuat banyak. Uang yang ia kumpulkan belum seberapa, mungkin hanya bisa membeli seekor sapi.

Bagaimana dengan Mahar 35 juta, serta cincin dan pakian lengkap dengan lemari? Membayangkan itu, Rusli tertunduk pilu. Batang demi batang rokok dibakarnya tanpa jeda.

Memang, di kampungnya, mahar teramat mahal. Bila murah, mereka akan merasa malu, sebab tinggi dan rendahnya mahar menentukan status sosial. Terlebih jika terlahir dari keturunan darah biru. Sebuah borok kebudayaan lama yang dipertahankan. Maka tak heran bila acap kali pasang remaja memilih jalan pintas dengan silupaang/silariang (kawin lari) karena alasan ekonomi. Bahkan pernah dikisahkan, di tengah gelap pekat, pasang kekasih saling menikam di sebuah pantai ujung perkampungan.

Kemiskinan dan ketertinggalan membuat mereka dicambuk nestapa tanpa henti, hingga ribuan warga Ulumanda memilih Sangatta sebagai tempat mengais rezeki. Di kota ini, beberapa dusun dipenuhi orang-orang Ulamanda. Bahkan bila di antaranya lihai berpolitik, maka dua kursi dalam gedung DPR siap menanti.

Dari KM 6 sampai 1, warga Ulamanda-lah yang paling banyak. Apalagi di Silvaduta, rumah-rumah merekalah yang memenuhi kampung itu. Mereka semua adalah buruh, tepatnya buruh kasar di pabrik-pabrik atau menjadi kuli bangunan di bawah gedung-gedung.

Demi bertahan hidup, dengan berat meninggalkan tanah, sejarah, tradisi, dan ajaran moyangnya. Andaikan di Sulawesi Barat kesejahtraan terpenuhi, mana mungkin mereka berjejal di tanah asing ini. Bahkan upah 500 ribu di kampung akan dipilih dari pada upah jutaan rupiah di tanah rantau. Tetapi, lagi-lagi, rupiah menyulitkan mereka. Utamanya ongkos pendidikan yang kian mahal dan harga kebutuhan kian melambung tinggi.

Rusliadi sendiri, selain mengumpul mahar, ia juga dibebani tanggung jawab memenuhi ongkos pendidikan adiknya. Karena tambahan beban itulah yang membuat mahar tak kunjung cukup. Cinta dan mimpi yang ia bangun dengan megah, hancur tanpa ampun. Upayanya yang keras sampai tergopoh-gopoh meninggalkan keluarga tercinta berbuah empedu. Pahit dan benar-benar pahit. Untung masih sadar, deretan hasutan setan untuk menikam diri sendiri dapat ditepis oleh kecintaannya kepada keluarga terkasih.

Jika ia bunuh diri, maka akan bertambah makam di Silvaduta, di antara gundukan tanah yang dipenuhi warga Ulumanda yang terbaring di bawahnya. Ada yang mati tua, kecelakaan sampai mati muda oleh penyakit ganas. Bila terserang penyakit ganas itu, maka satu kesyukuran masih dapat kembali ke kampung walau akhirnya meregang nyawa.

Seperti Mahasiswa Universitas Sulawesi Barat itu. Namanya Tatung. Saat lainnya menikmati liburan dengan pulang kampung, ia justru bergabung dengan tukang senso yang berangkat dari Sulawesi Barat ke Kalimantan Timur. Mau tak mau ia harus menjadi tukang pikul kayu karena ongkos pendidikan yang mahal.

Setelah beberapa pekan berkerja, ia terserang penyakit ganas itu. Untung masih sempat pulang. Tiga hari setelah kedatangannya, ia pun mengembuskan napas terakhirnya.

Berbeda dengan Jumadil, ia tak bisa pulang kampung, sebab penyakit ganas itu dengan sigap merenggut nyawanya hingga akhirnya menambah gundukan tanah di makam Silvaduta. Kisah pelik, namun bukan rekaan kawan, itu nyata adanya hingga membuat Rusli mengenyahkan bisikan bunuh diri itu.

“Ah tidak, aku tidak mungkin bunuh diri, harapan keluarga terkasih berada di pundakku!” tepisnya pada bisikan itu.

Azan subuh meraung-raung, sesekali menatap gawainya, namun pesannya tak pernah dibaca apalagi dibalas oleh Misbah. Pesan itu bertuliskan:

Misbah, kekasihku sayang, bila engkau berniat membunuhku, jangan kau menyiksaku saban hari. Bunuhlah aku dengan tusukan belati, bahkan kuizinkan kau mencabik-cabik dagingku sampai mati. Sudah pupuskah harapan yang telah kita lekatkan dalam sanubari? Bila janji sehidup semati benar adanya, maka kutunggu kau di pelabuhan nanti.

Di ufuk barat, setelah langit menelan gelap, lalu dengan pelan memuntahkan cahaya keemasan di atas mega. Pelan tapi pasti, matahari kembali merebut kuasa rembulan yang tengah lemah oleh cengkeraman awan hitam. Semburat cahaya remang, diganti sang terang yang menusuk-nusuk ubun-ubun Rusli yang masih terduduk di kursi lesu itu. Karena sempoyongan menanti kabar, ia pun melangkah kedalam ruang kotak-kotak sesak itu dengan bulir mutiara yang jatuh satu persatu di atas lantai kayu.

Tak mungkin pagi ini ia masuk kerja, walau tumpukan piring telah menantinya di warung milik orang Bugis itu. Ia amat letih, bukan hanya raga, tetapi jiwa yang teramat sesak. Mungkin istirahat selama beberapa pekan hingga satu per satu ranjau kenangannya bersama Misbah berhenti berdentum dalam ingatannya.

Dengan terseok-seok, Rusli mengitari panjangnya malam-malam lesu, purnama yang pilu hingga tahun yang  kelabu. Akhirnya ia memutuskan bertandang ke jasirah Mandar, tempat terurainya tulang belulang lehurnya. Ia benar-benar merindu pangkuan ibunya, apalagi kerling mata Misbah, binarnya melenyapkan keindahan senja.

Di perjalanan dari Kutai Timur menuju Pelabuhan Semanyang Balikpapan, di kanan jalan matanya tak henti-henti menyorot alat berat yang menderu-deru menggilas pohon satu per satu, sedang di kiri jalan telah menjadi hamparan debu tanpa pohon apalagi orang utan. Gunung-gunung telah rata, bahkan sebagiannya berbentuk lobang besar seperti dijatuhi meteor beberapa pekan.

Pernah dikabarkan anak-anak mati tenggelam dalam kubangan tambang itu, bukan hanya satu tapi puluhan. Pihak pengembang dibantu dengan Pemerintah bercuci tangan dengan dalih “takdir Ilahi”.

Rusli pun melesit jauh dari lambaian tangan roh anak-anak yang mati karena takdir ilahi itu, hingga nyaris menggapai mobil yang lenyap di tikungan Bukit Soeharto.

Beberapa jam kemudian, ia tiba di Pelabuhan Semanyang saat para calok saling bersahutan, menawarkan karcis yang entah dipungut di mana. Terlihatlah para penumpang hilir mudik berdesak-desakan turun dari kapal feri, dengan kardus-kardus lesu ditenteng tangannya.

Setelah membeli tiket ia pun merengsek maju. Di pintu kapal, desah angin laut menyerebak bau kumal derita yang diangkut dari tanah Sulawesi, menjulur ke dalam dua lubang hidungnya. Sambil mengatur napas, ia naik ke tangga, lalu terlelap saat kapal berdesah, mendesing menjauh dari pelabuhan.

Esoknya ia tiba di pelabuhan Simboro Mamuju, dengan lengan yang cukup payah menenteng kresek merah berisikan oleh-oleh untuk keluarga tercinta. Pelan tapi pasti ia telah berada dalam mobil ketika cahaya matahari berdesah perih.

Setelah berjam-jam bergoyang di atas mobil dengan kecepatan 50 KM per jam, ia pun tiba di rumah reyoknya. Badannya lesuh, sedikit sempoyongan menghindar dari ranjau kenangan yang telah meledak satu per satu.

Di depan pintu, dengan wajah sumringah, ibunya mendekap girang senang nan bahagia. Namun seketika lumat tatkala kerling mata dan senyum manis, pelenyap keindahan senja itu, sekonyongnya-sekonyongnya muncul di ujung jalan. Itu Misbah, dengan bayi mungil yang dipepet rapat dalam buah dadanya. Si mungil itu merengek, membuat telinganya pekak ketika melangkah ke dalam rumah.

Rusli berdeham, mencoba menghalau badai dengan meyakinkan diri, “Dia bukan milikku lagi.”

Syam