Sarjana Kita

Sarjana Kita
AmericanInno

Mak, Pak, aku telah sarjana. Aku telah jadi orang berpendidikan. Aku akan mengabdikan diri untuk masyarakat kaum tertindas. Doakan.

Para sarjana, merekalah generasi intelektual dan pemikir bangsa yang akan membangun bangsa ini. Harapannya memang begitu, tapi kalau melihat realitas para sarjana kita, sungguh jauh dari harapan itu. Lebih banyak memprihatinkan.

Ya, mungkin begitulah nasib para sarjana kita sekarang ini. Itu baru kemungkinan, artinya masih bisa kita perdebatkan. Bukankah memang para sarjana kita sekarang ini lebih suka berdebat daripada berbuat?

Lagi-lagi saya berspekulasi sebenarnya. Ini mungkin akan menjadi pendapat yang tendensius. Akan banyak yang tidak setuju dengan pendapat saya ini. Atau mungkin malah mereka “pura-pura” tidak setuju padahal faktanya demikian.

Saya sesungguhnya tidak bersikap pesimistis melihat keadaan ini. Bukan pula sok paling tahulah mesti seperti apa idealnya para sarjana bersikap. Toh, saya pun belum sarjana dan merasakan sarjana itu seperti apa! Ini hanyalah realitas pandangan saya saja melihat nasib kawan-kawan yang sudah sarjana.

Mereka itu para intelektual dan aktivis yang begitu lantang pada masa mahasiswanya dan tentunya sangat bersikap kritis terhadap berbagai permasalahan. Tapi, setelah sarjana, kok malah acuh tak acuh? Kebanyakan kebingungan menghadapi realitas kehidupan di masyarakat.

Peristiwa ini hampir selalu terjadi dari tahun ke tahun. Bagaimana tidak, setiap sarjana kita dituntut untuk bekerja sesegera mungkin kalau tak mau ‘terhina’ di hadapan masyarakat umum.

Saya sepakat kalau bekerja itu penting. Tapi, yang jadi permasalahan, ‘bekerja’ di sini adalah mesti berstatus pegawai negeri ataupun swasta atau setidaknya berseragam kantoran. Kalau tak begitu, kau belum dianggap bekerja dan masih berstatus ‘pengangguran’ dan sia-sialah kesarjanaanmu. Ini menurut pendapat masyarakat umum.

Aku bukan ingin merendahkan pekerjaan menjadi pegawai negeri ataupun swasta dan berseragam kantoran. Itu pekerjaan yang mulia juga. Yang jadi permasalahan adalah semua orientasi kesuksesan para sarjana diukur dari status pegawai dan seragam mereka.

Mesti diakui bahwa itulah yang terjadi di realitas pandangan masyarakat umum. Itu pula yang akhirnya menjebak para sarjana kita dalam kebingungan. Bukannya mereka tak ingin menjadi pegawai atau berseragam kantoran, tapi menjadi pegawai negeri ataupun swasta dan kerja kantoran pun susah untuk didapat. Yang tersedia hanya sedikit setiap tahun, sedangkan perbandingan yang ingin 1:1000; yang diterima hanya 100, sedangkan yang berharap 1000, lalu sisanya menunggu lagi tahun berikutnya, dan begitu terus setiap tahun.

Bukannya tak ada pekerjaan lain. Tapi untuk di ‘akui’ kesarjanaannya oleh masyarakat umum, harus jadi pegawai negeri ataupun swasta dan berseragam kantoran. Jadi wajarlah jika para sarjana kita tambah kebingungan dan banyak yang depresi.

. . . Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
‘Tuk jaminan masa depan

Langkah kakimu terhenti
Di depan halaman sebuah jawaban
Termenung lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang diharapkan
Terngiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang di dambakan . . .

(Iwan Fals, Sarjana Muda)

Maka paslah lirik lagu bang Iwan Fals ini untuk menggambarkan nasib para sarjana kita hari ini. Sarjana kita adalah hasil didikan bangku-bangku perkuliahan. Diktat-diktat yang bertumpuk setiap akhir semester menjadi hasil buah pikiran yang diberi nilai untuk mengukur kecerdasan para mahasiswa dalam menangkap perkuliahan.

Dan jangan lupa skripsi selama berbulan-bulan yang digarap untuk mencapai gelar kesarjanaan itu adalah hasil akhirnya. Maka jadilah kita sarjana dan telah sukseslah pendidikan di perguruan tinggi ditandai dengan jubah dan toga yang dikenakan oleh para sarjana. Lalu, setelah semua proses selama bertahun-tahun itu, mereka akan siap untuk masuk dunia kerja, dunia yang ‘katanya’ dunia nyata.

Apakah memang itu akhir dari pendidikan kita? Menjadi pekerja. Berlomba-lomba sesama kita untuk memperoleh kekayaan dan kemakmuran dari sana, lalu berbahagia setelahnya, tapi tak sadar di sekitar kita masih ada yang hidupnya pas-pasan bahkan tertindas; dan kita hanya bergumam bahwa begitulah nasib berbicara, ya dan kau tak berbuat apa-apa, padahal kau punya tanggung jawab untuk itu.

Lantas di mana ajaran pengabdian ke masyarakat yang disuguhkan kepada kita oleh dunia pendidikan itu? Ke mana pendidikan moral yang diajarkan kepada kita untuk ikut ambil bagian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai amanat undang-undang? Bukankah kita yang berpendidikan ini mempunyai tanggung jawab moral untuk membantu saudara kita juga yang tak mendapat kesempatan berpendidikan seperti kita?

Mungkin, banyak dari kita yang tak mau ambil peduli akan itu. Karena, menurut mereka, negaralah yang bertanggung jawab akan itu. Ya, memang negara bertanggung jawab kepada setiap warganya, tapi kita bertanggung jawab kepada sesama kita, sesama manusia.

Karena dasar kemanusiaanlah kita bertanggung jawab atas itu semua. Kita sebagai kaum terpelajar adalah harapan bangsa ini, bukan pemerintah. Ambillah tanggung-jawab itu dan mulailah berbuat untuk sekitarmu. Kita kaum terpelajar dan intelektual bertanggung jawab penuh untuk ini.

Gelar kesarjanaan yang kau peroleh itu bukan hanya untuk dirimu tapi untuk sekitarmu, generasimu, dan membantu sesamamu untuk memecahkan setiap permasalahan dan berada di sisi mereka. Itulah tanggung jawabmu. Ambil dan teruslah menebarkan cinta yang berbalas cinta. Karena tujuan dari pendidikan adalah memanusiakan manusia dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Ingatlah wajah-wajah orang yang mengalami kemiskinan dan orang-orang yang tak berdaya yang telah kamu lihat, dan tanya pada dirimu sendiri langkah apa yang akan kamu ambil untuk mereka. ~ Mahatma Gandhi

Latest posts by Muh Ihsan Tahir (see all)