Sastra Satire; Upaya Membangkitkan yang Telah “Jasad”

Sastra Satire; Upaya Membangkitkan yang Telah “Jasad”
©Sampul Buku Hans Hayon

Sastra satire ini tidak hanya membuat pembaca terhenyak kagum, tetapi juga melibatkan partisipasi berpikir dan keberpihakan.

Dunia sastra kerap digandrungi oleh khalayak luas karena memberi kesan estetis tersendiri. Ketika orang membaca pusi, cerpen, atau karya sastra lain misalnya, orang mengalami semacam “kepuasan” karena olah bahasa, pertautan bunyi, amanah yang menyentuh, atau juga ilustrasi imajiner pengarang yang mampu menggetarkan jiwa. Tanpa sadar, karya-karya sastra telah memberi suatu nilai rasa tertentu kepada manusia.

Di samping itu, sastra juga ialah dunia imajiner yang mengangkat realitas manusia dan disajikan dalam “kemasan” yang berbeda. Setiap amanah ditangkap secara berbeda-beda oleh masing-masing pembaca. Karena sesungguhnya, menyitir Roland Barthes, “penulis mati di hadapan pembaca”.

Ketika pembaca berhadapan dengan tulisan, sang penulis sendiri tidak berhak mengekang ruang interpretasi pembaca. Akan tetapi, sebuah karya sastra dianggap mampu membuat khalayak “berkaca” atas realitas andai kata ia mampu menitipkan Moral Value sebagai sebuah bentuk kontrol sosial.

Oleh karena itu, sastra dapat dimengerti sebagai karya imajiner yang berangkat dari realitas manusia yang termuat unsur-unsur: orisinalitas, estetika, dan keartistikan (Panuti Sudjiman, 1990).

Buku “Tuhan Mati di Biara” adalah sebuah karya sastra yang berisi 21 Cerita Pendek (Cerpen) karya Hans Hayon. Karya-karya yang terhimpun di dalamnya terbagi menjadi 2 bagian penting, yaitu terdapat 13 cerpen berlatar sosial dan religius dan 8 cerpen berlatar budaya (Lamaholot).

Cerpen berjudul Hostia menjadi pembuka pada bagian pertama, lalu diakhiri dengan cerpen Gunung Selepas Fajar. Sedangkan kisah Nura Nara menjadi pembuka pada bagian kedua dan ditutup dengan Ekaristi sekaligus sebagai kisah terakhir dari antologi ini.

Judul buku ini diambil dari salah satu judul cerpen dalam antologi ini. Akan tetapi, beragamnya latar belakang dalam penulisan cerpen ini sama sekali tidak mengaburkan gaya khas sang penulis. Cerpen-cerpen yang termuat di dalamnya ditulis dengan gaya satire yang lugas menggambarkan realitas dengan sindiran, analisis-kritis yang bernas, dan dengan balutan kata yang sederhana.

Dewasa ini, karya-karya semacam ini jarang dijumpai mengingat para pengarang lebih cenderung mengangkat tema-tema romantisme dengan bahasa-bahasa hiperbolis yang bahkan ‘memabukkan’ pembaca tanpa menitipkan untaian amanah yang lebih berarti.

Karya sastra dewasa ini umumnya mengangkat hal-hal umum dengan narasi-narasi bersifat klise sehingga kadang membuat pembaca kelelahan mencernanya atau menanggalkannya dengan penuh kejenuhan. Fenomena ini sekaligus menjadi sebuah pertanda bahwa peran karya seni sastra mulai kehilangan eksistensinya sebagai sebuah media kontrol sosial. Sebaliknya, buku “Tuhan Mati di Biara” hadir mengusung sesuatu yang agak berbeda.

Simbolisme yang kental tampak dalam judul ini. Pengarang dengan metafora yang lincah, memakai term “tuhan” sebagai representasi dari kebenaran, selanjutnya membentuk frasa “tuhan mati” dengan pengandaian bahwa kebenaran telah mati dalam satu lingkup yang dinamakan “biara”.

Penulis tidak sedang membangun tesis yang menunjang pergulatan dalam setiap cerpennya ini untuk mengkolapskan kehidupan membiara. Sebaliknya, penulis mau memetik sesuatu yang filosofis darinya sebagai usaha untuk membangkitkan “tuhan” yang telah jadi jasad itu. Hal ini diafirmasi oleh Dr. Paul Budi Kleden, SVD dalam prolognya: “Kebenaran telah mati di mana-mana, tak terkecuali di biara.”

Macam-macam pergumulan filosofis dapat terendus dari setiap karya dalam antologi ini. Narasi kritik dan satiris dalam karyanya memacu setiap pembaca untuk lebih jauh berefleksi tentang apa, mengapa, dan bagaimana ‘sesuatu’ itu terjadi.

Karya yang tergolong sastra satire ini pun tidak hanya membuat pembaca terhenyak kagum, tetapi juga melibatkan partisipasi berpikir dan keberpihakan. Dalam cerpen Jalan Mulus Menuju Surga misalnya, Hans merancang kisah dengan ending yang menggemaskan.

“Ibu, ternyata surga itu terletak di tangan seorang imam dan bukannya di telapak kaki ibu ya?” Nada satiris ini memancing refleksi pembaca untuk sekadar merenung tentang realitas.

Dalam nada yang sama, Hans juga ingin mengkritik otoritas para pemimpin agama (pastor, khususnya) yang cenderung sulit diajak kompromi dan lebih mengandalkan jabatan imamat untuk mencari kuasa dan uang. Imamat dipelintir dan merelativisir segala kemanusiaan kendati jabatan ini dipandang ‘sakral’ oleh umat luas. Dengan pertanyaan-pertanyaan demikian, pembaca diberi ruang untuk mengintervensi makna pada setiap kisah yang disajikan.

Di samping keunggulan ini, kisah-kisah yang diangkat dalam karya ini selalu memiliki puncak lakuan yang dramatis dan sengit. Pembaca dipancing pada rasa penasaran yang sangat untuk kembali memeriksa koherensi penggalan setiap kisahnya yang niscaya selalu ada keterikatan yang mengagumkan. Pembaca akan lebih mudah bertamasya ke lautan makna yang dalam nan bernas.

Sindiran maupun kritikan yang dilancarkan melalui cerpen-cerpen dalam buku ini sayangnya tidak ditunjang dengan susunan kata dan kalimat dalam halaman-halamannya. Format halamannya tampak mengganggu konsentrasi pembaca. Hal ini dikarenakan proses editing yang kurang akurat; terutama pada the left and right margins.

Selain itu, penempatan gambar-gambar ilustratif tidak terstruktur dengan baik, sehingga menimbulkan adanya pemenggalan kata dan kalimat dalam satu baris kalimat. Pemenggalan ini yang membuat pembaca harus mencari-cari sambungan kata atau kalimat.

Buku “Tuhan Mati di Biara” adalah karya sastra mutakhir yang menyodorkan kisah-kisah reflektif dan kritis. Dengan balutan sastra satire, cerpen-cerpen yang terhimpun di dalamnya terasa ‘hidup’ dan punya ‘karisma’ konstruktif dalam praksis kehidupan.

Membaca karya-karya Hans Hayon, kita diyakinkan bahwa kebenaran adalah “harga mati’ dalam situasi dan kondisi apa pun kendati ia tidak mutlak. Hanya dalam kebenaran kita mampu melihat Tuhan, sebab Tuhan sendiri pada hakikatnya adalah kebenaran mutlak yang selalu dicari pemahaman atasnya.

Buku ini layak dan berkenan bagi semua kalangan; mahasiswa, politikus, siswa, budayawan, rakyat biasa, dan lain-lain. Membaca buku ini niscaya kita dicerahkan untuk berpikir yang benar, bertindak yang benar, dan mengkritisi yang tidak benar.

Hans, melalui karya sastra satire-nya ini, berupaya membangkitkan “tuhan”—kebenaran yang telah menjadi jasad di mana-mana, bahkan tak terkecuali di tempat-tempat yang sakral sekalipun serupa biara. Melaluinya kita pun menjadi lebih sastrawi, yakni memakai seni sastra untuk mengentaskan segala kepincangan dalam hidup kita setiap hari. Semuanya semata-mata demi kehidupan yang lebih beradab.

Baca juga:
Paul Ama Tukan